MENGUNGKAP ARTI DAN RAHASIA TENTANG MIMPI (1)

oleh -136 views

Bagi sebagian orang, mimpi dipercaya lebih dari sekadar bunga tidur. Mereka menyakini jika mimpi adalah bagian dari firasat akan suatu peristiwa nyata.

 

Lalu bagaimanakah, kita sebagai orang mukmin menyikapi mimpi? Adakah keterangan al-Qur’an dan hadist serta pendapat ulama yang mengulas tentang mimpi?

 

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an :

 

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ

 

Artinya : Sesungguhnya Allah telah membenarkan Rasul-Nya mengenai mimpi yang haq.(Q.S. Al-Fath : 27)

 

Syaikh Ahmad as-Shawi ra dalam menafsirkan ayat di atas, mengatakan:

 

رؤياه صادقة محققة لم يدخلها الشيطان، لأنه مهصوم منه وجميع الانبياء

 

“Bahwa Allah ﷻ menjadikan mimpi Rasul-Nya sebagai suatu yang benar dan pasti, yang tidak dapat diganggu oleh syaithan. Karena Rasulullah ﷺ itu ma’shum termasuk di dalamnya Rasulullah ﷺ dan para Anbiya.[1]

 

Ibnul Qayyim ra berkata: “Mimpi itu seperti Kasysyaf (terbukanya tirai dunia gaib) ada yang bersumber dari jiwa yang bersih, nafsu dan syaithan. Rasulullah ﷺ bersabda:

 

الرؤيا ثلاثة : رؤيا من الله، ورؤيا تحزين من الشيطان، ورؤيا مما يحدث به الرجل نفسه في اليقظة، فيراه في المنام. والذي هو من أسباب الهداية : هو الرؤيا التي من الله خاصة.

 

Mimpi itu ada tiga macam: 1- Mimpi (yang baik sebagai kabar gembira) dari Allah ﷻ. 2- Mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari syetan. 3- Mimpi yang timbul karena ilusi angan-angan, atau khayal saat  seseorang saat terjaga yang terbawa dalam tidur. Dan mimpi yang menjadi penyebab datangnya hidayah adalah mimpi khusus yang bersumber dari Allah ﷻ.

 

ورؤيا الأنبياء وحي ، فإنها معصومة من الشيطان ، وهذا باتفاق الأمة ، ولهذا أقدم الخليل على ذبح ابنه إسماعيل عليهما السلام بالرؤيا. وأما رؤيا غيرهم فتعرض على الوحي الصريح ، فإن وافقته وإلا لم يعمل بها.

 

“Dan mimpi para Nabi adalah wahyu, karena mimpi mereka terjaga dari syetan; dan ini sudah menjadi kesepakatan umat (Islam); oleh karena itu Al-Khalil (Nabi Ibrahim As) mau menyembelih putranya Ismail As hanya karena mimpi. Adapun mimpi selain mereka maka harus dicocokkan dengan wahyu yang jelas; kalau cocok (maka diterima), kalau tidak maka tidak boleh diamalkan”. [2]

 

Dalam hadist dari Abu Hurairah ra, Rasulullah ﷺ juga bersabda :

 

الرُّؤْيَا ثَلاَثٌ: حَدِيثُ النَّفْسِ، وَتَخْوِيفُ الشَّيْطَانِ، وَبُشْرَى مِنَ اللَّهِ

“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan yang lainnya).

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam karya Fathu al-Bari bi Syarhi Shohih al-Bukhari menambahkan, bahwa selain tiga macam yang mimpi yang disebut dalam hadist Abu Hurairah ini ada lagi macam mimpi yang lain yang termaktub dalam hadist Nabi ﷺ di antaranya:  Mimpi merupakan sebagaian dari 46 dari kenabiyan. Mimpi merupakan permainan syaithan sebagaimana cerita dalam hadist dari riwayat Jabir ra,

 جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ فِى الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِى ضُرِبَ فَتَدَحْرَجَ فَاشْتَدَدْتُ عَلَى أَثَرِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلأَعْرَابِىِّ « لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ ». وَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدُ يَخْطُبُ فَقَالَ « لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ .

 “Ada seorang Arab badui datang menemui Nabi ﷺ kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi ﷺ bersabda kepada orang tersebut, “Jangan kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi ﷺ menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” (HR Muslim). Kebiasaan saat terjaga yang terbawa dalam mimpi seperti orang biasa makan di waktu tertentu kemudian dia bermimpi sedang makan atau minum yang seakan nyata. Mimpi sebagai halusinasi semata.[3]

 

Berdasarkan keterangan al-Qur’an, hadist dan komentar para ulama di atas dapat dipahami mimpi selain Rasulullah tidak dapat dijadikan pegangan apa lagi dalam berhujjah, karena selain Rasulullah ﷺ tidaklah ma’shum dan tidak ada jaminan mimpi tersebut benar-benar datang dari Allah ﷻ dan bukan dari bisikan Syaithan.

 

Bersambung, Insyaallah….

 

Waalahu A’lamu

 

Penulis: Abdul Adzim

 

Referensi:

 

[1] حاشية الصاوي على تفسير الجلالين • أحمد بن محمد الصاوي المالكي الصاوي المتوفى سنة 1241 هـ • دار الفكر جزء ٤ ص ١٣٣

[2] مدارج السالكين بين منازل إياك نعبد وإياك نستعين

أبو عبد الله محمد بن أبي بكر( ابن قيم الجوزية) المتوفى سنة 691 هـ • دار الكتاب العربي جزء ١ ص ٧٥

[3] فتح البري شرح صحيح البخاري • شهاب الدين أبو الفضل أحمد بن علي بن محمد الكناني العسقلاني المصري الشافعي المتوفى سنة 852 هـ• دار الطيبة جزء. ١٦ ص ٣٦٨

banner 700x350