CATATAN ULAMA TENTANG TEKS DAN ISI YANG TERKANDUNG DALAM DOA NISFU SYA’BAN

oleh -1,892 views

Ada komentar yang menarik dari Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (w. 1425 H) dalam kitabnya “Madza fi Sya’ban” mengenai salah satu teks yang ada dalam kalimat doa malam Nisfu Sya’ban. Beliau berkata:

وقوله في هذا الدعاء “اللهم إن كنت كتبتني عندك… إلخ، هذا هو الصواب عند التحقيق والمراجعة. وفي كثير من الكتب المشهورة المتداولة زيادة لفظ (في أم الكتاب) وهو غلط، ولعله تحريف من النساخ. وذلك لأن ما في أم الكتاب لا يقبل المحو ولا الإثبات كما قال تعالى:
(يمحو الله ما يشاء ويثبت وعنده أم الكتاب) قد عرضت هذا الأمر على جملة من مشايخنا من أئمة الحديث والفقه فثبتني عليه.

“Secara Tahqiq (de facto) dan Muraja’ah (de jure) apa yang diucapakan dalam doa (Nisfu Sya’ban) yaitu;

اللهم إن كنت كتبتني عندك

Dan seterusnya adalah benar adanya, namun dalam banyak kitab yang masyhur dan populer terdapat tambahan kata: “في أم الكتاب” yang menurut saya salah dan mungkinkan ada penyimpangan penulisannya. Hal itu karena dalam Ummu al-Kitab (Lauh Mahfuzh) tidak menerima perubahan dan tidak pula penetapan (hukum baru) sebagaimana yang telah difirmankan Allah ﷻ:

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki. Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.” (QS. Ar-Ra’du: 39).

Saya telah mengajukan masalah ini pada sejumlah guru-guru kami, para pakar hadits dan fikih. Mereka berpendapat sama dengan apa yang saya tetapkan barusan.

Lalu bagaimana komentar ulama yang lain penyikapi masalah ini? Berikut simak beberapa komentar mereka;

Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakri al-Qurthubiy (w. 671 H) dalam kitabnya “Al-Jami’ al-Ahkam al-Qur’an” mengutip dari pendapat Ibnu Abbas ra mengatakan;

قال ابن عباس: يمحو الله ما يشاء ويثبت إلا أشياء; الخلق والخلق والأجل والرزق والسعادة والشقاوة; وعنه: هما كتابان سوى أم الكتاب، يمحو الله منهما ما يشاء ويثبت. وعنده أم الكتاب الذي لا يتغير منه شيء.

“Ibnu Abbas ra berkata; “Allah ﷻ menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki kecuali penciptaan, perangai, rezeki, kebahagiaan dan kesengsaraan dan terdapat pendapat lain dari beliau; “Terdapat dua kitab selain Ummu al-Kitab (Lauh Mahfuzh), Allah ﷻ dari dua kitab itu menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki dan sisi-Nya Ummu al-Kitab (Lauh Mahfuzh) yang tidak akan menerima perubahan sama sekali.”

Sementara Syaikh Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Malliy (w. 864 H) dalam kitabnya Tafsir al-Jalalain saat menafsir firman Allah ﷻ:

يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki. Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.” (QS. Ar-Ra’du: 39). Menjelaskan:

{يمحو الله} منه {ما يشاء ويثبت} بالتخفيف والتشديد فيه ما يشاء من الأحكام وغيرها {وعنده أم الكتاب} أصله الذي لا يتغير منه شيء وهو ما كتبه في الأزل.

“Allah menghapus dari kitab itu apa yang Ia kehendaki dan menetapkan apa yang Ia kehendaki ada dalam kitab itu berupa hukum-hukum dan lainya dan Di sisi-Nya Ummu al-Kitab (Lauh Mahfuzh), asal dari kitab itu yang tidak akan menerima perubahan sama sekali. Yaitu suatu yang telah di tulis Allah ﷻ di zaman Azali.

Syaikh Sulaiman bin Umar al-Ujailiy (w. 1204 H) atau yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Jamal dalam kitabnya “Al-Futuhat al-Ilahiyah bi Taudhihi Tafsir Jalalain li ad-Daqaiqi al-Khafiyah” menambahkan: “Yang maksud kitab dalam Ayat itu adalah kitab yang ada pada para malaikat atau catatan mereka yang mereka salin dari Lauh Mahfuzh berupa hukum-hukum. Artinya Allah ﷻ menghapus hukum dari Ayat al-Mansukh dan menetapkan Ayat an-Nasikh dan lainnya seperti rezeki dan ajal. Sementara apa yang ada dalam Ummu al-Kitab (Lauh Mahfuzh) menurut salah satu pendapat tidak akan terjadi perubahan, pergantian, penghapusan dan penetapan (hukum baru) yaitu suatu yang telah ditulis al-Qalam di zaman Azali (zaman sebelum terciptanya alam semesta) karena permulaan sesuatu yang diciptakan Allah ﷻ adalah al-Qalam kemudian Allah ﷻ memerintahkan pada al-Qalam untuk menulis segala sesuatu pada Lauh Mahfuzh.

Menurut Syaikh Jamal, yang dimaksud “Ummu al-Kitab” adalah asal kitab yaitu Ta’lluq al-Ilmu al-Qadim (hubungan ilmu Allah ﷻ yang tanpa permulaan dengan suatu yang sudah diketahui) dan Ta’lluq al-Iradah al-Tanjizi al-Qadim (hubungan keterkaitan aktual kehendak Allah ﷻ yang bersifat qadim) yang tidak menerima perubahan, pergantian atau asal dari semua kitab karena semua kitab Allah ﷻ tersusun dan bersumber dari kitab itu. Adapun yang maksud “Kitabah” (apa yang tertulis dalam kitab itu) adalah Qadha’ dan Ta’dir Allah ﷻ yang berhubungan dengan sifat ilmu dan kehendak Allah ﷻ yang Azali.

Sedangkan menurut pendapat yang lain, apa yang tertulis dalam Lauh Mahfuzh juga menerima perubahan, pergantian, penghapusan dan penetapan (hukum baru).

Syaikh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhariy mengatakan:

فالمحو الاثبات بالنسبة لما في علم الملك وما في أم الكتاب هو الذي في علم الله تعالى فلا محو فيه البتة ويقال له القضاء المبرم ويقال للأول القضاء المعلق.

“Penghapusan dan penetapan takdir itu adalah dalam perspektif apa yang diketahui para malaikat dan apa yang tercatat di Lauh Mahfudz (Ummul Kitab). Adapun dalam pengetahuan Allah ﷻ, maka tak ada penghapusan sama sekali. Pengetahuan Allah ﷻ ini disebut takdir mubram, dan pengetahuan malaikat itu disebut takdir mu’allaq.”

Dalam konteks ini, Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalaniy menjelaskan:

الذي سبق في علم الله لا يتغير ولا يتبدل، والذي يجوز عليه التغيير والتبديل ما يبدو للناس من عمل العامل، ولا يبعد أن يتعلق ذلك بما في علم الحفظة والموكلين بالآدمي، فيقع فيه المحو والإثبات، كالزيادة في العمر والنقص، وأما ما في علم الله فلا محو فيه ولا إثبات والعلم عند الله.

“Sesungguhnya yang telah diketahui Allah ﷻ itu sama sekali tak berubah dan berganti. Yang bisa berubah dan berganti adalah perbuatan seseorang yang tampak bagi manusia dan yang tampak bagi para malaikat penjaga (Hafadhah) dan yang ditugasi berinteraksi dengan manusia (al-Muwakkilin). Maka dalam hal inilah terjadi penetapan dan penghapusan takdir, semisal tentang bertambahnya umur atau berkurangnya. Adapun dalam ilmu Allah ﷻ, maka tak ada penghapusan atau penetapan dan pengetahuan yang hakiki hanya di sisi Allah ﷻ.”

Kesimpulannya sebagaimana yang disebut dalam beberapa kitab Tafsir al-Qur’an semacam; Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an atau yang kenal dengan sebutan Tafsir ath-Thabariy karya Imam Abu Ja’far At-Thabariy (w. 310 H), Tafsir al-Bahru al-Muhith karya Syaikh Ibnu Hayyan al-Gharnathiy al-Andalusiy (w. 745 H), Tafsir al-Qur’an al-Adzin atau dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir (w. 774 H) dan lainnya adalah bahwa dalam masalah ini ulama berbeda pendapat;

Pendapat pertama mengatakan; Bahwa sesuatu yang telah ditetapkan Allah ﷻ (takdir) secara mutlak tidak akan menerima perubahan. Pendapat kedua mengatakan; Bahwa ketetapan takdir yang ada tangan para malaikat masih bisa dirubah sedangan yang ada di Lauh Mahfuz tidak akan mengalami perubahan. Pendapat ketiga mengatakan; Bahwa terkadang Allah ﷻ merubah apa yang telah ditetapkan kecuali dalam urusan hidup dan mati, bahagian dan celaka. Pendapat keempat mengatakan; Bahwa Allah ﷻ berhak mengubah catatan takdir secara mutlak.”

Waallahu A’lamu

Penulis: 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒍 𝑨𝒅𝒛𝒊𝒎

Referensi:

✍️ Sayyid Muhammad bin Alawi al-Malikiy| Madza fi Sya’ban hal 105.

✍️ Syaikh Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Malliy| Tafsir al-Jalalain| Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 254.

✍️Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakri al-Qurthubiy| Al-Jami’ al-Ahkam al-Qur’an| Muassisah ar-Risalah hal 88.

✍️ Syaikh Sulaiman bin Umar al-Ujailiy| Al-Futuhat al-Ilahiyah bi Taudhihi Tafsir Jalalain li ad-Daqaiqi al-Khafiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz hal 127-128.

✍️ Syaikh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalaniy| Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhariy| Daru al-Fikr juz 12 hal 18, juz 13 hal 262.

✍️ Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabariy| Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 7 hal 398-405.

✍️ Syaikh Muhammad bin Yusuf Ibnu Hayyan al-Gharnathiy al-Andalusiy| Tafsir al-Bahru al-Muhith| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 5 hal 387-389.

✍️ Al-Fafidz Ibnu Katsir ad-Damsyiqi| Tafsir al-Qur’an al-Adzim| Daru al-Fikr juz 2 hal 574-575

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.