MANFAAT KALIMAT TAUHID BAGI PEMELUKNYA SEPERTI AIR DALAM KEHIDUPAN

oleh -2,322 views

Penulis masih dibuat penasaran, tetang isi kitab Tafsir at-Tustariy yang pernah penulis posting sebelumnya. Tafsir al-Qur’an dengan genre Tasawwuf karya Syaikh Abi Muhammad Sahl bin Abdullah at-Tustariy (w. 283 h).

Syaikh Sahl at-Tustariy mengutip dari Syaikh Muhammad bin Siwar (paman dari ibu sekaligus guru tasawufnya dari riwayat Shofyan ats-Tsauriy mengatakan: “Kedudukan kalimat Tauhid (لا إله إلاَّ الله) dalam diri seorang hamba seperti kedudukan air di dunia. Allah ﷻ berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30).

Barang siapa yang tidak bisa mengambil manfaat dari keyakinannya terhadap kalimat Tauhid (لا إله إلاَّ الله) dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, maka dia adalah mayat.

Di antara keunikan tulisan beliau dalam kitab tafsir yang beliau karang, menurut hemat penulis. Acap kali beliau menyertakan kisah nyata hasil pengalaman beliau dengan para wali Allah ﷻ di zamannya.

Contohnya saat beliau mengisahkan cerita yang berkaitan dengan pernyataan di atas:

“Aku pernah mengenal salah satu wali dari para wali Allah ﷻ yang menyembuhkan (mengembalikan) wajah seseorang yang membelakangi Kiblat. Wali itu berkata pada orang tersebut:

أين ذلك اللسان الذي كنت تقول به صادقاً : «لا إله إلاَّ الله»

“Kemana lisanmu yang mengucapkan kalimat (لا إله إلاَّ الله) dengan benar?”

Kemudian wali itu berdoa:

اللهم هب لي ذنبه

“Ya Allah berikah kepadaku dosanya”.

Maka dengan kuasa Allah ﷻ wajah orang itu bisa kembali lagi mengahadap Kiblat”.

Sebelum menulis kisah ini beliau mengupas salah satu Ayat yang berbunyi:

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ

Artinya: Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah…”. (QS. Ali ‘Imran: 64).

Ayat ini menjelaskan ajakan Nabi Muhammad ﷺ pada Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan Nasrani) untuk saling berpegang teguh pada satu kalimat yang sama hingga tidak ada lagi perselisihan antara umat Islam dan Ahli Kitab karena mereka juga sepakat dan mengakui bahwa yang menciptakan mereka, langit, bumi dan isinya adalah Allah ﷻ. Maka marilah meng-esakan Allah ﷻ, jangan menyembah kecuali pada-Nya.

Menurut Syaikh Sahl at-Tustariy:

أصل العبادة : التوحيد مع أكل الحلال وكف الأذى ، ولا يحصل الأكل الحلال إلاَّ بكف الأذى ، ولا كف الأذى إلاَّ بأكل الحلال ، وأن تعلموا أكل الحلال وترك أذى الخلق والنية في الأعمال كما تعلموا فاتحة الكتاب ، ليصفوا إيمانكم وقلوبكم وجوارحكم ، فإنما هي الأصول .

“Inti ibadah adalah tauhid (meng-esakan Allah ﷻ) serta makan makanan yang halal dan meniggalkan menyakiti makhuk. Makan makanan yang halal tidaklah bisa dilakukan kecuali dengan meniggalkan menyakiti makhluk. Sebaliknya meniggalkan menyakiti makhluk tidaklah berhasil dilakukan kecuali dengan makan makanan yang halal. Dan hendaknya kalian (Ahli Kitab) ketahulilah! Bahwa makan makanan yang halal dan meniggalkan menyakiti makhluk serta niat (yang tulus) dalam beramal adalah suatu yang kalian ketahui dalam pembuka al-Kitab (Taurat dan Injil). Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📖 Syaikh Abi Muhammad Sahl bin Abdullah at-Tustariy| Tafsir at-Tustariy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut Libanon 1971 hal 48-49.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.