ILMU ALLAH SUCI HANYA BISA DIPEROLEH ORANG-ORANG YANG HATINYA SUCI

oleh -125 views

Sebagian ulama mengatakan:

فالعلم جوهر لطيف لا يصلح الا للقلب النظيف

Ilmu adalah permata mulia. Tidak akan cocok bertempat kecuali di hati yang bersih”.

Artinya seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu manfaat barakah dari semua yang telah pelajari bila hatinya kotor dipenuhi oleh perilaku-perilaku yang hina dan sifat-sifat yang tercela. Oleh karena itu, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (1058 M/450 H –1111 M/505 H) dalam Ihaya’ Ulumiddin mengingatkan pada segenap penuntut ilmu agar membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari akhlak-akhlak yang hina dan sifat-sifat yang tercela sebab ilmu itu adalah ibadah hati, sholat yang tersembunyi dan pendekatan batin pada Allah ﷻ. Sebagaimana sholat (ibadah lahir) tidak sah kecuali dengan menyucikan aggota badan dari hadats dan najis, ibadah hati (batin) dan menghidup hati dengan ilmu juga tidak sah kecuali setelah bersihnya hati dari kotoran-kotoran perangai dan sifat-sifat yang najis.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

بُني الدِّين على النَّظافة

“Agama (Islam) dibangun di atas (pondasi) kebersihan”. (as-Suyuthi dalam al-Jami’ as-Shaghir). Yaitu bersih dhahir dan batin.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”. (QS. At-Taubah : 28).

Firman Allah ﷻ ini merupakn alarm bagi semua orang yang berakal sehat bahwa suci dan najis tidak hanya terbatas pada anggota lahir saja tapi juga mencakup pada anggota batin dengan begitu terkadang orang musyrik badan dan pakaian yang gunakannya suci namun hatinya kotor dilumuri sifat-sifat yang najis. Logikanya bila yang disebut najis adalah sesuatu yang harus dijauhi atau diperintah agar menghidarnya mestinya menjauh dari sifat-sifat batin yang tercela tentu lebih penting karena sifat-sifat tersebut dengan kejelekannya dapat merusak jiwa seseorang seketika dan di masa yang datang karena alasan itu juga Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ

“Malaikat (rahmat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hati ibarat rumah tempat singgap dan menetapnya malaikat sedangkan sifat-sifat yang tercela seperti amarah, syahwat, dendam, dengki, sombong dan congkak serta lainnya ibarat anjing yang melolong. Bagaimana mungkin malaikat bisa masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya ada anjingnya? Bukankah Allah ﷻ meletakan cahaya ilmu di hati seseorang melalui pelantaraan malaikat? Sebagaimana firman-Nya:

وَ ما كانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْياً أَوْ مِنْ وَراءِ حِجابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ ما يَشاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكيمٌ

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah ﷻ berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syura :51).

Yaitu para malaikat yang disucikan dan terbebas sifat-sifat tercela, mereka tidak akan memandang sesuatu kecuali sesuatu tersebut baik dan tidak akan mau mendiami atau menghidupkan sesuatu dengan rahmat Allah ﷻ kacuali sesuatu tersebut baik dan suci.

Lebih lanjut al-Imam al-Ghazali memberikan testimoni (pembuktian) tentang proposisi yang dikemukan di atas dengan sebuah analogi, bila engkau bertanya: “Bukankah banyak dari kalangan penuntut ilmu yang berperangai jelek dan berakhlak buruk namun mereka bisa berhasil meraih ilmu secara gemilang?”.

Sepintas pernyataan ini benar, namun kenyataanya setelah itu mereka jauh dari memperoleh ilmu yang hakiki yang bermanfaat dan memberi kebahagian di akhirat kelak. Ilmu yang diperoleh dengan cara demikian pada permulaannya memang tampak mempesona dan memukau namun hakikatnya adalah racun yang mematikan. Ibarat makanan yang tampak lezat namun beracun, adakah seseorang yang mau memakan? Di suatu sisi orang-orang tampak antosias mendengarkan setiap apa yang sampaikannya berupa hadist-hadist Nabi ﷺ dan petuah lainnya namun di sisi lain hati mereka menolak dan tidak akan membekas sama sekali.

Ibnu Mas’ud ra mengatakan:

لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ نُوْرٌ يُقْذَفُ فِي الْقَلْبِ

“Ilmu bukan dengan memperbanyak riwayat (hadist) tetapi ilmu adalah cahaya yang diletakan Allah ﷻ di dalam hati”. Dan sebagain ulama mengatakan:

العلم الخشية

“Ilmu itu adalah rasa takut kepada Allah”, sebagimana firman Allah ﷻ:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, …” (QS Surat Fathir: 28). Ayat ini memberi isyarat bahwa buah ilmu adalah rasa takut pada Allah ﷻ.

Belum cukup sampai di situ, sebagian ulama al-Muhaqqin mengartikan maksud dari perkatakan ulama di atas dengan kisah pengalaman mereka: “Kami pernah belajar ilmu dengan niat selain Allah ﷻ, namun ilmu menolak dan menginginkan kami agar belajar ilmu karena-Nya. Sungguh ilmu telah menolak dan tidak mau menerima kami, maka tertutuplah hakikat ilmu dan yang kami peroleh hanyalah teks-teks hadist belaka. Wa al-‘Iyadu billah.

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📓 Ihaya’ Ulumi ad-Din| Thaha Putra Semarang| Juz 1, hal 49.

banner 700x350