SEPUTAR QUNUT SHOLAT WITIR DI SEPARUH AKHIR BULAN RAMADHAN

oleh -359 views

Dalam Hasyiyah al-Bajuriy ala Syarhi al-Allamah Ibnu al-Qasim al-Ghazziy, Syaikh Muhammad bin Ahmad Ibrahim al-Bajuriy asy-Syifi’i (w. 1276 H) mengatakan:

( قوله والقنوت في آخر الوتر ) أي في اعتدال الركعة الأخيرة منه وقوله : في النصف الثاني ، وفي نسخة في النصف الأخير ، فلو قنت في غير النصف الأخير من رمضان أو تركه في النصف الأخير منه كره ذلك وسجد للسهو.

Artinya: “Maksud dari perkataan penulis (kitab Fathu al-Qarib): (Qunut di akhir sholat witir) yaitu dikerjakan pada I’tidal rakaat yang akhir dari sholat witir. Sedangkan yang maksud: (Separuh kedua) dalam sebagian redaksi ditulis separuh akhir adalah jika ada orang membaca qunut di selain separuh akhir atau meninggalkan membaca qunut di separuh akhir dari bulan Ramadhan hukumnya makruh dan sunnah sujud sahwi.”

Lalu muncul sebuah pertanyaan dari masyarakat: “Kenapa do’a qunut saat sholat witir pada bulan Ramadlan hanya dilakukan di separuh akhir sampai akhir bulan?”

Al-Imam asy-Syafi’i ra (w. 204 H) menjawab:

ولا يقنت إلا في شهر رمضان في النصف الأخير منه ، وكذلك كان يفعل ابن عمر ، ومعاذ القاري.

Artinya: “Jangan melakukan qunut (sholat witir) kecuali di separuh akhir bulan Ramadhan, begitulah yang dilakukan Ibnu Umar ra nama lengkapnya Abdullah bin Umar bin Khattab (w. 73 H) dan Mu’adz al-Qariy ra nama lengkapnya Mu’adz bin Harits al-Anshariy (w. 63 H)”.

Syaikh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardiy al-Bashriy asy-Syafi’iy (w. 450 H) atau yang dikenal dengan sebutan Imam al-Mawardiy mengatakan:

وهو صحيح. وأما القنوت في صلاة الصبح، فقد ذكرنا أنه سنة في جميع الدهر، ودللنا عليه. فأما القنوت في الوتر فغير سنة في شيء من السنة إلا في النصف الأخير من شهر رمضان. وقال أبو حنيفة: القنوت سنة في الوتر في جميع السنة تعلقا برواية أبي بن كعب أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقنت في الوتر. ودليلنا رواية يونس بن عبيد، عن الحسن البصري، أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه جمع الناس على أبي، وقال : صل بهم عشرين ركعة ، ولا تقنت بهم إلا في النصف الأخير ، فصلى بهم في العشر الأول والعشر الثاني: وتخلف في منزله في العشر الثالث، فقالوا: ابق أبي، وقدموا معاذا، فصلى بهم بقية الشهر وقنت في العشر الأواخر فدل ذلك من فعلهم على أن القنوت سنة في النصف الأخير من شهر رمضان لا غير.

فأما روايتهم عن أبي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت في الوتر، فليس بثابت لأن أبيا لم يكن يقنت إلا في النصف الأخير من رمضان.

Artinya: “Pendapat Imam asy-Syafi’i di atas adalah shahih (pendapat yang benar). Adapun dalam masalah qunut sholat Subuh, kami (asy-Syafi’yah) telah menjelaskan bahwa qunut tersebut sunah dilakukan di sepanjang tahun dan kami telah menjelaskan dalilnya (secara panjang lebar sebelum ini). Sedangkan dalam masalah qunut sholat witir tidak disunahkan dikerjakan disepanjang tahun kecuali separuh akhir bulan Ramadhan. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah, yang mengatakan bahwa qunut sholat witir sunah dilakukan disepanjang tahun berdasarkan riwayat Ubay bin Ka’ab yang mengatakan bahwa Nabi melaksanakan qunut dalam sholat witir. Sedangkan kami (asy-Syafi’yah) berpedoman pada riwayat Yunus bin Ubaid dari al-Hasan al-Bashri yang mengatakan: “Sesungguhnya
Sayyidina umar bin khattab ra pernah memerintahkan pada sahabat Ubay bin Ka’ab untuk mengumpulkan para sahabat lainya dan Sayyidina umar bin khattab ra berkata:

صل بهم عشرين ركعة، ولا تقنت بهم إلا في النصف الأخير

“Sholatlah tarawih engkau bersama mereka dengan 20 rokaat dan jangalah membaca qunut kecuali di separuh akhir (bulan Ramadhan)”. Maka sholatlah Ubay bin Ka’ab (tanpa membaca qunut) di hari pertama dan kedua namun di hari ketiga Ubay bin Ka’ab ra markir (tidak hadir) berada di rumahnya. Para sahabat pun berkata: “Ubay telah melarikan diri”. Maka para sahabat sepakat mengangkat Mu’adz al-Qariy sebagai gantinya. Lalu sholatlah Mu’adz al-Qariy bersama mereka hingga selesai bulan Ramadhan dan membaca qunut di sepuluh akhir.”

Nah, berdasarkan apa yang telah dikerjakan para sahabat dalam riwayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa qunut dalam sholat witir sunah dilakukan di separuh akhir bulan Ramadhan bukan pada waktu lainnya.

Adapun riwayat yang dibuat dalil kalangan Hanifiyah dari Ubay bin Ka’ab ra, bahwa Rasulullah pernah melakukan dalam sholat witir tidak bisa dipertanggung jawabkan kerana sebenar Ubay bin Ka’ab ra sediri tidak melakukan qunut kecuali di separuh akhir bulan Ramadhan.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📚 Syaikh Muhammad bin Ahmad Ibrahim al-Bajuriy asy-Syifi’i| Hasyiyah al-Bajuriy ala Syarhi al-Allamah Ibnu al-Qasim al-Ghazziy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, Cet. 1973 Bairut-Libanun juz 1 hal 316.

📚 Syaikh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardiy al-Bashriy asy-Syafi’iy| al-Hawiy al-Kabir ala Syarhi Mukhtashar al-Muzanniy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 2 hal 291-292.

banner 700x350