MENGUKUR KEMULIYAAN ORANG ALIM DAN ORANG AHLI IBADAH

oleh -170 views

Diceritakan, sebagian orang-orang sedang berselisih faham tentang “Siapa yang lebih mulia antara orang yang Ahli Ilmu tapi Fasik dan Ahli Ibadah tapi Bodoh? hingga salah seorang dari mereka ingin tahu kebenarannya dengan cara menguji masing-masing dari keduanya. Maka berangkatlah ia untuk yang pertama kalinya menuju Musholla Si Bodoh yang sedang beribadah.

Dengan cara bersembunyi orang itu menguji Si Bodoh sambil berkata: “Wahai hambaku, aku telah menerima doa dan telah mengampuni dosa-dosamu, maka tinggalkanlah ibadahmu dan beristirahatlah.”

“Wahai Tuhanku sesungguhnya inilah yang aku harap-harapkan darimu, sejak dulu telah memujamu, bersyukur padamu dan menyembahmu”. Jawab Si Bodoh, yang mengira bahwa suara tadi bersumber dari Tuhan.

Mendengar jawaban Si Bodoh, orang itu memberi kesimpulan bahwa Si Bodoh telah salah besar dan menjadi kafir sebab kebodohannya.

Kemudian orang itu berangkat menuju rumah Si Alim, di sana ia mendapati Si Alim tapi Fasik sedang mabuk-mabukan minum Khamer (miras).

Sambil bersembunyi orang itu berkata pada Si Alim yang sedang mabuk berat : “Wahai hambaku, takutlah engkau padaku, aku adalah Tuhanmu, aku telah menutupi dosa-dosamu sedangkan engkau tidak malu kepadaku, aku akan membuatmu celaka.”

Mendengar ucapan orang itu, Si Alim seketika menghunus pedangnya beranjak keluar mencari sumber suara tadi sembari berkata:

“Wahai orang yang dilaknat, engkau tidak mengetahui Tuhanmu, aku yang akan mengajarimu tentang Tuhanmu.”

Mendengar jawab tegas dan ancaman Si Alim, orang itu lari tunggang langgang karena ketakutan.

Alhasil, orang itu menjadi tahu dan memberi kesimpulan bahwa Ilmu dan Ahlinya lebih mulia dibanding Ahli Ibadah tapi Bodoh.

Dari sepenggal kisah ini, kita bisa belajar bahwa orang Alim meski Fasik, ia masih lebih mulia dan dicintai oleh Allah SWT dibanding  orang yang Ahli ibadah tapi ia Bodoh karena setiap amal ibadah yang tidak disertai dengan ilmu pengetahuan maka tidak sah dan akan ditolak. Jika disekitar kita ada orang Alim tapi kelakuannya menjurus kefasikkan, maka kita diminta untuk tetap memuliakan orang Alim tersebut dan ingkar pada perbuatannya yang tidak sesuai tatanan Syari’at sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

 

العالم حبيب الله ولو كان فاسقا والجاهل عدو الله ولو كان عابدا

“Orang alim adalah kekasih Allah SWT walaupun ia itu Fasik, sedangkan orang yang bodoh adalah musuh Allah swt.meskipun ia Ahli Ibadah.”

Selain itu, satu orang Alim lebih ditakuti oleh Syetan dari pada orang seribu Ahli Ibadah tapi bodoh karena Syetan tahu, tidak mudah menggoda orang Alim dikarenakan orang yang Alim sangat mengetahui bentuk tipu daya Syaitan—dapat membedakan bisikan datang dari Syaitan dan bisikan yang datang dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

 

ما عبد الله تعالى بشيئ أفضل من فقه في الدين, ولفقيه واحد أشد على الشيطان من األف عابد ,ولكل شيئ عماد وعماد هذا الدين الفقه

“Allah SWT tidak memberi seseorang hamba anugerah yang lebih utama selain pemahaman (ilmu) tentang agama. Dan satu orang Alim lebih sulit diperdaya oleh syetan dari pada seribu Ahli Ibadah yang tidak memiliki ilmu (bodoh). Setiap sesuatu memiliki tiang, dan tiang agama ini adalah ilmu agama (fikih).”

Sayyidana Umar bin Khattab ra berkata:

 

موت ألف عابد قائم الليل صائم النهار أهون من موت عالم بصير بحلال الله وحرامه

“Kematian seribu orang ahli ibadah yang rajin shalat malam dan puasa di siang harinya itu tidak sebanding dengan kematian seorang ulama yang mengerti perkara dihalalkan dan diharamkan Allah SWT (Syariah).”

Maka dari itu sudah selayaknya bagi kita umat Islam untuk selalu gemar dan semangat menuntut ilmu sebelum diangkatnya para ulama sehingga kita tidak menjadi orang-orang yang bodoh yang selalu menjadi incaran Syetan agar bisa bersama masuk ke neraka.

Rasulullah SAW telah mewajibkan kepada seluruh umatnya agar menuntut ilmu, Beliau bersabda:

 

طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

“Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap orang muslim baik laki-laki ataupun perempuan.”

Dan yang dimaksud ilmu dalam hadits tersebut adalah ilmu agama seperti mengetahui tata cara Sholat, Zakat, Puasa dan segala hal yang diwajibkan oleh Syari’at Islam, bukan ilmu-ilmu yang bersifat formal seperti ilmu Kedokteran, Astronomi, Falsafat dan lainnya yang hukumnya Sunah.

Penulis : Fakhrullah

Referensi :

  • Ihya’ Ulumuddin| Syaikh Abu Hamid Muhammad al-Ghazaliy| Thoha Putra juz 1 hal 9-10, juz 2 hal 173
  • Muroqil Ubudiyyah bi Syarhi Bidayati al-Hidayah| Syaikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Jawi| Darul al-Kutub hal 15
banner 700x350