HIKMAH DIBALIK HITUNGAN RAKAAT SHOLAT YANG TIDAK SAMA

oleh -889 views

Setelah di edisi kemarin kita membahas banyak hal tentang sejarah sholat secara umum. Ibadah apa yang dikerjakan Nabi ﷺ sebelum turunnya perintah Isra’ Mi’raj? Hingga bagaimana sholat Nabi-Nabi terdahulu dan hubungannya dengan sholat lima waktu yang dikerjakan Nabi Muhammad ﷺ dan umat Islam. Kali ini saya ingin mengangkat hikmah yang terkandung di dalam sholat lima waktu secara khusus. Mengapa sholat lima waktu harus kerjakan dengan cara dicicil dan berulang-ulang, tidak sekaligus dalam satu waktu?

Syaikh asy-Sya’rani dalam Mizan al-Kubra-nya menyatakan, justru dijadikannya shalat lima waktu secara berulang-ulang setiap hari adalah salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah ﷻ. Setiap kali seseorang melakukan wudhu, maka ia akan mengingat dosa-dosa yang telah diperbuatnya hari itu, kemudian bersimpuh di hadapan Allah ﷻ untuk memperoleh ampunan-Nya. Di sisi lain, saat wudhu, secara khusus seseorang dapat memohon ampunan dari-Nya dari dosa-dosa yang telah diperbuat melalui doa-doa yang diajarkan. Kemudian dilanjutkan dengan salat secara intens dan berharap ampunan-Nya, maka dosa-dosanya akan rontok satu persatu setelah mendapat ampunan dari Allah ﷻ.

Syaikh al-Bujairami dalam Hasyiyahnya juga memaparkan:

وأكثر العلماء على أن اختصاص الصلوات الخمس بأوقاتها تعبدي، وأبدى بعضهم له حكمة وهي تذكر الإنسان بها نشأته فكماله في البطن وتهيؤه للخروج منها كطلوع الفجر الذي هو مقدمة لطلوع الشمس، فوجب الصبح حينئذ تذكيراً لذلك، وولادته كطلوع الشمس، ومنشؤه كارتفاعها، وشبابه كوقوفها عند الاستواء، وكهولته كميلها، فوجبت الظهر حينئذ تذكيراً لذلك، وشيخوخته كقربها للغروب، فوجبت العصر حينئذ تذكيراً لذلك، وموته كغروبها، فوجبت المغرب تذكيراً لذلك، وفناء جسمه كانمحاق أثر الشمس بمغيب الشفق الأحمر، فوجبت العشاء حينئذ تذكيراً لذلك.

Mayoritas ulama sepakat bahwa ketentuan lima waktu dalam sehari semalam sifatnya ta‘abbudiy (peribadatan) yang tidak perlu dicari alasan rasionalitasnya, karena ini bukan bidang nalar. Namun, menurut sebagian ulama hikmah, di balik ketentuan lima waktu ini ada kaitannya dengan siklus kehidupan manusia. Sebab, kelahiran manusia yang diawali oleh kesempurnaan penciptaan Allah ﷻ sewaktu di dalam perut ibunya, seperti halnya waktu matahari terbit, yang diawali oleh fajar shadiq (waktu salat Subuh). Masa pertumbuhannya diibaratkan matahari yang meninggi, dan dewasanya ibarat waktu istiwak (awal waktu salat Zhuhur). Sedangkan ketika berumur 30-50, diibaratkan matahari yang condong ke ufuk barat (akhir waktu salat Zhuhur). Dilanjutkan masa tuanya yang diibaratkan matahari yang hampir terbenam (waktu salat Ashar). Matinya ibarat matahari yang terbenam (waktu salat Maghrib), dan hancurnya tubuh manusia seperti hilangnya mega merah di ufuk barat (waktu untuk salat Isya’).

Kemudian, dari sisi jumlah rakaat, kalau kita hitung dalam sehari semalam umat Islam mengerjakan kewajiban shalat sebanyak 17 rakaat. Yaitu, shalat subuh 2 raka’at, shalat zhuhur, ashar dan isya’ 4 raka’at sementara maghrib 3 raka’at. Lalu Apakah hikmah di balik 17 rakaat tersebut? Dalam hal ini, ulama mejelaskan hikmah tersebut sebagai berikut:

Shalat subuh hanya 2 raka’at karena pada waktu subuh adalah saat dimana rasa kantuk masih membekas dan badan belum begitu energik karena baru bangun dari tidur. Maka Allah ﷻ memberikan keringanan untuk shalat subuh hanya 2 raka’at. Zhuhur dan ashar masing-masing 4 raka’at karena pada waktu itu umumnya manusia masih semangat, segar dan energik dalam beraktifitas. Maghrib 3 raka’at sebagai bentuk isyarat bahwa maghrib adalah witirnya siang. Sedangkan isya’ 4 raka’at karena sebagai penambal kekurangan-kekurangan malam dari siang.

Selanjutnya, raka’at shalat hanya 2, 3 dan 4 raka’at, bukan 1 dan 5, karena sebagaimana sayap-sayap malaikat yang juga ada dua-dua, tiga-tiga dan empat-empat. Allah berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir [35]:1)

Dengan saya-sayap tersebut, malaikat dapat sampai kepada derajat yang paling tinggi di sisi Allah. Begitu juga manusia; mereka akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Tuhan mereka jika mereka melaksanakan kewajiban shalatnya yang jumlah raka’atnya terdiri dari 2, 3 dan 4.

Sementara itu, Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Sullam al-Munajat menjelaskan:

وحكمة عدد ركعات الصلاة الخمس الشكر على النعم التي في الخواس الخمس، وستر الخطايا منها. وذلك ان ركعات الصبح ثنتان لان اللمس يدرك النعومة والخشونة فالركعتان للشكر عليهما ولستر الخطايا منهما. وان ركعات الظهر اربع لان الشم يدرك المشموم من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه.وان ركعات العصر اربع لان السمع يدرك المسموع من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات المغرب ثلاث لان المبصرات من ثلاث جهات أمام ويمين وشمال ولايدرك من وراء فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات العشاء أربع لان الذوق يدرك أربعة اشياء البرودة والحرارة والمرارة والحلاوة فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه.

Hikmah yang berbeda yang ada kaitannya dengan 5 panca indera manusia sebagai berikut:

Dua raka’at subuh sebagai bentuk syukur atas indera pengecap (mulut) yang karenanya manusia bisa merasakan 2 hal yang bersifat halus dan kasar, serta untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang datang dari kedua hal tersebut. Empat rara’at shalat zhuhur sebagai bentuk syukur manusia atas indera penciuman (hidung) yang dapat mencium bau dari empat arah. Selain itu, 4 raka’at zhuhur dijadikan sebagai penutup kesalahan yang datang dari empat arah tersebut.

Empat raka’at shalat ashar merupakan tanda syukur manusia atas indera pendengaran (telinga) yang dapat menangkap berbagai jenis suara dari empat arah dan tiga raka’at shalat maghrib karena manusia memiliki indera penglihatan (mata) yang dengannya dapat melihat yang datang dari tiga arah; depan, kanan dan kiri. Sedangkan penglihatan ke arah belakang, tidak mungkin bisa dilakukan. Dengan demikian, 3 raka’at tersebut sebagai bentuk syukur manusia atas kenikmatan tersebut sekaligus sebagai penyemangat untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang datang dari tiga arah itu. Adapun 4 raka’at shalat isya’ merujuk kepada bentuk syukur manusia atas nikmatnya indera perasa yang dapat merasakan empat macam rasa yaitu dingin, panas, pahit dan manis.

Waallahu A’lamu

Oleh: Abdul Adzim

Referensi:

•Al-Mizan al-kubro. Daru al-Fikr. Hal. 124
• Hasyiyah al-Baijuri. Al-Hidayah. Hal 120
• Sullam Al-Munajat. Daru Ibnu Hazam. Hal 121-122
• Bughiyah al-Mustarsyodi. Daru al-Kutub. Hal 44

banner 700x350