MENGETAHUI PERBEDAAN ANTARA MANI, MADZI DAN WADI

oleh -582 views

Syaichona.net- Keluarnya sesuatu dari kemaluan itu adakalanya berupa benda yang biasa keluar seperti kencing, adakalanya berupa benda yang jarang keluar seperti darah dan batu, hukumnya pun juga berbeda-beda, adakalnya yang keluar itu najis seperti air seni, adakalanya suci seperti mani, dan semua itu sudah maklum, namun ada beberapa hal yang masih samar mengenai, mani, madzi dan wadzi, ulamak merinci semua itu dengan beberapa ciri ciri dan tanda-tanda yang dapat membedakan antara satu dengan yang lain, adapun perinciannya sebagai berikut:

  • Mani adalah cairan yang berwarna putih yang biasanya ketika keluar di sertai rasa nikmat, keluarnya memancar dengan cepat, berbau adonan roti ketika basah dan berbau putih-putihnya telur ketika sudah kering,

Adapun hukumnya mani itu suci, namun orang yang mengeluarkan mani wajib mandi, baik keluarnya itu sebab melakukan jimak atau tidak, baik dalam keadaan tidur ataupun terbangun sebagaimana hadis yang di riwayatkan oleh siti aisyah ra.

لقد رايتني افرك من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم المني فركا فيصلي فيه

saya menggosok/membersihkan mani yang berada di pakaian Rosulullah saw kemudian Rosulullah sholat dengan menggunakan baju tersebut”

  • Madzi adalah cairan yang berwarna putih atau kuning yang biasanya keluar ketika adanya syahwat yang tidak begitu kuat, menurut ibnu sholah madzi itu ketika musim dingin berwarna putih dan kental, tapi ketika musim panas masdzi itu berwarna kuning dan tidak kental.

Adapun hukumnya madzi itu najis, tidak wajib mandi akan tetapi membatalkan wudu’  sebagaimana ijmak ulama’ yang bertendensi terhadap hadis Rosulullah SAW.

انما تغسل ثوبك من البول والغائط والمذي والقيئ رواه الامام احمد

“Membasuh baju itu hanya di karenakan terkena air kencing, kotoran besar, madzi dan muntahan”

 

  • wadzi adalah cairan yang berwarna putih keruh dan kental yang biasanya keluar setelah kencing atau ketika membawa benda yang berat

Adapun hukum wadzi di samakan dengan madzi yakni najis, tidak wajib mandi, namun membatalkan wudhu’ sebagaimana penjelasan syakh abu bakar bin muhammad al-hisni dalam kitab kifayatul akhyarnya beliau mengatakan :

وحجة نجاسته حديث علي رضي الله عنه في قوله كنت رجلا مذاء فاستحييت ان اسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فامرت المقداد فساله فقال يغسل ذكره ويتوضأ رواه مسلم  الى ان قال… ويدخل في كلام الشيخ ايضا الوذي وهو ابيض كدر ثخين يخرج عقب البول من مخرج البول

“Adapun hujjah tentang najisnya madzi yaitu hadisnya Sayyidina Ali Bin Abi Tholib dia berkata aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi,tapi aku malu untuk bertanya kepada Rosulullah SAW, maka aku memerintah Miqdad agar menanyakan hal itu kepada Rosulullah, kemudian dia bertanya dan nabi menjawab basuhlah dzakarnya dan berwudhu’lah HR Imam Muslim, kemudian syakh abu bakar bin muhammad al-hisni melanjutkan perkataannya dengan mengatakan bahwa wadzi itu juga najis karena di samakan dengan madzi , beliau menyatakan wadzi adalah cairan yang berwarna putih, keruh dan kental yang biasanya keluar ketika setelah kencing dari tempat keluarnya kencing”

 Namun apabila ada seseorang yang ragu-ragu ketika melihat di pakaiannya ada cairan apakah itu cairan mani, madzi atau wadzi, maka dia boleh memilih, apabila dia memilih mani maka pakaiannya suci namun dia wajib mandi, apabila dia memilih madzi maka pakaiannya itu najis dan tidak wajib mandi, dan apabila dia memilih wazdi maka hukumnya sama dengan madzi, yaitu pakaiannya najis akan tetapi tidak wajib mandi.

Penulis : Fakhrullah

Referensi:

  • Syakh Ibrohim Al-Bajuri|Hasyiyah Al-Bajuri|DKI 2016|Juz 1 Hal 140,Juz 1 Hal 195
  • Syakh Abu Bakar Bin Muhammad Al-Hisni|Kifayatul Akhyar| Al-Hidayah Surabaya|Juz 1 Hal 37,Jus 1 Hal 65
  • Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf|Taqrirotus Sadidah|darul ulum al-islamiah 2006|Fiqhul Ibadah| Hal 115
banner 700x350