SPESIAL ONE ABDULLAH BIN ABBAS RA DALAM MENTAKWIL AL-QUR’AN (1)

oleh -367 views

Di kalangan para sahabat Nabi ﷺ ada beberapa sahabat yang memiliki spesialisasi dalam ilmu tertentu di antaranya Abdullah bin Abbas ra speaslis mentakwil dan menafsiri al-Qur’an dengan jitu. Dalam banyak riwayat shahih disebutkan bahwa keahlian yang di miliki Abdullah bin Abbas ra didapat melalui barokah doa Nabi ﷺ yang dikhusus padanya sebagaimana keterengan beberapa hadits berikut:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ خَالِدٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ضَمَّنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى صَدْرِهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ وَقَالَ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ حَدَّثَنَا مُوسَى حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ خَالِدٍ مِثْلَهُ وَالْحِكْمَةُ الْإِصَابَةُ فِي غَيْرِ النُّبُوَّةِ

Telah bercerita kepada kami Musaddad, telah bercerita kepada kami Abdu Warits dari Khalid dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Rasulullah ﷻ memelukku ke dada beliau seraya berdo’a: “Ya Allah, ajarkanlah anak ini hikmah”. Telah bercerita kepada kami Abu Ma’mar telah bercerita kepada kami ‘Abdu Warits; “…..dan beliau berdoa: “Ajarkanlah dia Al Kitab (al-Qur’an) “. Telah bercerita kepada kami Musa telah bercerita kepada kami Wuhaib dari Khalid seperti hadits ini. Dan yang dimaksud dengan al-Hikmah adalah kebenaran yang didapat seseorang bukan dari jalan kenabian”.(HR. Al-Bukhari no. 3546).

Dalam kitab Tarikh Madinatu Damsyik, Syaikh al-Hadidz Abi al-Qasim Ali bin al-Husain Ibnu Hibatillah bin Abdullah atau yang dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Asakir (w. 541 H) saat menulis otobiori Ibnu Abbas ra mengisahkan: “Pada suatu hari Mu’awiyah bin Abi Shufyan ra berkata pada Abdullah bin Abbas ra: “Tadi malam deburan ombak al-Qur’an dalam dua Ayatnya telah mengahantamku (aku tidak mengerti takwilan dua Ayat dalam al-Qur’an) lantas aku teringat akan dirimu”.

“Dua Ayat apa itu?” Tanya Ibnu Abbas ra.

Mu’awiyah bin Abi Shufyan ra berkata: “Pertama, firman Allah ﷻ:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus as), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya)…” (QS. Al-Anbiya’: 87).

Maka aku berguman: “Nabi Yunus as adalah Rasulullah, kenapa Ia bisa punya sangkaan bahwa kekuatan Allah ﷻ tidak akan mampu untuk menjangkau (menghukum)nya. Padahal jika Allah ﷻ berkehendak apapun bisa terjadi. Ini bukan prasangka yang keluar dari orang yang beriman”.

Kedua, firman Allah ﷻ:

حَتّٰٓى اِذَا اسْتَا۟يْـَٔسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوْا جَاۤءَهُمْ نَصْرُنَا ۙ

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami…” (QS. Yusuf: 110).

Aku berguman: “Subhanallah! Bagaimana bisa para rasul tidak mempunyai harapan lagi(putus asa) dari pertolongan Allah ﷻ? Atau mereka berprasangka bahwa Allah ﷻ telah mendustakan apa yang telah dijanjikan Allah ﷻ pada mereka.” Dua Ayat inilah yang tidak aku ketahui takwalannya.

Ibnu Abbas ra berkata: “Yang maksud Ayat pertama adalah bahwa Nabi Yunus as berprasangka (takut) kalau kesalahannya tidak bisa dijangkau kuasa Allah ﷻ yang mampu mendatangkan hukuman padanya bukan ragu akan kekuatan dan kuasanya. Adapun yang dimaksud Ayat yang kedua adalah sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (putus asa) tentang keimanan kaumnya dan telah meyakini bahwa Dzat yang telah memberikan kerelaan-Nya secara terang-terangan bisa saja mendustakan (mecabut janji-Nya pada mereka secara batin) hal ini adalah bencana yang besar bagi mereka bukan putus asa dari pertolongan Allah ﷻ dan bukan berprasangka bahwa Allah ﷻ telah mendustakan apa yang telah dijanjikan Allah pada mereka.”

Mu’awiyah bin Abi Shufyan ra berkata: “Kau telah melapangkanku dari masalah ini, semoga Allah ﷻ senantiasa melapangkan (hidup)mu.”

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

📘 Al-Hafidz Syihafuddin Ahmad bin Ali bin Muhammad Ibnu Hajar al-Asqolaniy| Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhariy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 7 hal 125-127.

📘 Tarikh Madinatu Damsyik| Abi al-Qasim Ali bin al-Husain Ibnu Hibatillah bin Abdullah atau Ibnu ‘Asakir| Daru al-Fikr juz 73 hal 199.

banner 700x350