SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN, SANG INSPIRATOR BERDIRINYA NAHDLATUL ULAMA

oleh -1.390 views

Syaichona.net– Berdirinya Jam’yah Nahdlatul ulama bermula pada tahun 1920, saat itu sebanyak 66 ulama se Nusantara datang ke Bangkalan Madura untuk sowan (Madura-red) ke Syaichona Moh. Cholil Bangkalan yang merupakan Maha Guru Nusantara pusat peradaban islam pada masa itu.

Para ulama ingin menyampaikan keresahan mereka mengenai kemunculan kelompok Islam baru di Indonesia yang menolak ajaran ahlussunnah wal jamaah beraliran paham Wahabi. Aliran tersebut mencoba menggerogoti ajaran ahlussunnah wal jamaah yang sudah lama mengakar di bumi Nusantara.

Seperti yang sudah di ketahui bahwa agama islam masuk ke Indonesia melalui Wali Songo yang berpaham Ahlussunnah wal jamaah, dengan menganut salah satu empat bermazhab, yaitu Maliki, Hanafi, Syafii dan Hanbali akan tetapi kebanyakan Mazhab Syafii.

Aliran baru ini, meng-klim dirinya sebagai pembaharu, mereka mengatakan ajaran islam yang benar adalah murni langsung dari al-Quran dan as-Sunnah (hadis), mereka menuduh paham aswaja adalah bid’ah, syirik, dan sebagainya.

Apalagi mereka mereka di dukung dan di fasilitasi oleh Hindia Belanda, hal ini karena pemerintah kolonial Belanda merasa terancam dengan adanya para ulama yang menjadi tokoh masyarakat.

Dari hal itulah para ulama hawatir aliran tersebut akan menghancurkan ahlussunnah wal jamaah. Jalan satu-satunya mereka meminta petunjuk kepada Syaichona Moh. Cholil sang wali Allah maha guru pada masa itu. tetapi para ulama tidak langsung menemui Syaichona Moh. Cholil karena para ulama merasa sungkan untuk langsung menemui Syaichona Moh. Cholil, mereka meminta bantuan pada KH. Muntaha di Desa Jengkebuen yang merupakan menantu Syaichona Moh. Cholil.

Sebelum KH. Muntaha beranjak keluar untuk sowan, Syaichona Moh. Cholil sang wali Allah sudah mengetahui akan datangnya para ulama tersebut, sehingga Syaichona Moh. Cholil menyuruh utusan yang bernama Nasib untuk membacakan sebuah ayat al-Quran Surat as-Shaf ayat 8 ;

يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

Artinya: Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.

Ayat itu ternyata jawaban dari keresahan para ulama yang berkumpul di rumah menantunya. lewat ayat itu, secara tersirat Syaichona Moh. Cholil meminta para ulama untuk tidak khawatir atas kemunculan aliran baru dalam Islam itu. Sehingga membuat ulama puas dan kembali pulang ke daerah masing-masing.

Pada tahun 1922, para ulama sebanyak 46 berkumpul di surabaya kediaman KH. Mas Alwi Abd. Aziz  untuk mencari solusi atas kemunculan kelompok Islam yang tidak senang pada ajaran ahlussunnah wal jamaah, dan membahas keberlangsungan rencana pembentukan jam’iyah ulama akan tetapi tidak menghasil apa-apa.

Kemudian salah satu kiai akhirnya memberanikan diri untuk menghadap Syaichona Moh. Cholil di Bangkalan. dia bercerita pernah membaca tulisan Sunan Ampel sewaktu nyantri di Kota Madinah.

Isinya menceritakan Sunan Ampel yang pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. dalam mimpi itu Nabi Muhammad SAW berpesan agar ajaran ahlussunnah dibawa ke Indonesia karena orang-orang arab sendiri tidak mampu melaksanakannya.

Kemudian KH. Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyah yang langsung disampaikan kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. namun, KH. Hasyim Asy’ari tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelumnya, ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Hasyim Asy’ari melakukan sholat istikharoh beberapa kali namun petunjukpun tak kunjung datang . rupanya, petunjuk Allah SWT terhadap berdirinya Nahdlatul Ulama tidak diberikan langsung kepada KH. Hasyim, tetapi datang melalui gurunya yaitu Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Ketika petunjuk Allah SWT datang, Syaichona Moh. Cholil segera memanggil muridnya yang bernama As’ad Samsul Arifin, santri senior berumur 27 tahan (Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo). “As’ad,” kata Syaichona Moh. Cholil. “yaa… Kiai,” jawab As’ad dengan ta’dhim pada sang guru.

“As’ad, tongkat ini kamu antarkan kepada KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang,’’pesan Syaichona Moh. Cholil sambil menyerahkan tongkat tersebut pada As’ad. ‘’dan tolong kamu bacakan surat Thaha ayat 17-23 kepada Hasyim Asy’ari”, pesan Syaichona Moh. Cholil menutup pembicaraannya.

Begitu menerima perintah As’ad segera berangkat ke Tebuireng, kediaman KH. Hasyim Asy’ari dengan menempuh jarak yang cukup jauh, ia berjalan kaki sambil memegang tongkat.

Setibanya As’ad di Tebuireng. Mendengar adanya utusan gurunya Syaichona Moh. Cholil Bangkalan KH. Hasyim Asy’ari menduga pasti ada sesuatu yang sangat penting.

“Kiai saya di utus Syaichona Moh. Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini, kepada kiai”, kata As’ad sambil menyerahkan tongkatnya. Tongkat itu di terima dengan penuh haru perasaan, kemudian KH. Hasyim bertanya kepada As’ad . “apa tidak ada pesan dari Syaichona Cholil As’ad ?”, As’ad kemudian langsung membaca :

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (١٧) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (١٨) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (١٩) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (٢٠) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (٢١) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَى (٢٢) لِنُرِيَكَ مِنْ وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (١٧) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (١٨) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (١٩) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (٢٠) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (٢١) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَى (٢٢) لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

Artinya: “Apakah itu yang di tangan kananmu wahai Musa? “Ini adalah tongkat, aku bertelekan kepadanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa! Lalu dilemparkanlah tongkat itu, tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah SWT berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengemabalikan pada keadaan semula. Dan Kepitlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat – sebagai mukjizat yang lain (pula) – untuk kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”

Mendengar ayat-ayat yang di bacakan As’ad, hati KH. Hasyim Asy’ari bergetar, matanya menerawang terbayang wajah Syaichona Moh. Cholil yang sangat tua dan bijaksana.

“Oh…iya, berati ini berkaitan dengan rencana untuk mendirikan Jam’iyah ulama itu’’, kata KH. Hasyim Asy’ari sambil terharu.

Hasyim Asy’ari Menangkap isyarat, bahwa gurunya Syaichona Moh. Cholil tidak keberatan untuk mendirikan sebuah organisasi, jam’iyah. Sejak saat itulah keinginan KH. Hasyim Asy’ari tidak ragu lagi untuk mendirikan sebuah jamiyah. Kemudian dimusyawarahkan dan dirumuskan sesuatu yang berkenaan dengan organisasi tersebut.

Demikian hari demi hari, bulan demi bulan, organisasi yang di cita-citakan belum berdiri. sampai Syaichona Moh. Cholil mengutus As’ad kembali untuk menyerahkan tasbih kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Seperti hanya tongkat, tasbih inipun disertai pesan oleh Syaichona Moh. Cholil pada As’ad berupa bacaan salah satu asmaul husna yaitu Ya Jabbar, Ya Qohhar sebanyak 3 kali.

Berangkatlah As’ad ke Tebuireng Jombang untuk mengantarkan tasbih yang diberikan Syaichona Moh. Cholil kepada KH. Hasyim Asy’ari. Setelah As’ad menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan berjalan kaki, yang tentu saja, suka duka dialaminya dalam tugasnya ini.

Seperti yang telah di tuturkan oleh As’ad sendiri, bahwa dalam perjalanannya di jumpai orang mengatakan bahwa di rinya adalah orang gila sebab berkalungkan tasbih sambil berjalan kaki akan tetapi ada juga yang mengatakan As’ad adalah seorang wali Allah SWT.

Akhirnya As’ad tiba di Tebuireng, kemudian berkata “Sesampainya di Tebuireng, saya bertemu dengan KH. Hasyim dan menyerahkan tasbih sambil membungkuk. KH. Hasyim Asy’ari sendiri yang mengambil tasbih itu dari leher saya’’, tasbih yang di serahkan kepada KH. Hasyim Asy’ari tidak berubah dari sisi semula sejak di kalungkan oleh Syaichona Moh. Cholil.

“Saya tidak berani mengubahnya, meskipun di perjalanan banyak orang yang menertawakan dan mungkin saya di anggap gila”, kata As’ad mengenang perjalanan yang tidak bisa melupakan kejadian tersebut.

Lanjutnya, KH. Hasyim Asy’ari punya reaksi berbeda saat menerima kedua benda tersebut. Saat menerima tongkat, KH. Hasyim Asy’ari berujar bahwa dengan tongkat itu hatinya makin mantap untuk mendirikan organisasi bernama Jam’iyatul Ulama, nama awal NU sebelum berubah menjadi Nahdlatul Ulama.

Sejak saat itu dimatangkanlah persiapan untuk mendirikan organisasi tersebut, namun karena membutuhkan waktu yang lama dalam persiapannya, sampai Syaichona Moh. Cholil wafat pada tahun 1925 jam’iyah tersebut belum resmi didirikan.

Kemudian pada tahun 1926 KH. Wahhab Chasbullah membuat sebuah panitia kecil. yang bernama Komite Hijaz, Panitia ini bertugas menemui Raja Ibnu Saud di Hijaz (Saudi Arabia) untuk menyampaikan beberapa permohonan. Hal ini disebabkan Semenjak Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram.

Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh.  Saat itu terjadi eksodus besar-besaran para ulama dari seluruh dunia yang berkumpul di Haramain, mereka pindah atau pulang ke negara masing-masing, termasuk para santri asal Indonesia.

Setelah Komite Hijaz ini, direstui oleh KH. Hasyim Asy’ari, maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar Mekkah.

Para ulama dipimpin K.H Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH. Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz. namun, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim KH. Asnawi.

Dari situasi dan kondisi tersebut maka lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama, nama yang diusul KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz pada 16 Rajab atau bertepatan dengan 31 Januari 1926. Riwayat-riwayat tersebut terkait satu sama lain, yaitu ikhtiar lahir dan batin. lalu didaftarkan pada Gubernur Hindia Belanda. Salah satu penyusun anggaran dasar organisasi Jam’iyah nahdlatul ulama, saat itu adalah KH Dahlan Nganjuk.

Peristiwa sejarah itu juga membuktikan lahirnya Nahdlatul Ulama tidak hanya untuk merespon kondisi rakyat yang sedang terjajah, persoalan keagamaan, dan persoalan sosial di Tanah Air, tetapi juga menegakkan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam yang telah diperjuangkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Setelah Nahdlatul ulama ini resmi didirikan maka memutuskan tugas delegasi Komite Hijaz yang akan dikirim ke Muktamar Dunia Islam dengan lima permuhonan :

  1. Memohon diberlakukan  kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu  dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran  antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan  mazhab tersebut  di bidang tasawuf, aqoid maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudaha terkenal kebenarannya. Hal tersebut tidak lain adalah semata-mata untuk  memperkuat hubungan  dan persaudaraan umat Islam yang bermazhab sehingga umat Islam menjadi sebagi tubuh yang satu, sebab umat Muhammad tidak akan bersatu dalam kesesatan.
  2. Memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat  bersejarah  yang terkenal sebab tempat-tempat tersebut  diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah” dan firman Nya “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya  dan berusaha untuk merobohkannya.” Di samping untuk mengambil ibarat dari tempat-tempat yang  bersejarah tersebut
  3. Memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah  sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan demikian orang  yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan  yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tiak  dimintai lagi  lebih dari ketentuan pemerintah.
  4. Memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang-undang  agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.
  5. Kelima, Jam’iyah Nahdlatul Ulama  memohon  balasan surat  dari Yang Mulia yang menjelaskan bahwa kedua orang delegasinya benar-benar menyampaikan  surat mandatnya dan permohonan-permohonan NU kepada Yang Mulia dan hendaknya surat  balasan tersebut  diserahkan kepada  kedua delegasi tersebut.

Mereka juga memutuskan dibentuknya pengurus yang terdiri dua badan, yaitu badan syuri’ah (legislatif) dan badan Tanfidhiah (eksekutif)

A. Pengurus Syuriyah
Rais Akbar     : KH. Hasyim Asy’ari
Wakil Rais     : KH.A Dachlan Achyat
Katib             : KH.Abdul Wahab Hasbullaah
Naibul Katib : KH. Abdul Halim
Anggota       : KH. M. Alwi, KH. Ridwan, KH. Said, KH. Bisri, KH. Nahrawi, KH. Amin, KH. Masyhuri, dan KH. Abdullah Ubaid.
B. Pengurus Tanfidziyah
Ketua : . H. Hasan Gipo
Wakil : . H. Sholeh Syamil
Sekretaris : . M. Sidiq Sugeng Yudowiro
Wakil : H. Nawawi
Bendahara : H. Mohammad Burhan
H. Ja’far .
C. penasehat 
Syaikh Ahmad Ganjem al-Amir
KH. Doro Muntaha
KHR. Asnawi Kudus
KHR. Ridwan Semarang
KH. Nawawi Pasuruan
KHR. Hambali Kudus

Dengan demikian, jika KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan KH. Wahhab Hasbullah sebagai tokoh yang mewujudkannya, maka sang inspirator berdirinya jam’iyah ini, adalah Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Penulis : Fakhrul

Editor : Ach. Soim

banner 700x350