BERSABARLAH ISTRIKU!

oleh -349 views

[Kisah Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dan Istrinya]

Suatu waktu Istri Syekh Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami hendak ke pemadian air panas, Syekh Ibnu Hajar berkata kepadanya :

“Sabar dulu istriku, aku akan kumpulkan uang dulu untuk ongkos masuk ke sana.”

Maka ketika Allah ﷻ membukakan rizki kepada Ibnu Hajar, Beliau sisihkan sedikit sampai terkumpul setengah Riyal, lalu Beliau berikan kepada istrinya.

Sang istri pun pergi ke pemandian air panas, ketika sampai disana dia meminta penjaganya untuk membukakan pintu untuknya namun di tolak.

Penjaga berkata : “Hari ini saya tidak akan membukakan pintu pemandian air panas ini untuk siapapun, karena istri Syekh al-‘Alim al-Faqih Muhammad ar-Romli sedang berada di dalam bersama para sahabatnya. Dia berpesan, hari ini jangan ada satu pun orang yang dibukakan pintu dan Dia telah memberi kepada kami ongkos 25 rayal sebagai ganti biaya masuk perhari. Jika engkau ingin masuk ke pemandian datanglah besok pagi, kalo hari ini tidak bisa.”

Karena dilarang masuk, Istrinya Syekh Ibnu Hajar pulang kerumah, menemui suaminya sembari menggerutu kesal:

“Sekarang yang mempunyai ilmu adalah Syekh Muhammad ar-Romli yang istrinya hari ini masuk ke pemadian air panas dengan membayar 25 riyal dan tidak mengizinkan seorangpun untuk masuk kesana. Lalu mana ilmumu? Sudah fakir, hidup dalam kesulitan dan kesusahan. Ambillah uangmu yang kau kumpulkan berhari-hari ini!”.

Mendengar omelan istrinya Syekh Ibnu Hajar hanya diam bersabar lalu berkata:

“Kalau aku! Tidak mengharapan sepeser pun dari dunia. Aku rela atas apa yang Allah ﷻ ditetapkan kepadaku. Jika kau menginginkan dunia, ayo kita ke sumur zam-zam.”

Keduanya pun pergi kesumur zamzam, sesampainya disana, Syekh Ibnu Hajar menimba air Zamzam. Ketika timba diangkat, ajaib timbanya penuh diisi dengan uang dinar.

Beliau berkata : “Apakah segini cukup?”
Istrinya menjawab : “Kurang.”

Syekh Ibnu Hajar kembali menimba untuk kedua kalinya, ternyata isinya penuh dengan uang dinar lagi.

Beliau berkata : “Apakah segini cukup?”
Istrinya menjawab : “Aku ingin tiga timba.”

Syekh Ibnu Hajar kembali menimba untuk yang ketiga kalinya dan isinya juga penuh dinar sama dengan sebelumnya.

Syekh Ibnu Hajar berkata kepada istrinya :
“Aku senang dengan keadaanku yang fakir dan beriktinyar (mencari nafkah dengan bekerja). Aku pilih untukku apa yang ada disisi Allah ﷻ, adapun dunia bagiku semuanya sama bagiku. Dunia akan berlalu dan sirnah, umur dunia tidak ada yang berusia abadi dan kehidupannya hanyalah kehinaan. Dan sekarang kau hanya mempunyai dua pilihan:

Pertama, kembalikan semua uang emas ini ke dalam sumur zam-zam dan engkau masih bersamaku atau yang kedua, kau bawa semua uang emas ini, lalu kau pulang kerumah keluargamu dan ambil talakmu karena aku tidak menginginkan dunia.”

Istrinya berkata : “Bagaimana kalau kita nikmati saja semua uang ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang?.”

Syekh Ibnu Hajar berkata : “Tidak mau.”

Istrinya berkata : “Bagaimana kalau kita kembalikan satu timba saja ke dalam sumur?.”

Syekh berkata Ibnu Hajar : ” Tidak mau.”

Istrinya berkata : “Bagaimana kalau kita kembalikan dua timba dan yang satu timba kita simpan?.”

Syekh Ibnu Hajar berkata : “Tidak mau.”

Istrinya berkata : “Kita ambil satu dinar saja untuk bersenang-senang hari ini.”

Syekh berkata : “Tidak mau, kau kembalikan semua emasnya ke dalam sumur atau kau ambil semuanya, bawa pulang ke rumah keluargamu dan ambil talakmu.”

Istrinya berkata : “Kita kembalikan semuanya ke dalam sumur, aku tidak ingin berpisah denganmu karena kita sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Kau telah memperlihatkan karomah ini dan jika kita berpisah di hari ini? Aku tidak mau, aku memilih untuk bersabar saja (hidup denganmu).”

Wallahu A’lam

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Thuffatu asy-Syraf juz 1 hal 147

✍️Faudu al-Muktar hal 378

banner 700x350