AWAL PERJUMPAAN AT-TUSTARIY DENGAN SAMUDERA TASAWUF (1)

oleh -198 views

Dalam setiap masa dan era, Allah ﷻ memiliki hamba-hamba yang tangguh dalam beribadah. Menggadaikan segenap hidupnya untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Meraka menjadi makna dan terjemah nyata dari firman Allah ﷻ:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zumarat: 26).

Mereka menjadikan malam sebagai tempat yang indah melepas kerinduan berdua dengan Allah ﷻ. Sembari meratap tangis, menebus segala kilaf dan kesalahan dengan lantunan dzikir, istighfar dan pengakuan taubat.

Mereka menyatu dalam lezatnya sholat, larut dalam sahdunya panjatan doa. Maka tidak ada kebahagian dunia yang paling mengasyikan bagi mereka kecuali saat sedang sendirian—melepaskan fikiran dari beban duniawi, bersenandung puja, merayu kasih, menyibak tirai Ma’rifat bil-Allah ﷻ.

Mereka rela dengan setiap ketentuan Allah ﷻ. Allah ﷻ pun rela pada mereka. Tak ayal mereka dapat merasakan manisnya rahmat yang diguyur Mala’u al-A’la (para malaikat) dari pembendaharaan rahmat Allah ﷻ yang tidak pernah habis. Lalu tenggelam dalam samudera kebahagian.

Salah satunya, Dialah yang mulia, Syaikh Muhammad bin Siwar at-Tustariy. Saudara dari ibu Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustariy.

***

“Kala itu usiaku masih tiga tahun, nyaris setiap hari aku menyaksikan pamanku (Syaikh Muhammad bin Siwar at-Tustariy) melakukan sholat malam. Tutur Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustariy memulai kisahnya, sebagimana yang diceritakan Syaikh al-Qusyairi (w. 465 h) dalam ar-Risalah al-Qusyairiyah.

Kemudian Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustariy melanjutkan kisahnya:

“Pada suatu malam, Pamanku merasa iba melihat keadaanku yang masih kecil menggigil kedinginan tersapu angin malam atau tidak tega membiarkanku ikut bergadang semalaman suntuk menemaninya beribadah. Dia kemudian memanggilku: “Yai Sahal! Pergilah tidur ke kamarmu. Hatiku tidak tentang bila melihatmu tetap disini.”

Terus terang, seperti ada rasa bahagia tak terkira, mengeleyut dalam jiwaku setiap kali aku menemani pamanku. Entah dari mana rasa itu datang? Semakin aku dilarang menemani pamanku, maka semakin besar rasa bahagia itu menyeret tubuhku untuk tidak sekejap pun meninggalkannya yang asyik dalam khalwatnya, damai dalam tahajjud dan munajahtnya. Meski pun begitu aku tidak pernah membantah kala pamanku menyuruhku tidur karena aku begitu menghormati dan menyayanginya.

Dan etah sejak kapan? Kemudian ada cinta dan kerinduan yang lain, bukan karena hubungan kerabat atau tunggal darah—keponakan dan pamannya. Semakin hari cinta dan kerinduan itu semakin dalam mengakar dalam palung jiwa kami berdua. Cinta dan kerinduan yang membuang segala perbedaan kasta dan usia.

Puncaknya ketika pamanku berkata padaku: “Yai Sahl! Tidakkah engkau berdzikir pada Allah, Dzat yang telah menciptakanmu dengan seindah-seindahnya bentuk penciptaanmu?”

Aku tersentak mendengar kata-kata pamanku, lembut seperti belaian air namun begitu dahyat berdebur bak ombak menghantam tebing karang hatiku. Ada sejuknya kebahagian yang menusuk, mengiris-ngiri nadi jiwaku. Apalagi saat dia memandangku dengan padangan penuh harap—kelak keponakannya ini yang akan meneruskan pelayaran Thariqahku, mengarungi luasnya samudera Tasawuf hingga berlabuh di dermaga Ma’rifat bil-Allah ﷻ.

“Bagaimana caranya aku berdzikir pada-Nya”. Ucapku polos, tidak tahu apa arti dzikir sesunguhnya.

Pamanku menjawab: “Setiap kali engkau hendak memakai bajumu, ucapkan dalam hatimu yang paling dalam tanpa menggerakan lisanmu. Kalimat:

اَللّٰهُ مَعِيْ، اَللّٰهُ نَاظِرً إِلَيَّ، اَللّٰهُ شَاهِدِيْ

“Allah ﷻ bersamaku, Allah ﷻ melihatku, Allah ﷻ menyaksikanku”. Sebanyak tiga kali.

Aku pun membacanya selama tiga malam. Kemudian ia, mengajariku tetang arti kalimat itu. Setalah itu ia memerintahkanku:

“Bacalah kalimat itu setiap malam sebanyak tujuh kali”.

Aku pun membacanya seperti yang perintahkan pamanku. Kemudian ia, mengajariku tetang arti kalimat itu. Kemudian ia memerintahkanku:

“Bacalah kalimat itu setiap malam sebanyak sebelas kali”.

Aku pun membacanya sebanyak sebelas kali setiap malam seperti yang ia perintahkan.

Lantas setelah itu hati merasakan manisnya beribadah yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

***

Syaikh Zakariya al-Anshariy (w. 927 h) dalam Hasyiyah al-Alamah Musthofa al-Arusiy yang diberi nama Nataiju al-Afkar al-Qudsiyah menjelaskan arti kalimat tersebut:

(قوله: الله معي) أي بالحفظ الله، ناظر إلي أي عالم بي، وبحركاتي وبسكناتي (قوله: الله شاهدي) أي يراني ويرى أفعالي.

Artinya: “Allah ﷻ bersamaku: menjagaku. Allah ﷻ melihatku: mengetahui keadaanku, gerak dan diamku. Allah ﷻ menyaksikanku: Melihatku dan melihat semua kelakuanku. Bersambung..

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Syaikh Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi| Ar-Risalah al-Qusyairiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 39-40.

✍️ Syaikh Sahl bin Abdullah at-Tustariy| Syaikhu al-Arifin| Daru ats-Tsaqafiyah li an-Nasuri hal 17-18

✍️ Syaikh Zakariya al-Anshariy| Nataiju al-Afkar al-Qudsiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 169-173.

✍️ Syaikh Muhammad Ali bin Muhammad Alan al-Bakriy ash-Shiddiq asy-Syafi’iy| Al-Futuhat an-Nawawiyah ala al-Adzkar an-Nawawiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 5 hal 260.

banner 700x350