IBNU HAJAR AL-HAITAMI DAN AR-RAMLI PENERUS ASY-SYAIKHAN DALAM MADZHAB SYAFI’

oleh -1.362 views

Di fase istiqror (kematangan) dalam sejarah perkembangan madzhab asy-Syafi’i, telah diketahui jasa dua ulama besar syafi’iyyah, yakni asy-Syaikhan (ar-Rofi’i dan An-Nawawi) dalam melakukan tahrir madzhab (menyeleksi ijtihad ulama syafi’iyyah agar sah dinisbatkan pada madzhab syafi’i).

Hanya saja, karya-karya ar-Rofi’i menunjukkan bahwa tahqiq (penelitian) beliau adalah pekerjaan yang belum tuntas dan belum menjangkau semua persoalan yang mestinya diteliti. Tahqiq an-Nawawi yang menuntaskan pekerjaan Ar-Rofi’i terkadang juga saling bertentangan antara satu karya dengan yang lainnya. Hasil penelitian ar-Rofi’i dan An-Nawawi terkadang juga saling bertentangan. Dalam sejumlah kasus, ada persoalan-persoalan yang telah diteliti an-Nawawi tetapi belum diteliti ar-Rofi’i, ada pula persoalan-persoalan yang telah diteliti ar-Rofi’i tetapi belum diteliti an-Nawawi.

Kenyataan ini tentu saja masih menyisakan PR bagi sebagian “lubang” yang ditinggalkan asy-Syaikhan yang membutuhkan segera untuk ditambal.

Hampir selama tiga abad belum ada ulama Syafi’iyyah yang dihitung benar-benar telah menutup celah tersebut, sampai datang abad 10 H. Di masa itu, bangkitlah dua pendekar Syafi’iyyah yang lain yang menyempurnakan pekerjaan asy-Syaikhan. Mereka adalah Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H) dan Syamsuddin ar-Romli (919-1004 H) yang populer dengan gelar asy-Syafi’i ash-Shoghir (asy-Syafi’i kecil).

Di abad 10 H ini boleh dikatakan menjadi masa kebangkitan tahrir madzhab fase kedua.

Jika ar-Rofi’i dan an-Nawawi adalah syaikh tahrir mazhab fase pertama, maka Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli adalah syaikh tahrir madzhab fase kedua.

*****

Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.

Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, dan kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihabuddin Ramli.

Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihabuddin Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli”.
Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “kemungkinan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Negeri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.

Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramalisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.

Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain”. Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”. Pernyataan Syeikh Sai`d Sunbul ini juga di ikuti oleh Syeikh Muhammad Shalih al-Muntafiqy.

Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, Itsmidul ainaian fi ba’dh ikhtilaf asy-Syaikhaini karangan karangan Syeikh ‘Ali Bashiri yang di cetak bersamaan dengan kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyid Ba’alawi al-Hadhrami, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi.

Oleh karena itu, marilah kita memberi perhatian pada sejumlah kitab berikut ini (yang dikarang oleh empat ulama besar asy-Syafi’iyyah di atas) karena mencerminkan kerja raksasa mereka dalam melakukan tahrir madzhab. Kitab-kitab ini jelas menjadi rujukan utama ulama asy-Syafi’iyyah mutakhkhirin termasuk mu’ashirin dalam melahirkan kitab-kitab fikih bermadzhab asy-Syafi’i yang disesuaikan dengan kebutuhan umat lokal. kitab-kitab tersebut adalah,

1. Al-Muharror karya ar-Rofi’i
2. Fathu Al-‘Aziz (asy-Syarhu al-Kabir karya ar-Rofi’i)
3. Roudhotu ath-Tholibin karya an-Nawawi
4. Minhaj ath-Tholibin karya an-Nawawi
5. Al-Majmu’ karya an-Nawawi
6. Tuhfatu al-Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami
7. Nihayatu Al-Muhtaj karya Ar-Romli

Wallahu A’llamu

Referensi:

Itsmadu al-Ainaini fi Ba’di Ikhtilafi as-Syaikhaini Ibnu Hajar al-Haitamiy wa asy-Samsuddin ar-Ramliy. Daru al-Kutub al-Ilmiyyah hal 379-380

banner 700x350