KASIH DAN PERAN SEORANG IBU PADA ANAK-ANAKNYA

oleh -133 views

Syaichona.net- Betapa besarnya perjuangan seorang ibu saat kita masih balita. Ia rela tidak tidur dimalam suntuk untuk menenangkan kita yang menangis menggelegar meski kantuk melandanya. Ia tidak pernah lelah menggendong tubuh mungil kita. Kita dibawanya kemana-mana untuk melihat duni—dunia yang penuh cerita dan sandiwara ini.

Ia selalu bergerak cekatan tanpa kenal lelah. Tidak ada kata repot atau merasa berat hati mengedong tubuh mungil kita meski tangan kanannya semabari memegang gagang sapu, menyapu lantai atau halaman sebagaimana yang dilakukan semua ibu di rumah. Kadang di dapur sembari menggendong kita, ia memasak nasi dan menggoreng lauk demi suami dan anak-anaknya yang lain agar bisa makan bersama. Itulah sekelumit perjuangan seorang ibu saat merawat dan membesarkan kita.

Ketika kita sudah dewasa. Seorang ibu selalu memberikan semangat dan saran pada anaknya, untuk terus berlari mengejar mimpi, menggalang cita-cita dan pemetik bintang kesuksesan. Seandainya sejuta kegagalan dan kemalangan membuat kita terjatuh berkali-kali. Sebanyak itu pula, Ibu akan menyuruh kita bangkit dan terus berlari lagi. Ibu pun akan selalu menjadi tempat sandaran keluh kesah kita. Petuah dan doa ibulah yang akan menjadi pelecut semangat kehidupan kita. Itulah bentuk kasih sayang seorang ibu. Kasih yang tak terkira, samudara yang tidak bertepi.

Pepatah mengatakan: “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan” atau “Kasih anak sepenggal masa. Kasih ibu sepanjang masa”. Kasih ibu seluas tujuh petala langit dan seantero bumi. Dari luasnya kasih dan jasa ibu pada kita, hingga dikatakan: Seorang anak tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan ibu meski satu erangan saat ibu melahirkan kita.

Tidak cukup disitu. Ibu pun menjadi barometer kwalitas seorang anak sebelum beranjak dewasa. Sebab ibu adalah Madrasatul Ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Senada dengan apa yang yang telah disampaikan Hafizd Ibrahim:

الأم أستاذ الأساتذة الألى شغلت مأثرهم مدى الأفاق

“Ibu adalah gurunya guru (maha guru) yang jasanya menyebar diberbagai penjuru tidak dapat terlupakan sepanjang masa”

Selain itu, etika dan akhlaq seorang anak pun pasti tidak akan lepas dari peran seorang ibu. al-Ma’ruf al-Rashafi mengatakan:

ولم أر للخلائق من محل يهدبها كحضن الأمهات

“Saya tidak pernah melihat pendidikan akhlaq yang dapat mengganti posisi seorang ibu”

وأخلاق الوليد تقاس حسنا بأخلاق النساء الوالدات

“Kebaikan akhlaq seorang anak akan selalu mengakar pada kebaikan akhlaqnya ibu yang melahirkannya”. Hal ini sesuai dengan adagium terkenal: “Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Oleh kerena itu, maka peran seorang ibu sangat penting bagi masa depan anak-anaknya. Dialah pondasi kokoh dalam kehidupan dunia dan mercusuar petunjuk yang terang untuk berlabuh di dermaga akhirat meniti surga. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“الجنة تحت أقدام الأمهات” رواه الديلمي

“Surga dibawah telapak kaki ibu”(H.R. al-Dailami).

Kata “Aqdami al-Ummahat” (telapak kaki ibu) dalam hadits ini memiliki arti majaz. Arti melangkah merupakan makna hakikat dari kegunaan kaki digunakan pada arti majaz yaitu perbuatan baik. Sebab melangkah maju tentunya bertujuan untuk mendapatkan kebaikan dan kata “Aqdami al-Ummahat” (telapak kaki ibu) dalam hadits tersebut juga dapat diartikan secara majaz pada arti banyaknya peluang tidaknya seorang anak kelak menjadi penghuni surga tergantung pada baik tidaknya seorang ibu dalam mendidik anak.

Waallahu A’lamu

Penulis: Muh. Rosul

Referensi: Buku Solusi Fikih Kumpulan Tanya Jawab Dengan KH. M. Azizi Chasbullah. Hal 308

banner 700x350