BELAJAR PADA SYAIKH IZZUDDIN, DARI BUKAN KETURUNAN ULAMA HINGGA MENJADI RAJA PARA ULAMA

oleh -504 views

Ilmu bukanlah barang dagangan atau harta benda yang bisa dijual atau diwariskan. Kata orang Madura: Al-Ilmu Nurun (Ilmu itu cahaya) yang harus dicari dan dinyalakan bukan Al-Ilmu Noron (Ilmu sebab keturunan) selalu membanggakan nasab tapi malas belajar dan mengaji pada para guru. Andai ilmu itu diperoleh melalui nasab, maka semua putra ulama dan ilmuwan tidak perlu sekolah dan belajar.

Syaikh Dr. Muhammad bin Ismail Zain Al-Yamani pernah berkata:

العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْخِدْمَةِ، وَالْمَنْفَعَةُ بِالطَّاعَةِ.

“Ilmu diperoleh dengan belajar pada guru, barokah diperoleh dengan mengabdi pada guru dan kemanfaatan diperoleh dengan mematuhi perintah guru.”

Ilmu juga tidak mengenal batas usia, selagi hayat dikandung badan maka kesempatan meraih ilmu tetap terbuka lebar dan siapa pun yang memiliki ilmu meski masih muda belia ialah yang berhak menjadi ulama dan pewaris pada Anbiya.

Saya teringat pada seorang ulama besar yang digelari “Raja Para Ulama” dari kalangan asy-Syafi’iyah yang bernama Syaikh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdi as-Salam ad-Damsyiqi salah satu pencipta kaidah-kaidah atau rumus-rumus fiqih yang abadi dipelajari dan kaji sepanjang masa.

*****

Syaikh Tajuddin as-Subki (w. 771 H) dalam Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubro mengisahkan: “Syaikh Izzuddin pada masa awal hidupnya sangat faqir, karena itulah beliau baru mulai menuntut ilmu pada usia tua. Ia dilahirkan dari keluarga miskin dan dari keturunan orang biasa— bukan keturunan seorang ulama, bangsawan, atau darah biru.

Pada suatu hari di pojok bangunan Madrasah, persis di sebelah utara Masjid Agung Umayyah, Damaskus, Suriah. Di malam yang sangat dingin Syaikh Izzuddin tidur lalu beliau Ihtilam (mimpi basah) dengan segera beliau bangun mensucikan diri dengan mandi di kolam dekat Madrasah yang ada di dalam kawasan Masjid .

Setelah mandi, Syaikh Izzuddin semakin merasakan kedidingan yang mencekam. Beliau mencoba kembali tidur namun naas, beliau kembali Ihtilam (mimpi basah) dan terpaksa harus mandi lagi di kolam yang sama karena pintu gerbang Masjid di kunci ketika malam hari, untuk keluar dari Masjid tentu tidak mungkin. Konon kejadian ini berulang hingga tiga kali berurut (sedikit ada keraguan dari sang pengkisah) hingga membuat Syaikh Izzuddin pingsan karena kedidingin dan di mimpi yang terakhir Syaikh Izzuddin mendengar suara memanggil dirinya:

يا ابن عبد السلام، أتريد العلم أم العمل؟

“Wahai Putra Ibnu Abdissalam! Apakah kau menginginkan ilmu ataukah pekerjaan?”

Syaikh Izzudin menjawab:

العلم لأنه يهدي إلى العمل

“(Aku mengingikan) Ilmu karena ilmu yang menunjukkan pada pekerjaan.”

Pada pagi harinya Syaikh Izzuddin mengambil kitab at-Tambih karya Syaikh Imam Abu Ishak asy-Syairaziy dan mempelajari hingga hafal seluruh isinya dengan waktu singgkat.

Dalam vesri lain, dikutip dari karya al-Ustadz ad-Doktor Syaikh Izzuddin Faruq Abdul Mu’thiy, Wakil Dekan Fakultas Seni Universitas al-Manshurah Mesir yang berjudul “A’lamu al-Fuqaha al-Muhadditsin al-‘Izzu bin Abdu al-Salam Sulthonu al-Ulama”, mengatakan : Pada pagi harinya Syaikh Izzuddin, bergegas pergi suwan pada Syaikh Ibnu ‘Asakir yang kemudian menjadi gurunya, untuk menceritakan perihal mimpinya tadi malam.

لقد بلغت مبلغ رجال. وهذا النداء من السماء يأمرك أن تهب نفسك العلم

“Sungguh, kau sudah sampai pada usia baligh seorang laki-laki dan suara yang memanggil dalam itu berasal dari langit yang memerintahkan agar kau mengabdikan dirimu pada ilmu”. Tutur Syaikh Ibnu ‘Asakir pada Syaikh Izzuddin.

Kemudian Syaikh Ibnu ‘Asakir memberikan Syaikh Izzuddin kitab fikih at-Tanbih karya Syaikh Abu Ishak asy-Syairaziy agar dibaca dan dipelajari sungguh-sungguh dengan durasi waktu 2 minggu. Syahdan, tidak sampai dua minggu dari waktu yang ditentukan Ibnu ‘Asakir, yaitu 3 hari sejak pertemuan itu Syaikh Izzuddin sudah kembali pada Syaikh Ibnu ‘Asakir dengan menghafal semua isi kitab at-Tanbih di luar kepala hingga setelah itu beliau menjadi ulama yang paling alim dan menjadi hamba Allah yang terpilih di zamannya.

*****

Tidak salah orang berkata: “Orang hebat pasti dengan usaha yang hebat pula”. Rupanya slogan ini seperti mengilhami Syaikh Izzuddin untuk terus sabar dan tekun belajar tanpa kenal lelah. Kesabaran dan tekunan beliau bisa dilihat dari sikap beliau yang tak mau memutuskan pelajaran sebelum menyelesaikannya.

Al-Hafidz Syamsuddin Muhammad ad-Dawwadiy (w. 945 H) dalam karya Thabaqat al-Mufassirin dari riwayat Abu Muhammad bin Abdul Wahhab al-Bahnasiy mengisahkan: Bahwa suatu ketika guru beliau berkata:

قد استغنيت عني، فاشتغل مع نفسك

“Engkau sudah tidak membutuhkan apa-apa dariku lagi, belajar sendiri”.

Namun Syaikh Izzuddin tetap saja mengaji dengan tekun kepada sang guru dan mengikuti pelajaran sang guru hingga selesai kajian kitab yang diajarkan.

Dalam riwayat lain juga dikisahkan: Bahwa Syaikh Izzuddin selama 30 tahun beliau tidak tidur malam sebelum benar-benar memahami kitab yang sedang beliau pelajari.

Waallahu ‘Alamu

Penulis: Abdul Adzim

Semoga manfaat dan semoga Allah ﷻ memberikan kita semua anak keturunan dan murid-murid yang melitan serta gemar menuntut ilmu. Amin

Referensi:

📖 Syaikh Tajuddin bin Abdul Kafi as-Subki| Thabaqatu asy-Syafi’yah al-Kubro| Daru al-Kutub juz 8 hal 212-213

📖 Al-Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Ali ad-Dawwadiy| Thabaqat al-Mufassirin| Darul al-Kutub al-Ilmiyah hal 101-102

📖 Syaikh Izzuddin Faruq Abdul Mu’thiy| A’lamu al-Fuqaha al-Muhadditsin al-‘Izzu bin Abdu al-Salam Sulthonu al-Ulama| Darul al-Kutub al-Ilmiyah juz 29 hal 101-102.

banner 700x350