ASAL KATA: “FULAN DAN FULANAH”

oleh -150 views

Banyak ditemukan dalam berbagai literatur ulama kata “Ya Fulan”, atau ‘Ya Fulanah”, “Fulan bin Fulan” atau “Fulanah binti Fulanah” dan lain sebagainya. Kata-kata ini biasa digunakan untuk menyebutkan seseorang yang tidak diketahui identitasnya atau kurang elok menyebut namanya.

Kata “Fulan” atau “Fulanah” dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diserap menjadi polan, memiliki arti yang kurang lebih sama dengan kata anu. Dalam bahasa Inggris dengan sebutan so-and-so untuk makna ini atau tergolong daftar kata placeholder name (kata yang dapat merujuk pada benda, orang, tempat, waktu, angka, dan konsep lain yang namanya dilupakan sementara, tidak relevan, atau tidak diketahui dalam konteks pembahasannya)

Sedangkan dalam bahasa Arab sebagaimana yang disebutkan dalam al-Mu’jam al-Wasith, kata “Fulan” digunakan sebagai kata Kinayah (metaforik) dari ‘alam (nama) untuk menyebutkan orang laki-laki yang berakal, sedangkan kata “Fulanah” digunakan untuk ‘alam (nama) untuk menyebut orang perempuan yang berakal. Kedua lafadz tersebut tergolong lafadz Ghairi al-Musharif (tidak menerima tantwin) dan kadang dalam penyebutannya kata “Fulan” atau “Fulanah” banyak ditulis dengan bentuk kata: فُلُ (Fulu) untuk menyebut orang laki-laki dan: فلاة atau وفُلَة untuk menyebut orang perempuan dalam konteks Nida’ (memanggil). Juga kadang didepan “Fulan” atau “Fulanah” ditambahkan أل (Al) menjadi kata: الفلان dan الفلانة yang digunakan sebagai kata Kinayah (metafora) dari nama selain anak Adam (manusia) seperti contoh: ركبت الفلان (saya menunggang hewan anu) dan حلبت الفلانة (saya memerah susu hewan anu) yang digunakan sebagai Kinayah (metafora) dari kata Kuda, Unta dll.

Dalam al-Qur’an kata “Fulan” hanya disebutkan satu kali yaitu dalam Surat Al-Furqan: 28, yang berbunyi:

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا

Artinya: “Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).”

Syaikh ‘ishomuddin Ismail bin Muhammad al-Hanafiy (w. 1195 H) dalam Hasyiyah al-Qunawiy ala Tafsiri al-Imam al-Baidhawiy yang ditulis oleh Syaikh Nashiruddin Abdullah bin Umar bin Muhammad as-Sairaziy (w. 685 H) menjelaskan Kinayah (metafora) mengunakan kata “Fulan” dalam Ayat tersebut, beliau berkata: Kinayah (metafora) dalam Ayat ini adalah Kinayah (metafora) secara linguistik (bahasa) dan istilah ahli Nahwu bukan Istilah ilmu Ilmu Bayan (salah satu fan ilmu Balaghah), yaitu Kinayah (metafora) dari setiap ‘Alam (nama) dengan cara mengganti kata tanpa tertentu pada satu ‘Alam (nama). Para ahli Nahwu berkata: Orang Arab biasa membuat Kinayah (metafora) dengan kata “Fulan” untuk ‘Alam (nama) orang laki-laki yang berakal seperti Zaid dan dengan kata “Fulanah” untuk bagi ‘Alam (nama) orang perempuan yang berakal seperti Fatimah. Ibnu Hajib menyaratkan dalam menggunakan Kinayah (metafora) dengan kata “Fulan” dalam konteks menceritakan sebuah perkataan sebagaimana dalam Ayat ini dan yang dimaksud kata “Fulan” dalam Ayat tersebut adalah Setan atau orang yang menyesatkan dari kalangan manusia dan jin di dunia atau Ubaiy bin Khalaf sebagaimana yang jelaskan Syaikh Syihabuddin Mahmud al-Lusiy (w. 1270 H) dalam Tafsir Ruhu al-Ma’ani-nya.

Sedangkan dalam kitab al-Ishabah fi Tamyizi ash-Shahabah karya Syaikh Ibnu Hajar al-Asqolaniy (w. 852 H) mengatakan: “Orang yang pertama kali menggunakan kata “Fulan ila Fulan” dalam sebuah tulisan adalah Qais bin Sa’ad bin Jadamah al-Ayadiy seorang orator ulung di zaman Jahiliyah yang meninggal dunia pada usia 380 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW terutus.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Jumhuriyati Mishri al-Arabiyah| Al-Mu’jam al-Wastih| Maktabah asy-Suruq hal 702.

✍️ Syaikh ‘ishomuddin Ismail bin Muhammad al-Hanafiy| Hasyiyah al-Qunawiy ala Tafsiri al-Imam al-Baidhawiy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 14 hal 80.

✍️ Syaikh Syihabuddin Mahmud al-Lusiy| Tafsir Ruhu al-Ma’niy| Al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsiyah hal juz 10 hal 13.

✍️ Syaikh Ibnu Hajar al-Asqolaniy| Al-Ishabah fi Tamyizi ash-Shahabah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah jilid 3 juz 5-6 hal 285.

banner 700x350