MENJAGA ETIKA PADA GURUMU LEBIH MULIA DARI SEGUDANG ILMU YANG KAU MILIKI (3)

oleh -233 views

Al-Imam Syafi’i (w. 204) dalam Diwannya, Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 41 dengan wazan bahar at-Thawil berkata:

تَصَبَّرْ عَلَى مُرِّ الجَفَا مِنْ مُعَلِّمٍ # فَإِنَّ رُسُوْبَ الْعِلْمِ فِيْ نَفَرَاتِهِ

Sabarlah engkau dalam pahitnya menghadapi guru yang tegas #
Karena kegagalan dalam menuntut ilmu disebabkan lari meninggalkannya.

Dalam kitab al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzab, Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1 hal 461 al-Imam Nawawi (w.676 H) mengatakan: “Al-Imam asy-Syafi’i pernah bercerita:

كُنْتُ أُصَفِّحُ الوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَي مَالِكٍ صَفْحًا رَفِيْقًا هَيْبَةً لَهُ لِئَلَا يَسْمَعُ وَقْعَهَا.

“Dulu aku membolak balikkan lembaran kertas (kitab) di depan Imam Malik dengan sangat lembut agar beliau tidak mendengar (suara lembaran kertas yang aku buka) karena aku segan padanya”.

Selanjutnya Al-Imam Nawawi dalam kitab at-Tibyan fi Adabi Hamalati al-Qur’an, Darul al-Kutub hal 29 berpesan:

ينبغى للمتعلم أن يتواضع لمعلمه ويتأدب معه

“Seyogyanya bagi seorang murid harus merendahkan diri kepada gurunya dan beradab (etika) baik kepadanya.

وإن كان أصغر منه سنا واقل شهرة ونسبا وصلاحا لتواضعه يدرك العلم

Meskipun sang guru tersebut lebih muda, tidak populer dan lebih rendah nasab serta kesholehannya dari sang murid. Karena ilmu bisa diperoleh dengan kerendahan hati dari seorang murid.”

Beliau al-Imam Nawawi dalam at-Tahdzibu as-Asma wa al-Lughat juz 2 hal 114 mengutip dari Abu Abdurrahman as-Silmiy berkata: “Abu Sahal al-Shu’luki juga mengatakan:

عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الأستاذين لا يمحوه شيئ البتة

“Dosa durhaka kepada kedua orang tua bisa di hapus dengan taubat kepada Allah, sedangkan dosa durhaka kepada guru tidak bisa di hapus oleh sesuatu apapun (kecuali ridha dari guru tersebut).”

Dalam kitab Lawaqih al-Anwaar al-Qudsiyyah fi Bayani al-‘Uhudi al-Muhammadiyah www.eShia.ir juz 29 hal 155 Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’raniy mengisahkan: “Bahwa al-Imam Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, Beliau selalu bershodaqoh di perjalanan dan berdoa:

اللهم استر عني عيب معلمي حتى لا تقع عيني له على نقيصة ولا يبلغني عنه عن أحد رضي الله عنه

“Ya Allah, tutuplah dariku kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yang menyampaikan kekurangan guruku kepadaku”.

ثم من أقل آفات سوء أدبك يا أخي مع الشيخ أنك تحرم فوائده ، فإما بكتمها عنك بغضا فيك وإما أن لسانه ينعقد عن إيضاح المعاني لك ، فلا تتحصل من كلامه على شئ تعتمد عليه عقوبة لك ، فإذا جاءه شخص من المتأدبين معه انطلق لسانه له لموضع صدقة وأدبه معه ، فعلم أنه ينبغي للطالب أن يخاطب شيخه بالإجلال والإطراق وغض البصر كما يخاطب الملوك ولا يجادله قط بعلم استفادة منه في وقت آخر على سبيل التعرف.

Kemudian al-Imam Nawawi mengatakan: paling sedikitnya bahaya jeleknya adab (etika) pada guru, wahai saudaraku! Kau akan terhalang dari memperoleh faidah-faidah darinya. Ada kalanya seorang guru menyimpan semua faidah-faidah itu darimu karena tidak suka pada perilakumu dan ada kalanya lisan gurumu terbelenggu untuk mengucapkan makna-makna hikmah padamu. Sebagai hukumannya, maka kau tidak akan memperoleh sesuatu ilmu yang berasal dari gurumu. Lalu ketika datang seorang murid yang beradab (etika) padanya, gurumu melepas lisan (memberikan ilmu)nya pada murid itu sebagai sedekah dan karena adab (etika) yang baik darinya pada sang guru. Dari itu bisa diambil pemahaman, hendaknya bagi seorang murid saat bicara dengan seorang guru mengedepakan pengagungan, menundukkan kepala dan pandangan sebagaimana saat berbicara dengan seorang raja. Tidak boleh memperdebatkan ilmu yang telah berikan guru di lain waktu walau hanya sekedar mendefenisikannya.

Terakhir, seorang penyair berkata dalam Hilyah Tholibu al-Ilmi hal 24:

العِلْمُ حَرْبٌ لِلفَتَى المُتَعَالِي كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ العَالِي

“Ilmu itu tidak mungkin mencapai seseorang yang sombong, sebagaimana air tidak mungkin meluncur ke tempat yang tinggi.

Waallah A’lamu
Semoga Manfaat

Oleh: Abdul Adzim

banner 700x350