PERMAINAN SYITRANJI ALA IBNU ARABI: TAKTIK MEMENANGKAN PERGULATAN SPIRITUAL MENUJU MA’RIFAT ILAHI

oleh -97 views

Diberbagai kamus bahasa Arab Syithraji (الشطرنج) di artikan sebagai permanin catur, namun az-Zarqani al-Maliki (w. 1710 M/1122 H) seorang pakar hadits, fikih, usul fikih, tasawwu, annotator dan komentator ulung madzhab Maliki dalam kitabnya Abhaju al-Masalik syarah Muwaththa’ Imam Malik mengatakan: Syithraji (الشطرنج) secara bahasa memiliki empat arti salah satu menurut Ibnu Malik al-Adalusi adalah setiap permainan yang memiliki garis-garis (vertikal atau horizantal) yang terjalin tanpa terputus.

Dari itu, meski bernama Syithraji (الشطرنج) atau catur menurut bahasa kamus. Gambar yang dibuat Imam Ibnu Arabi mirip seperti permainan ular tangga yang dimainkan anak-anak Indonesia tempo dulu. Maka tidak salah bila kita berasumsi bahwa gambar tersebut adalah papan permain ular tangga yang mungkin pernah dimainkan para kaum sufi dahulu.

Namun Syaikh al-Tilimsani al-Maliki (w. 1370 M/771 H) selaku annotator kitab Syithraji al-Arifin ini membantah asumsi tersebut. Menurut beliau Syithraji karya Ibnu Arabi ini adalah sebuah replika taktik memenangkan pergulatan spritual seorang hamba yang sengaja dibuat penulisnya (Ibnu Arabi) untuk menunjukkan jalan menuju puncak Ma’rifat Ilahi.

Secara tidak langsung Ibnu Arabi selaku penulis berusaha memberikan rambu-rambu petunjuk pada para penempuh shirathal al-Mustaqim menuju Ma’rifat Billah dengan cara yang elegan dan diridhai Allah ﷻ sembari mengingatkan perlunya menyetir hawa nafsu serta bahaya jalannya terjal yang menukik dan tikungan yang berkelok.

Panah mengarah keatas yang terdapat dalam gambar Syithraji melembangkan situasi jalan menanjak yang harus ditempuh dan faktor-faktor pendukung yang dapat mengantarkan pelakunya kepuncak lebih tinggi. Sedangan tingkat demi tingkat yang dilalui adalah lambang dari derajat spritual yang telah dicapainya.

Adapun rantai-rantai yang berjuntai kebawah adalah melambangkan situasi terjatuh dan faktor-faktor penyebabnya. Sedangkan tingkat-tingkat yang sempat dilalui seorang hamba kemudian menyebabkan ia tergelincir jatuh di sebut Darakat atau jebakan-jebakan yang harus dihindari untuk bisa sampai ke puncak.

Sementara para pelintas atau pendaki utamanya adalah hamba-hamba Allah ﷻ yang menempuh jalan ma’rifat yang diungkapkan oleh Ibnu Arabi dengan bahasa Abdu al-Ijad (Setiap hamba Allah ﷻ baik yang mukmin atau yang kafir, yang baik atau yang durhaka) . Ia mulai berjalan atau mendaki dari satu tingkat ke tingkat yang lainnya dari tingkat pertama bernama ‘adam (ketiadaan) hingga tingkat keseratus bila seorang hamba atau pendaki ma’rifat telah berjalan sesuai denga rambu-rambu syariat dan tasawwuf yang benar dan mengindari jebakan-jebakan yang sengaja dipasang oleh nafsu dan syetan maka ia akan sampai dengan selamat ketingkat paripurna- dari tingkatan al-Ilmu (Ilmu yang bermanfaat) menuju tingkat al-Maliku alhamdi (tampaknya segala puja puji, orang yang sampai pada derajat ini akan selalu bersyukur dan memuji dalah segala kondisi dan waktu) dari al-Kamil (guru atau mursyid yang sempurna ilmunya) tingkat Baqa’ullah (keabadian bersama Allah ﷻ setelah fana). Sebaliknya bila seorang hamba atau pendaki ma’rifat berjalan keluar dari rambu-rambu lalu lintas yang telah ditetapkan meski awalnya berangkat dari Hubb (cinta pada semua ciptaan Allah ﷻ) atau Syahwat (keinginan) ia akan sampai di rumah Maghrur (tertipu) atau di istana syaitan kemudian ia terjungakal dan terjun bebas kebahawah. Naudzu billahi mindzalika.

Lebih detailnya bisa dilihat ulang suber aslinya

Waalahu A’lamu

Oleh: Abdul Adzim

📌Sumbar:

Abhaju al-Masalik syarah Muwaththa’ Imam Malik juz 4 hal 357

Anisul al-Khaifin wa Samiru Akifin fi Syarhi Syithranji al-Arifin hal 4

banner 700x350