๐๐„๐‘๐Š๐€๐‡ ๐ƒ๐Ž๐€ ๐๐„๐‘๐„๐Œ๐๐”๐€๐ ๐‚๐€๐๐“๐ˆ๐Š ๐ƒ๐€๐ ๐–๐€๐‘๐€’, ๐€๐๐ˆ ๐“๐ˆ๐ƒ๐€๐Š ๐๐ˆ๐’๐€ ๐Œ๐„๐๐˜๐„๐๐“๐”๐‡ ๐“๐”๐๐”๐‡๐Š๐”

oleh -1.162 views

Sebuah kisah dari sebagian ulama, ia menceritakan: Di suatu desa ada seorang pemandai besi yang dikenal memiliki keistimiwaan luar biasa dibanding pemandai-pemandai besi lain. Menurut berita yang beredar, pemandai besi itu saat berkerja memasukkan besi dengan tangannya kedalam api dan mengluarkan besi yang kemerah-merahan dengan tangannya tanpa sedikit pun tangannya di sentuh api.

Karena penasaran, salah seorang laki-laki dari penduduk kampung kami bermaksud untuk membuktikan kebenaran berita yang telah beredar luas. Lalu berangkatlah laki-laki tersebut menuju kerumah pemandai besi.

Melalui perjalanan yang melelahkan dan bertanya kesana kemari, laki-laki itu akhirnya sampai di tempat pekerjaan pemandai besi. Ternyata benar, apa yang dilihatnya sama seperti cerita orang-orang selama iniโ€”Pemandai besi itu dengan tenangnya masukkan besi dan mengeluarkan dengan tangannya tanpa sedikit pun ada luka bakar.

Setelah dilihat pemandai besi itu selesai dari pekerjaannya laki-laki itu menghampiri pemandai besi sembari mengucapkan salam:

“Assalamu Alaikum”

“Waalaikum salam”. Balas pemandai besi ramah.

“Aku adalah tamu Anda malam ini” ucap laki-laki itu memulai pembicaraannya.

Si pemandi besi menjawab: “Aku sangat senang sekali dan suatu kehormatan bagiku bisa jamu Anda”.

Tidak selang beberapa lama, laki-laki itu diajak pergi bersama pemandai besi kerumahnya. Di sana ia dan pemandai besi makan malam bersama. Selesai makan malam, keduanya ngobrol sampai larut malam dan tidak ada yang tampak istimewa dari amaliyah yang biasa dilakukan pemandai besi saat di rumah kecuali ibadah fardhu tidak lebih, setelah itu pemandai besi tidur hingga subuh. Kala paginya laki-laki itu berguman: “Ah, barang kali ada suatu yang disembunyikan oleh pemandai besi yang tidak saya ketahui malam ini?”

Laki-laki itu pun memutuskan untuk menginap lagi di rumah pemandai besi barang satu malam namun tetap saja seperti malam sebelumnya, tidak dijumpai suatu amaliyah yang istimewa dari pemandai besi kecuali ibadah fardhu.

Laki-laki itu akhirnya tidak sabar bertanya pada pemandai besi: “Wahai saudaraku!sesungguhnya aku telah lama mendengar, tentang keistimewaan yang diberikan padamu dan aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri akan keistimewaan itu. Kemudian setelah aku memperhatikan selama dua malam setiap amaliyah yang kau kerjakan ternyata tidak ada sesuatu lebih kecuali ibadah fardhu yang senantiasa kau kerjakan, maka aku menyimpulkan dan bertanya: “Dari mana saudaraku mendapat karomah dan keistimewaan ini?”

Pemandai besi itu menjawab: “Wahai saudaraku! Sesungguhnya semua itu berawal dari sebuah kisah antara aku dan seorang wanita. Kala itu aku bertetangga dengan seorang wanita yang memiliki paras cantik jelita dan aku sangat tergila-gila padanya. Setiap hari bahkan setiap waktu aku selalu menggoda dirinya supaya mau memenuhi keinginanku, namun aku tidak pernah bisa menaklukannya. Rupanya dia seorang wanita yang shalehah dan wara’ yang senantiasa menjaga teguh kehormatannya. Maka tibalah musim kering dan kurang pangan atau kelaparan yang merata melanda dimana-mana.

Di suatu hari, ketika aku sedang duduk santai di rumah, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. Aku pun keluar melihatnya, ternyata dia wanita cantik nan jelita yang berdiri di depan pintu sembari berkata: “Wahai saudaraku, aku sedang tertimpa kelaparan yang sangat. Adakah makanan yang bisa kau diberikan kepadaku ikhlas karena Allah ๏ทป?”

Melihat ada kesempatan, aku berkata kepadanya: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa selama ini aku tergila-gila padamu? Bagaimanapun aku tidak akan memberimu makanan kecuali jika kamu menyerahkan dirimu padaku.”

Dengan tegas, wanita itu berkata: “Sesungguh aku takut menghadapi bahaya kematian dan aku tidak ingin berma’syiat kepada Allah ๏ทป.” Setelah itu ia pergi pulang kerumahnya.

Dua hari berikutnya, wanita datang lagi meminta makanan kepadaku dan berkata seperti yang dikatakan pada hari pertama. Aku pun menjawab seperti jawabanku yang pertama tanpa sedikit pun ada rasa berbelas kasihan padanya.

Perempuan itu hanya diam seribu kata, duduk dirumahku. Sungguh aku perhatikan tubuhnya begitu lemas dan nyaris binasa. Ketika aku menyodorkan makanan di hadapannya. Spontan air matanya berlinangan dan berucap: “Apakah makan ini tulus kerena Allah ๏ทป?”

“Aku memberikan makanan ini agar kamu bersedia menyerahkan dirimu kepadaku”. Jawabku tanpa sedikit pun merasa iba padanya.

Wanita itu menjawab: “Kematian lebih indah bagiku dari siksaan Allah ๏ทป.” Lalu ia bergegas keluar menuju rumahnya meninggalkan makanan yang aku suguhkan.

Setelah dua hari berlalu wanita itu tidak jera datang lagi mengetuk pintu rumahku, aku pun keluar menemuinya yang berdiri di depan pintu. Dengan suara terbata-bata dan tubuh yang sudah tak sanggup berdiri tegak, ia berkata: “Wahai saudaraku! Aku sangat letih dan sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan jauh mencari makanan selain pada kamu, maka apakah kamu punya makanan yang bisa diberikan kepadaku ikhlas karena Allah ๏ทป?”

“Ya ada, Jika kamu bersedia menyerahkan dirimu.” Jawabku bersikukuh sama seperti sebelumnya.

Mendengar jawabanku yang tidak berubah, wanita itu diam tidak bergeming sembari menundukan kepalanya beberapa saat, kemudian ia masuk dan duduk didalam rumahku. Saat itu aku tidak mempunyai makanan, maka aku bangkit menyalakan api dan aku membuatkan makanan untuknya. Setelah selesai membuat makanan dan aku meletakkan makanan itu di hadapanya, lalu tiba-tiba hatiku terenyuh merasakan belaian lembut kasih sayang Allah ๏ทป seakan berbisik: “Celakalah aku, wanita ini hanya makhluk yang lemah secara akal dan agama, aku menolak memberi makan padanya yang ia tidak bisa mencarinya, ia kembali bolak balik karena rasa laparnya namun engkau tidak berhenti untuk bermaksiat kepada Allah ๏ทป (dengan mengajukan persyaratan)”.

Kemudian aku berdoa kepada Allah ๏ทป:

ุงู„ู„ู‡ู… ุฅู†ูŠ ุชุงุฆุจ ุฅู„ูŠูƒ ู…ู…ุง ูƒุงู† ู…ู†ูŠ. ุฅู†ูŠ ู„ุง ุฃู‚ุฑุจู‡ุง ููŠ ู…ุนุตูŠุฉ ุฃุจุฏุง

“Ya Allah sungguh aku bertaubat atas apa yang telah aku lakukan, aku tidak akan mendekati kemaksiatan sampai kapanpun.”

Setelah itu aku masuk dan aku berkata pada wanita itu: “Makanlah dan jangan khawatir aku suguhkan ini karena Allah ๏ทป.

Ketika wanita itu mendengar ucapanku ia mengangkat wajahnya ke langit dan berdo’a:

ุงู„ู„ู‡ู… ุฅู† ูƒุงู† ุตุงุฏู‚ุง ูุญุฑู‘ู… ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ุงุฑ ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุงู„ุขุฎุฑุฉ

“Ya Allah jika ia benar dengan ucapannya, maka hindarkanlah ia dari api dunia dan akhirat.”

kemudian aku meninggalkan wanita itu sendiri karena ia akan makan. Aku bergegas pergi hendak memadamkan api dan itu terjadi di musim kemarau, tanpa aku sadari kakiku menginjak bara api namun ajaib kakiku tidak terbakar sedikit pun.

Lantas aku masuk menemui wanita itu dalam keadaan aku sangat bahagia dan aku berkata:

“Ini menjadi kebahagianku, sungguh Allah ๏ทป telah mengabulkan do’amu.”

Mendengar penuturanku, wanita itu melempar suapan ditangannya dan ia bersujud karena bersyukur pada Allah ๏ทป sambil berkata: “Ya Allah, Engkau telah memperlihatkan kebesaran-Mu melalui laki-laki ini, Aku mohon cabutlah ruhku saat ini juga.

Maka Allah ๏ทป mencabut ruhnya dalam keadaan ia sedang bersujud.

“Itulah cerita awal mulanya Allah ๏ทป memberikan keistimewaan padaku wahai saudaraku!” Ucap pemandai besi menutup ceritanya kepada sang tamu).

Waallah A’lamu

Penulis: ๐‘จ๐’ƒ๐’…๐’–๐’ ๐‘จ๐’…๐’›๐’Š๐’Ž

Referensi:

โœ๏ธ ๐‘บ๐’š๐’‚๐’Š๐’Œ๐’‰ ๐‘ด๐’–๐’‰๐’‚๐’Ž๐’Ž๐’‚๐’… ๐’ƒ๐’Š๐’ ๐‘ผ๐’Ž๐’‚๐’“ ๐‘ต๐’‚๐’˜๐’‚๐’˜๐’Š ๐’‚๐’-๐‘ฑ๐’‚๐’˜๐’Š๐’š|๐‘บ๐’š๐’‚๐’“๐’‚๐’‰ ๐‘ผ๐’’๐’–๐’…๐’– ๐’‚๐’-๐‘ณ๐’Š๐’‹๐’‚๐’Š๐’ ๐’‡๐’Š ๐‘ฉ๐’‚๐’š๐’‚๐’๐’ˆ๐’Š ๐‘ฏ๐’–๐’’๐’–๐’’๐’Š ๐’‚๐’›-๐’๐’‚๐’˜๐’‹๐’‚๐’Š๐’| ๐‘จ๐’-๐‘ฏ๐’Š๐’…๐’‚๐’š๐’‚๐’‰ ๐’‰๐’‚๐’ 21.

โœ๏ธ ๐‘บ๐’Š๐’“๐’‚๐’‹๐’–๐’…๐’…๐’Š๐’ ๐‘จ๐’ƒ๐’– ๐‘ฏ๐’‚๐’‡๐’”๐’Š๐’ ๐‘ผ๐’Ž๐’‚๐’“ ๐’ƒ๐’Š๐’ ๐’๐’‚๐’‰๐’“๐’– ๐’ƒ๐’Š๐’ ๐‘ฐ๐’ƒ๐’“๐’‚๐’‰๐’Š๐’Ž ๐’ƒ๐’Š๐’ ๐‘ผ๐’Ž๐’‚๐’“ ๐’‚๐’-๐‘จ๐’๐’”๐’‰๐’‚๐’“๐’Š๐’š ๐’‚๐’-๐‘ณ๐’–๐’”๐’š ๐’˜. 751 ๐‘ฏ| ๐’‚๐’-๐‘ฒ๐’Š๐’Ž๐’‚๐’Ž ๐’‡๐’Š ๐‘ธ๐’Š๐’”๐’‰๐’‚๐’”๐’‰๐’‚๐’•๐’– ๐’€๐’–๐’”๐’–๐’‡ ๐‘จ๐’๐’‚๐’Š๐’‰๐’Š ๐’‚๐’”-๐‘บ๐’‚๐’๐’‚๐’Ž| ๐‘ซ๐’‚๐’“๐’– ๐’‚๐’-๐‘ฒ๐’–๐’•๐’–๐’ƒ ๐’‚๐’-๐‘ฐ๐’๐’Ž๐’Š๐’š๐’‚๐’‰ ๐’‰๐’‚๐’ 177-179.

banner 700x350