ABDULLAH BIN ABI WADA’AH, MENANTU PILIHAN SAID BIN MUSAYYAB (2)

oleh -170 views

Setelah gagal dengan cara halus, utusan itu akhirnya memakai cara kekerasan: “Saya khawatir, bila engkau (menolak)nya akan merasakan kekerasan hukuman Amirul Mukminin yang tidak bisa ditanggung oleh manusia manapun akibat siksaan dan kehinannya.” Ancam utusan itu.

Sa’id bin al-Musayyab menjawab: “Allah ﷻ telah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا ۗ

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman….”(QS. Al-Hajj : 38).

Segala cara telah dilakukan oleh utusan Khalifah namun hati Sa’id bin Musayyab tidak kunjung melunak untuk menerima pinangan itu.

Ada beberapa alasan Sa’id bin Musayyab menolak pinangan itu, pertama karena perilaku putra mahkota yang dianggap kurang baik. Kedua, Sa’id bin Musayyab selalu mengukur setiap masalah dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan cahaya keimanannya. Menurut Sa’id bin Musayyab jika ia merestui putrinya dipinang putra Khalifah, sama halnya ia menjerumuskan putrinya sendiri kedalam sangkar emas. Meski putrinya tampak akan bergelimang harta, emas dan sutra serta pelayan-pelayan yang siap melayani ia tidak akan bisa menikmati semua itu bahkan ia akan merasa berada dalam kubangan neraka yang dinyalakan keluar Bani Marwan dengan lisan-lisan kebebasan mereka yang siap membakar. Dan Allah ﷻ kelak pasti akan menanyakan Sa’id bin Musayyab perihal putrinya ketika Amirul Mukminin, putra dan segenap pengikutnya ditanyakan pertanggung jawabannya di hadapan Allah ﷻ tentang segala perbuatan yang telah dilakukan bersama orang-orang yang merampas hak orang lain, orang-orang yang lalim, orang-orang yang melampaui batas dan pembuat kerusakan di muka bumi. Dengan alasan inilah, Sa’id bin Musayyab memutuskan tidak akan menikahkan putrinya dengan keluarga kerajaan dan harus menikah dengan orang-orang yang shaleh.

******

Pada hari-hari berikutnya. Seperti biasanya telah sholat Ashar, Sa’id bin Musayyab mengisi pengajian di Masjid an-Nabawi. Satu persatu murid dipandanginya barang kali ada yang belum datang atau yang tidak hadir. Ternyata benar, satu di antara muridnya tidak tampak di pengajian itu. Ia adalah Abdullah bin Abi Wada’ah. Menurut kabar dari temannya Abdullah bin Abi Wada’ah sudah tiga hari berturut-turut tidak hadir dipengajian tanpa di ketahuinya. Sa’id bin Musayyab merasa khawatir jika ketidak hadirannya disebabkan sakit atau karena ada masalah yang menimpanya. Sa’id bin Musayyab pun bertanya kepada murid-murid yang lainnya tentang keadaan Abdullah bin Abi Wada’ah, tetapi tidak satu yang tahu alasannya.

Setelah selesai pengajian Sa’id bin Al-Musayyab, pulang ke rumahnya dan sana ia ditunggu putri tercintanya. Putri yang telah dibaluri cahaya-cahaya ilmu yang berpadu dengar paras jelitanya. Sang putri langsung hujani Sa’id bin Musayyab dengan beberapa pertanyaan di antaranya tentang tafsiran Ayat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa api neraka.” (QS. Al-Baqarah Ayat 201).

Apa yang maksud Hasanah (kebaikan) di dunia dalam Ayat tersebut wahai Ayah!? Tanya putri Sa’id bin Musayyab.

Sa’id bin Musayyab menjawab: “Putriku! Kata Hasanah (kebaikan) di dunia dalam Ayat tersebut disebut selaras dengan Hasanah (kebaikan) di akhirat. Adapun maksudnya adalah tidak ada kebaikan bagi seorang laki-laki kecuali istri yang shalihah dan begitu juga tidak ada kebaikan bagi seorang wanita kecuali: ……………… belum sempat Sa’id bin Musayyab meneruskan jawabannya. Tiba-tiba di luar ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah dibuka ternyata Abdullah bin Abi Wada’ah murid kesayangannya.

Kemana saja engkau Ya Ibnu Abi Wada’ah! Beberapa hari tidak ikut pengajian?” Sambut Sa’id bin Musayyab penuh perhatian.

“Maafkan saya wahai Tuan Guru! Istriku telah meninggal dunia, aku sibuk mengurusinya hingga tidak sempat hadir di pengajian,” Jawab Abdullah bin Abi Wada’ah.

“Mengapa engkau tidak memberitahu kami sehingga kami bisa menemanimu, ikut berbela sungkawa dan mengantarkan jenazah istrimu serta membantu segala keperluanmu. Kata Sa’id bin Musayyab.

Kemudian Sa’id bin Musayyab berikan nasehat dan siraman rohani pada Abdullah bin Abi Wada’ah, menggambarkan keadaan surga dan neraka serta perhitungan di alam kubur hingga membuat Abdullah bin Abi Wada’ah berlinangan air mata membayangkan keadaan istrinya di alam kubur.

Setelah itu Sa’id bin Musayyab melanjutkan percakap dengan putrinya yang sempat terputus oleh ketokan pintu Abdullah bin Abi Wada’ah dengan ucapan …………… : Seorang laki-laki (suami) yang shaleh, yang sejatinya kalimat ini diarahkan pada Abdullah bin Abi Wada’ah.

“Apakah engkau belum terpikir untuk mencari pengganti istrimu atau menikah lagi wahai Ibnu Abi Wada’ah!” Tanya Sa’id bin Musayyab dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian agar tidak menyinggung perasaan muridnya.

“Semoga selalu merahmati Anda wahai Tuan Guru! Siapakah orang yang mau menikahkan anak perempuannya dengan pemuda sepertiku yang fakir dan tidak memiliki harta kecuali tiga dirham ini!?,” Tandas Abdullah bin Abi Wada’ah dengan jujur.

“Aku” Jawab Sa’id bin Al-Musayyab.

Abdullah bin Abi Wada’ah, terkejut mendengar jawaban gurunya. Antara percaya dan tidak percaya, Abdullah bin Abi Wada’ah berkata pada dirinya: “Ah, mungkin beliau hanya ingin membantuku dengan sebagian hartanya agar aku bisa menikahi gadis yang sepadan denganku yang fakir ini atau mungkin beliau akan mencarikanku seorang gadis fakir yang rela menikah denganku.”

Namun belum selesai Abdullah bin Abi Wada’ah meyakinkan dirinya, Sa’id bin Musayyab menegaskan kembali ucapannya: “Aku yang akan menikahkanmu dengan putriku.”

Mendengarnya penegasan gurunya Abdullah bin Abi Wada’ah hanya tertegun diam dan tidak bisa berkata-kata serta pasrah pada kenyataan.

“Hingga aku melihat Tuan Guru meletakan tangannya di atas tanganku. Sebelum itu Tuan Guru telah memanggil beberapa orang muridnya yang kebetulan masih berada di dalam masjid. Ketika mereka sudah berkumpul di Masjid, Tuan Guru mengucapkan Basmalah, lafadz hamdalah dan shalawat atas Rasulullah ﷺ. Kemudian Tuan Guru berkata: “Wahai Jama’ah kaum Muslimin! Saksikanlah hari ini Sa’id bin Musayyab telah menikahkan putri kesayangannya dengan Abdullah bin Abi Wada’ah sesuai dengan apa yang telah tetapkan Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ dengan maskawin berupa uang tiga Dirham”. Kemudian Tuan Guru metutupnya dengan bacaan Sholawat pada Nabi Muhammad ﷺ dan pengharapan semoga kita semua diberi pertolongan dan petunjuk berada di jalan Allah ﷻ.” Kenang Abdullah bin Abi Wada’ah.
Bersambung….

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📑 Abi Abdillah bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Abdariy al-Malikiy al-Fasiy| Al-Madkhal| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 156

📑 Manna’ al-Qatthan| Tarikh Tasyri’ al-Islamy| Maktabah Wahbah hal 258-259

📑 Hani al-Hajj| Alfa Qishshah wa Qishshah min Qishashi ash-Shalihin wa ash-Shalihat wa Nawadir az-Zahidin wa az-Zahidat| Al-Maktabah at-Tawfiqiyah hal 426-430

📑 Dr Sayyyid bin Husain al-Afaniy| Shalahu al-Ummah fi Uluwi al-Himmah| Muassasatu al-Risalah juz 7 hal 177

📑 Dr Abdurrahman Ra`fat al-Basya| Shuwarun Min Hayaati at-Taabi’iin| Daru al-Adab al-Islamiy hal 201-219.

.

banner 700x350