ABDULLAH BIN ABI WADA’AH, MENANTU PILIHAN SAID BIN MUSAYYAB (1)

oleh -336 views

Nama lengkapnya Abdullah bin Abi Wada’ah bin Shubairah bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm bin Amer al-Qursyi as-Sahmiy. Ia adalah seorang lelaki yang sangat miskin. Kerut-kerut kemiskinan menyemburat jelas di wajahnya. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan berkata: “Engkau adalah orang yang miskin papa!” Namun kemiskinan tidak lantas membuatnya putus asa dari memburu ilmu pengetahuan. Dalam hatinya selalu ada tekat yang embara untuk menjadi ahli ilmu. Ia akhirnya berguru pada Sa’id bin al-Musayyab di Madinah, ulama besar pada masa itu.

Dari gurunya inilah, ia meneguk ilmu-ilmu al-Qur’an dan as-Sunah. Setiap kali ia berusaha meminum mata air ilmu yang murni dan bersih ini, ia semakin haus untuk terus meminumnya. Karena itu, ia begitu gigih tanpa kenal lelah datang ke majelis pengajian gurunya. tapi, tetap saja ia seperti tidak pernah kenyang dengan tetes-tetes ilmu dan hikmah yang mengalir dari lisan Sa’id bin Musayyab. Seolah ia mendapatkan madu surga dan air telaga Salsabila berupa ilmu syar’i dan merasakan harum bunga-bunga kasih karena Allah ﷻ antara murid dan gurunya.

*****

Hari demi hari Sa’id bin Musayyab menaburkan benih-beni ilmu dan hikmah dalam kalbu Abdullah bin Abi Wada’ah, maka tumbuhlah cahaya firman-firman Allah ﷻ dan hadits Nabi ﷺ di hati muridnya hingga Abdullah bin Abi Wada’ah menjadi sakau dan ketagihan untuk selalu bertemu dengan gurunya. Ia senantiasa tunduk mengaji dan menyimak setiap kata mutiara al-Qur’an dan hadits yang disampaikan gurunya hingga ia dapat merasakan indah dan kemuliaan hidup.

Imam yang agung Sa’id bin al-Musayyab sendiri adalah seseorang yang dikaruniai Allah ﷻ banyak harta, ilmu yang luas, serta nasab yang mulia. Beliau keturunan suku Quraisy asli. Beliau dikenal seorang yang wara’, zuhud, dan bertakwa. Beliau sudah menunaikan ibadah haji ke Baitullah sebanyak lebih dari 30 kali, dan selama 40 tahun tidak pernah ketinggalan mendapatkan takbiratul ihram pada setiap jamaah serta selalu berada pada shaf pertama selama 40 tahun tersebut.

Hubungan antara guru dan murid ini terus berlangsung bahkan semakin erat diuntai dengan rasa kasih dan cinta karena Allah ﷻ yang kelek keduanya akan diikat bersama dalam jeruji cahaya ilahi dan akan menjadi satu keluar idaman yang ridhai Allah ﷻ.

*****

Dalam beberapa naskah ulama disebutkan, bahwa Sa’id bin al-Musayyab mempunyai seorang putri yang dikenal sebagai seorang mukminah yang nyaris sempurna. Selain berparas jelita, imannya juga teguh dan keilmuannya tentang Kitabullah dan Sunah Rasulullah begitu luas.

Amirul Mukminin masa itu, yakni Abdullah bin Marwan (sebagian riwayat menyebut Hisyam bin Abdul Malik) telah mendengar kabar putri dari Sa’id bin al-Musayyab tersebut. Dia ingin meminang putri Sa’id bin al-Musayyab untuk anaknya, sang putra mahkota.

Keputusan yang diambil oleh Khalifah untuk menjodohkan sang putra mahkota dengan putri Sa’id bin al-Musayyab, tentu melalui tahap pemikiran yang matang. Ia tidak ingin singgasananya kelak ditempati permaisuri tidak berpendidikan. Ia berharap dengan perjodohan ini bisa menjaga trah kemuliaan leluhurnya Bani Ummayah dan hanya pada diri putri Sa’id bin al-Musayyablah yang bisa memenuhi semua kreteria harapan itu. Selain itu ia juga berharap agar sang putra mahkota bisa menjadi pagar yang mampu menjaga kebun keilmuan dan taman budi perkerti yang dimiliki putri Sa’id bin al-Musayyab.

Selang beberapa hari, Amirul Mukminin mengutus seseorang untuk menyampaikan niat baiknya pada Sa’id bin al-Musayyab. Namun, apa jawaban Sa’id bin al-Musayyab? “Tolong sampaikan kepada Amirul Mukminin bahwa saya menolak pinangan ini.”

Utusan itu terperangah mendengar kata penolak dari Sa’id bin al-Musayyab dan ia berkata, “Apa alasan Anda menolak pinangan Amirul Mukminin?.”

Sa’id bin al-Musayyab menjawab: “Karena putra mahkota adalah laki-laki yang tidak terpuji perilakunya.”

Kemudian utusan itu kembali bertanya: “Apakah Anda menolak kekuasaan, kemegahan, kekayaan, dan harta benda yang melimpah ruah Amirul Mukminin?” Benarkah Anda menolaknya?

Sa’id bin al-Musayyib menjawab: “Jika nilai dunia dengan segala isinya tidak lebih seharga satu sayap nyamuk di sisi Allah, maka sebesar apakah kiranya nilai kekuasaan Amirul Mukminin itu?”. Bersambung…

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📑 Abi Abdillah bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Abdariy al-Malikiy al-Fasiy| Al-Madkhal| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 156

📑 Manna’ al-Qatthan| Tarikh Tasyri’ al-Islamy| Maktabah Wahbah hal 258-259

📑 Hani al-Hajj| Alfa Qishshah wa Qishshah min Qishashi ash-Shalihin wa ash-Shalihat wa Nawadir az-Zahidin wa az-Zahidat| Al-Maktabah at-Tawfiqiyah hal 426-430

📑 Ad-Daktur Sayyyid bin Husain al-Afaniy| Shalahu al-Ummah fi Uluwi al-Himmah| Muassasatu al-Risalah juz 7 hal 177

banner 700x350