Belajar dari Ketawadu’an KHS Abdullah Schal

oleh -1.658 views

Syaichona.net- Waktu itu fajar mulai terbit, ayam-ayam pun mulai berkokok seorang santri yang sekaligus menjadi supir kiyai yang bernama Ruki kebetulan tidak tidur, dia menikmati suasana petang di Pesantren Demangan salah satu pesantren tertua yang didirikan oleh Mbah Kholil Bangkalan, tanpa sengaja dia melihat seseorang sedang memungut sampah dedaunan, awalnya Ruki mengira dia santri seperjuangannya.

Dengan rasa penasaran Ruki mulai mendekati orang tersebut namun dalam benaknya, Ruki masih berangan-angan, “siapa gerangan yang memungut dedaunan kering tadi, kok gak seperti biasanya”, karena keadaan waktu itu masih lumayan petang.

Dengan rasa penasaran yang cukup membuatnya kepo, perlahan Ruki menghampiri orang tersebut, singkat cerita, setelah jarak Ruki dengan orang tersebut lumayan dekat, dia sontak langsung kaget, dan langsung menundukkan kepala, karena yang dia kira santri biasa ternyata KHS. Abdullah Schal, Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil saat itu.

Rukipun merasa semakin takjub pada sosok Kiyai yang dilayaninya selama ini, bagaimana seorang Kiyai besar seperti KHS. Abdullah Schal tidak risih memungut dedaunan dan sampah yang berserakan di Pesantren, KHS. Abdullah Schal mungkin tidak menyuruh langsung kepada para santri untuk menjaga kebersihan lingkungan pesantren namun beliau memberikan contoh dan suri tauladan secara langsung kepada para santri, dalam pandangan KHS. Abdullah Schal sebuah ilmu seperti bunyi hadits “kesucian sebagian dari iman” bukan hanya merupakan sebuah konsep namun lebih kepada perintah untuk diamalkan oleh setiap muslim.

Pernah suatu hari beliau mengumandangkan adzan subuh sendiri, diceritakan bahwasanya ketika subuh, beliau sering adzan sendiri tanpa membangunkan santri, melihat kebiasaan yang beliau lakukan ini membuat sebagian santri merasa tidak enak dan malu, karena adzannya didahului oleh kiyai, bahkan diceritakan bahwa sebagian santri karenaingin bangun lebih dulu dari kiyai sampai rela tidur di tempat yang biasa dilewati kiyai, namun hasilya nihil, karena ternyata kiyai lewat jalan lain untuk menuju ke tempat adzan.

KHS. Abdullah Schal memang dikenal sebagai orang yang rendah hati semasa hidupnya, beliau bahkan sungkan menyuruh langsung kepada para santri karena beliau merasa para santri yang berada di Pondok Pesantren Demangan bukanlah santri beliau sendiri melainkan santri-santri Syaikhona KH. Moh. Kholil atau yang dikenal dengan sebutan mbah Kholil Bangkalan, sehingga KHS. Abdullah memposisikan dirinya sebagai khudam atau pelayan Syaikhona KH. Moh. Kholil yang bertugas merawat santri-santri Demangan, sungguh sebuah karakter dan nilai-nilai budi luhur yang sulit ditemukan pada pribadi seseorang di zaman global ini.

Penggalan cerita ini dikutip dari salah satu teman Ruki dimasa mondoknya yang bernama Moh. dahlan, semoga kita semua bisa mantauladani nilai-nilai ketulusan yang diajarkan oleh almarhum almaghfurlah KHS. Abdullah Schal. Amin

Penulis : Fachrun As

banner 700x350