KHAYZURAN; BUDAK YANG MELAHIR DUA KHALIFAH DINASTI ABBASIYAH

oleh -358 views

Siapa yang tidak kenal dengan Raja Harun Ar-Rasyid? Khalifah kelima dari kekhalifahan Abbasiyah dan memerintah antara 786 M/170 sampai 809 M/193 H. Raja agung pada zamannya. Konon, kehebatannya hanya dapat dibandingkan dengan Karel Agung (742 M – 814 M) di Eropa. Pada masa kekuasaannya, Baghdad ibu kota Abbasiyah – menjelma menjadi metropolitan dunia.

Era keemasan Islam (The Golden Ages of Islam) tertoreh pada masa ke pemimpinannya. Perhatiannya yang begitu besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kesuksesannya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, ekonomi, perdagangan, politik, wilayah kekuasaan, serta peradaban Islam telah membuat Dinasti Abbasiyah menjadi salah satu negara adikuasa dunia di abad ke-8 M. Jasanya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban hingga abad ke-21 masih dirasakan dan dinikmati masyarakat dunia.

Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan. Dia adalah putera dari Khalifah Al-Mahdi bin Abu Ja’far Al-Mansur khalifah Abbasiyah ketiga.

Namun jarang yang tahu bahwa di balik semua kesuksesan dan kejayaan yang peroleh Harun Ar-Rasyid, ada wanita hebat yang sangat berperan besar dalam kepemimpinan Harun Ar-Rasyid. Yaitu Sang Ibu bernama Khayzuran bin ‘Atha’ al-(w. 173 H) seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan dan dinikahi Al-Mahdi, Ayahnya dan kemudian melahirkan dua putra—Musa bin Al-Mahdi al-Hadi dan Harun ar-Rasyid—yang kelak keduanya menjadi Khalifah, Raja Agung Islam yang dikenang sejarah.

Al-Khatib al-Baghdadiy (w. 463 H) dalam kitabnya Tarikhu Madinati as-Salami atau dikenal dengan kitab Tarikh al-Baghdad mencatat: “Tidak ada seorang wanita yang pernah melahirkan dua putra yang menjadi Khalifah, Raja Agung dalam peradaban Islam kecuali Khayzuran dan ‘Ansiyah binti al-Abbas istri Abdul Malik bin Marwan (26 H – 86 H) yang melahirkan dua Khalifah, al-Walid dan Sulaiman (kekhalifahan Bani Umayyah) hingga seorang pejungga mengabadikan dalam syairnya:

ليس في الناس مثل موسى وهار • ون هجينان انجبا لهجان
ما استثرنا عرق الخلافة حتى • أورق العود في بني الخيزران

Tak ada manusia yg seperti Musa al-Hadi dan Harun ar-Rasyid // dua pejantan dari ibu yang mulia

Kita tak pernah menyerahkan kepemimpinan kecuali saat // kayu Uud bersemi pada anak turun Khaizuran

Dalam al-Muntadzim fi Tarikhu al-Muluk wa al-Umam Abu al-Farj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnu al-Jauziy (w. 597 H) menambahkan, bahwa selain dua wanita tadi, ada satu wanita yang juga melahirkan dua Khalifah besar dalam pemerintah Islam yaitu Syaqira Yadz bin Fairuzi bin Yazdajirda istri dari al-Walid bin Abdul Malik yang melahirkan Ibrahim dan Yazid Fuluya atau Yazid III (kekhalifahan Bani Umayyah).

So, Ada beberapa cuplikan kisah yang menarik kita simak tentang cinta dan kerinduan, benci dan romantisme serta intrik dan tragedi dari Khayzuran dan Khalifah al-Mahdi bin Abu Ja’far Al-Mansur yang telah dicatat oleh sejarawan Islam. Berikut kisahnya:

PERTEMUAN PERTAMA AL-MAHDI DAN KHAYZURAN

Ahmad bin Ali al-Mahalli dari Harun bin Ubaidillah bin al-Makmun menceritakan: “Saat Khayzuran ditawarkan (dijual sebagai budak) pada Khalifah al-Mahdi, al-Mahdi berkata: “Demi Allah, wahai budak perempuan! Aku lihat pada dirimu ada sebuah harapan besar dan kecantikan yang mempesona tetapi aku kurang suka dengan bekas luka di kedua betismu itu”

“Wahai Yang Mulia! Jangan Anda hanya dilihat kedua betisku (ada bekas luka), Tuan kelak akan membutuhkan suatu yang lahir melalui keduanya”. Jawab Khayzuran.

Khalifah al-Mahdi terkesima mendengar jawab yang keluar dari bibir Khayzuran, ia pun membelinya kemudian menjadikan selir kesayangannya dan benar, dari Khayzuranlah lahir dua putra mahkota Musa al-Hadi dan Harun ar-Rasyid.

INTRIK DALAM RUMAH TANGGA AL-MAHDI DAN KHAYZURAN

Al-Azhariy dan al-Hasan bin Abi Thalib dari al-Waqidiy menceritakan: “Suatu hari masuk ke istana menemui Khalifah al-Mahdi, lalu dia mengadukan sebuah pertanyaan padaku dengan membawa tinta dan buku catatan untuk mencatat semua jawaban yang telah aku sampaikan padanya. Setelah itu ia bangkit meninggalkanku sembari berkata:

“Tetaplah Anda tempat, jangan pergi hingga aku kembali menemui Anda.”

Aku lihat Khalifah al-Mahdi berjalan memasuki Harem (Rumah khusus untuk tempat tinggal ibu raja, saudara perempuannya, istri-istri, anak-anak, dan para selir yang terlarang bagi kaum pria kecuali sang raja). namun aneh setelah ia keluar dari Harem, wajahnya memerah dipenuhi kemurkaan dan amarah yang memuncak. Setelah Khalifah al-Mahdi duduk tenang, aku memberanikan diri untuk bertanya: “Wahai Amirul al-Mukminin! Keadaan Anda saat keluar dari Harem sangat berbeda dengan saat Anda masuk tadi. Anda kelihatan kesal sekali, ada apa gerangan?”

“Benar kata Anda! Aku barusan masuk ke Harem menemui Khayzuran dan bagaimana aku tidak kesal? Bayangkan, Ia (Khayzuran) memakaikan baju untukku tapi setalah itu ia mengulurkan tangannya membakar bajuku dan berkata: “Hai Pemulung! Aku tidak melihat kebaikan apa pun darimu?”. Masak, aku dipanggil seorang pemulung? Padahal ia asalnya seorang budak yang aku beli di pasar Nukhas dan kemudian aku merdekakannya namun ia selalu memandangku sebelah mata. Andai aku tidak terikat karena dia telah melahirkan putra-putra ku tentu aku tidak segan-segan menceraikannya.”

“Wahai Amirul Mukminin! Rasulullah pernah bersabda:

إنهن يَغْلِبْنَ، الكِرام ويغلبُهُنّ اللِّئام

Sesungguh mereka (para wanita), mudah mengendalikan lelaki mulia, sementara mereka lebih mudah dikendalikan lelaki yang tercela.

Dan Nabi bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik di antara kalian (dalam memperlakukan keluarganya), dan aku adalah sebaik-baik dari kalian (dalam memperlakukan) keluargaku.

وقد خُلِقَتِ المرأةُ مِن ضِلَعٍ أعوَجَ إنْ قومته كَسَرْتَهُ

Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok (tidak lurus), jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya.

Setelah itu aku jelaskan pada Khalifah al-Mahdi apa yang aku ketahui mengenai masalah ini padanya. Amarahnya pun mereda dan wajahnya kembali berseri-seri kemudian memberiku 1000 Dirham sebagai ucapan terima kasih. Semula aku menolaknya tapi Khalifah al-Mahdi memaksaku sembari berkata: “Anda pantas menerima ini”. Setelah aku pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku didatangi utusan dari Khayzuran. Utusan itu berkata: “Ratu Khayzuran mengaturkan salam padamu dan beliau berkata: “Wahai Syaikh! Aku telah mendengar semua pembicaraan Anda dengan Khalifah Amirul Mukminin, maka aku sampaikan Jazakallah Ahsanal Jaza pada Anda. Ini 1000 Dirhan kecuali 10 Dinar aku diberikan pada Anda karena aku tidak mau menyamai pemberian Amirul Mukminin dan aku hanya berharap pahala-pahala dari Allah.”

CINTA DAN KERINDUAN AL-MAHDI PADA KHAYZURAN

Dalam kitab Bidayatu al-Hidayah Abu al-Fida Ismail bin Katsir menceritakan: “Suatu ketika Khayzuran berniat menyempurnakan imannya untuk menunaikan ibadah haji. Ia menyampaikan keinginannya kepada sang suami. Dengan berat hati, akhirnya Khalifah al-Mahdi mengizinkan istri tercintanya itu untuk pergi ke Baitullah.

Dalam benak sang khalifah, ingin sekali ia menemani sang istri. Namun, banyak beban dan tugas sebagi kepala negara membuatnya ia mengurungkan niatnya dan mengikhlaskan kepergian istrinya itu.

Khaizuran akhirnya berangkat menuju Mekkah di Bulan Ramadhan tahun 161 H. Karena belum waktunya haji, di sana ia membangun rumah yang sengaja ia bangun di dekat Masjidil Haram untuk memudahkannya dalam beribadah. Di rumah itu ia habiskan seluruh waktunya untuk mengabdi kepada sang pencipta sambil menunggu musim haji yang akan tiba sebentar lagi.

Belum genap sebulan ditinggal sang Istri, Khalifah al-Mahdi di Baghdad merasa sangat kehilangan dan rindu. Ia pun menulis sebuah surat cinta yang ia titipkan kepada Jamaah Haji yang hendak menuju Tanah Haram. Dalam suratnya itu ia ungkapkan semua perasaan rindunya kepada istrinya:

نحن في غاية السرور ولكن • ليس إلا بكم يتم السرور

عيب ما نحن فيه يا أهل ودي • أنكم غيب ونحن حضور

فأجدوا في السير بل إن قدرتم • أن تطيروا مع الرياح فطيروا

Sungguh, puncak kebahagian telah aku rasakan. Namun // tanpamu segala kebahagian hampa tidalah sempurna

Sungguh cela bagiku Wahai kasihku // Aku disini sendiri tanpamu sedangkan kau nan jauh di sana

Bergegas-gegaslah kembali pulang! Bahkan, Jika kau mampu // ikutlah angin terbanglah kesini!

Setelah membaca semua perasaan Khalifah al-Mahdi, tak terasa air mata Khaizurah meleleh tanpa instruksi. Rindu yang sama juga ia rasakan. Ia tak mungkin kembali begitu saja ke Baghdad. Mengingat ia sedang menunaikan ibadah suci. Lantas, ia mengambil secarik kertas dan pena untuk menumpahkan kerinduan yang sama.

قد أتانا الذي وصفت من الشو • ق فكدنا وما قدرنا نطير

ليت أن الرياح كن يؤدين • إليكم ما قد يكنّ الضمير

لم أزل صبة فإن كنت بعدي • في سرور فدام ذاك السرور

Telah sampai padaku semua rindumu // Akan tetapi tak kuasa diriku untuk terbang kepadamu

Andai saja semilir angin bisa menyampaikan rindu // Tentu tak akan ada lagi dendam rindu di hati

Rindu (ku) akan selalu bergemuruh, jika kau setelah ini //dalam keadaan bahagia, semoga kebahagian itu langgeng abadi

MENINGGALNYA KHAYZURAN

Syaikh Ahmad al-Qaththan dan al-Ustadz Muhammad Thahir al-Zain dalam kitab Harun ar-Rasyid al-Khaliftu al-Madhlum mengatakan: “Para sejarawan Islam sepakat Ratu Khayzuran meninggal dunia di Bagdad pada malam Jum’at tanggal 3 Jumadil Akhir dan makamkan di pemakaman Quraisy tahun173 H.

Meninggalnya Khayzuran, sang ibu membuat Harun ar-Rasyid begitu terpukul dan sedih karena ia harus kehilangan sosok yang paling ia cintai. Sang Inspirator dan panutannya. Begitu sedihnya hingga ia turut mengantarkan dan menandu keranda sang ibu meliwati jalan penuh lumpur hingga ke pembaringan terakhirnya. Sesampainya di tempat pemakaman Harun ar-Rasyid sendiri yang menyolati dan yang menurunkan jenazah sang ibu ke liang lahat. Kemudian ia duduk di samping pusara ibunya sembari menembang syair Tamim Ibnu Nawriyah ay-Yarbi’iy:

وكنا كندماني جذيمة برهة • من الدهر حتى قيل لن يتصدعا

فلما تفرقنا كأني ومالكا • لطول اجتماع لم نبت ليلة معا

Kita seperti dua orang yang merana (Malik dan Aqil yang di tinggal mati) Jadzimah (al-Abrasy raja di negara Hirah Iraq) di masa lampau // hingga meraka dikatakan tidak bisa terpisahkan

Ketika kita dipisahkan seakan aku dan malik // tidak pernah bersama karena lamanya berkumpul

Sepulangnya dari pemakaman, Harun ar-Rasyid mendermakan semua harta peninggalan sang ibu yang bernilai 1060000 Dirham pada segenap rakyatnya. Bagdad (Iraq) kala itu dirundung duka hingga beberapa hari karena kehilangan Sang Ibu Suri, Khayzuran”.

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

🍂 Al-Khatib al-Baghdadiy| Tarikhu Madinati as-Salami (Tarikh al-Baghdad)| Daru al-Gharbi al-Islamiy juz 16 hal 616.

🍂 Abu al-Farj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnu al-Jauziy| al-Muntadzim fi Tarikhu al-Muluk wa al-Umam| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 8 hal 346-348

🍂 Abu al-Fida Imaduddin Ismail bin Katsir| Bidayut al-Hidayah| Islamweb.net juz 13 hal 568

🍂 Syaikh Ahmad al-Qaththan dan al-Ustadz Muhammad Thahir al-Zain| Harun ar-Rasyid al-Khaliftu al-Madhlum| Daru al-Iman hal 29-35

banner 700x350