ILMU LAKSANA AIR HUJAN YANG MENYIRAMI SEGENAP HATI YANG GERSANG

oleh -191 views

Ilmu Allah ﷻ dan hidayah-Nya bagi manusia laksana hujan yang mampu nyuburkan ladang-ladang hati yang gersang. Manusia adalah para petani-petani yang diharapkan bisa bercocok tanam diladang hatinya untuk bisa dituai kelak ketika pulang dari pesantren hingga di akhirat nanti.

Tentu tidakalah mudah bagi seseorang mendapatkan hasil panin yang diinginkan, meski hujan selalu turun menyiramai dan mata air selalu mengalir dari segala punjuru membasahi setiap sudut landang hatinya karena subur dan tidaknya tanaman juga tergantung subur tidak tidaknya landang yang ditanami serta cukup tidaknya rabuk yang ditaburkan. Belum lagi harus ekstra menjaga tanaman dari hama-hama perusak dan membuang gulma-gulma yang menggangu. Karena itu Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah ﷻ mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah ﷻ memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah ﷻ, bermanfaat baginya ajaran yang Allah ﷻ mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah ﷻ dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah ﷻ mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi –rahimahullah– nama lengkapnya Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf al-Hizamiy an-Nawawi ad-Dimasyqi as-Syafi’i (631 H-676 H) mengatakan Syarhu Shahih Muslim:

“Makna dan maksud hadits di atas adalah petunjuk (ilmu) Nabi Muhammad ﷺ kepada segenap ummatnya laksana al-ghoits (hujan yang bermanfaat) yang menyirami hati mereka. Dan tanah yang disirami hujun ada tiga jenis, begitu pula hati manusia.

Jenis pertama adalah tanah yang bermanfaat dengan adanya hujan. Tanah tersebut menjadi hidup setelah sebelumnya mati, lalu dia pun menumbuhkan tanaman. Akhirnya, manusia pun dapat memanfaatkannya, begitu pula hewan ternak, dan tanaman lainnya dapat tumbuh di tanah tersebut.

Begitu pula manusia. Dia mendapatkan petunjuk dan ilmu. Dia pun menjaganya (menghafalkannya), kemudian hatinya menjadi hidup. Dia pun mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang dia miliki pada orang lain. Akhirnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya dan juga bermanfaat bagi yang lainnya.

Jenis kedua adalah tanah yang tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri, namun bermanfaat bagi orang lain. Tanah ini menahan air sehingga dapat dimanfaatkan oleh yang lain. Manusia dan hewan ternak dapat mengambil manfaat darinya.

Begitu pula manusia. Dia memiliki ingatan yang bagus. Akan tetapi, dia tidak memiliki pemahaman yang cerdas. Dia juga kurang bagus dalam menggali faedah dan hukum. Dia pun kurang dalam berijtihad dalam ketaatan dan mengamalkannya. Manusia jenis ini memiliki banyak hafalan. Ketika orang lain yang membutuhkan yang sangat haus terhadap ilmu, juga yang sangat ingin memberi manfaat dan mengambil manfaat bagi dirinya; dia datang menghampiri manusia jenis ini, maka dia pun mengambil ilmu dari manusia yang punya banyak hafalan tersebut. Orang lain mendapatkan manfaat darinya, sehingga dia tetap dapat memberi manfaat pada yang lainnya.

Jenis ketiga adalah tanah tandus yang tanaman tidak dapat tumbuh di atasnya. Tanah jenis ini tidak dapat menyerap air dan tidak pula menampungnya untuk dimanfaatkan orang lain.

Begitu pula manusia. Manusia jenis ini tidak memiliki banyak hafalan, juga tidak memiliki pemahaman yang bagus. Apabila dia mendengar, ilmu tersebut tidak bermanfaat baginya. Dia juga tidak bisa menghafal ilmu tersebut agar bermanfaat bagi orang lain.” .

Sementar al-Imam Ibnu Hajar –rahimahullah– nama lengkapnya Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Ahmad al-Kinnaniy al-‘Asqalaniy al-Mishriy asy-Syafi’iy (773 H/1372 M – 852 H/1449 M) dalam Syarahu Shahih al-Bakhari mengutip dari al-Imam al-Qurthubiy –rahimahullah– nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Qurthubiy an-Dalusiy al-Malikiy (wafat 671 H) dan lainnya mengartikan:

Bahwa apa yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ berupa ajaran agama Islam bagaikan hujan yang turun membasahi seantero bumi. Dimana manusia sebelum terutusnya Nabi Muhammad ﷺ lakasana bumi (tanah) yang gersang dan mati lalu terutuslah Nabi Muhammad ﷺ dengan membawa ajaran Islam yang universal bak hujan yang mampu menghidupakan setiap hati yang mati.

Kemudian manusia yang mendengarkan ajaran Nabi Muhammad ﷺ ibarat bumi yang beraneka macam jenis dan tipe: Ada tipe manusia yang alim, mampu mengali hukum-hukum baru dari ilmunya, mengamalkan dan mengajarkan ilmunya pada orang lain. Dia laksana bumi (tanah) yang baik yang mampu nyerap air hujan hingga bisa bermanfaat pada dirinya dan dapat menumbuhkan segala macam tumbuhan hingga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Ada tipe manusia yang alim yang mampu mengahabiskan usianya dengan meraup segala macam ilmu, tapi tidak bisa menelorkan hukum-hukum baru atau tidak bisa mengamalkan ilmunya, namun mengajarkan ilmunya pada orang lain. Dia laksana bumi (tanah) yang hanya bisa menampung air hujan dan manusia lain bisa mengambil manfaat darinya. Manusia tipe kedua ini pernah disinggung Nabi ﷺ hadistnya:

نَضَّرَ اللَّه اِمْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَأَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَ

“Semoga Allah memberikan wajah yang bercahaya kepada orang yang mendengar hadits yang aku sampaikan lantas menyampaikannya kepada orang yang lain sebagaimana yang dia pernah dengar dariku”.

Ada tipe munusia yang belajar ilmu, tidak berusaha menghafal, tidak mengamalkan dan tidak mau berikan ilmunya pada orang lain. Dia laksana bumi (tanah) yang mengandung garam atau bumi licin yang tidak mau menerima air hujan atau bumi (tanah) yang bisa merusak tanah lain dengan air yang diturunkan.

Kesimpulannya, dua tipe teratas adalah tipe manusia yang terpuji karena keduanya bisa bermanfaat dan memberi manfaat pada orang lain sedangkan tipe yang tiga adalah tipe manusia yang tercela karana hidupnya tidak bermanfaat, baik pada dirinya apalagi orang lain. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi | Daru al-Kutub al-Ilmiyah, Juz 15, Hal 39l

✍️ Fathu al-Bari ala Syarhi al-Bukhari Daru al-Kutub al-Ilmiyah, Juz 1, Hal 161l

banner 700x350