PEMBUKTIAN SAINS MODERN TENTANG PERBEDAAN URIN BAYI LAKI-LAKI DAN URIN BAYI PEREMPUAN DALAM HADIST NABI ﷺ

oleh -326 views

Sebuah penelitian modern telah malakukan eksperimen ilmiyah, mencoba mengungkap rahasia di balik pembedaan antara urin bayi laki-laki dan bayi perempuan seperti yang telah disabdakan Baginda Nabi ﷺ dalam hadits riwayat al-Bukhari dan at-Tirmidi (baca: hadits) jauh sebelum sains bicara tentang bakteri. Hasilnya sangat mencengangkan, ditemukan perbedaan segnifikan antara keduanya dari sampel urin yang telah diuji.

Penelitian ini dilakukan oleh al-Ustadz Ashil Muhammad Ali dari Fakultas Sains, jurusan Fisika dan Dr. Ahmad Muhammad Shalih dari Fakultas Kedokteran, jurusan Mikrobiologi Medis (kedokteran) dari Universitas Dohuk, Irak. Dengan judul : “Studi Hubungan Prosentase Keberadaan Bakteri Urin Bayi dalam Masa Menyusui dan Bayi yang Baru Lahir dengan Akurasi Hadits as-Syarifah dari Aspek Ilmiyah dan Membuktikan Perbedaan Urin Bayi Laki-laki dan Urin Bayi Perempuan yang Hanya Mengkomsumsi ASI”.

Pada mulanya mereka berdua mengumpulkan sampel urin bayi secara acak yang berjumlah 73 bayi (35 perempuan dan 38 laki-laki). Mereka mengklasifikasikan (mengelompokkan)nya ke dalam empat kelompok umur; umur di bawah satu bulan, umur satu bulan sampai dua bulan, kemudian (dari dua bulan) sampai tiga bulan dan kemudian lebih dari tiga bulan dengan kemungkinan meningkatnya konsumsi makanan.

Sampel dikumpulkan dan diangkut langsung untuk diteliti secara laboratoris dan proses terus berlanjut selama beberapa bulan, dengan mempertimbangkan kemungkinan tingkat maksimum sterilisasi dan menghindari kontaminasi.

Konon riset tersebut menggunakan metode yang digunakan Dr. Hans Christian Gram, yang ditemukan pada tahun 1884 dalam pewarnaan bakteri (metode Gram staining), yang mana warna ungu menunjukkan bakteri Gram positif dan warna merah untuk negative. Semua sampel yang diuji dengan memilih bidang bakteri mikroskopis untuk menghitung jumlah bakteri dengan menggunakan standar pembesaraan 100 kali lipat. Dan ditemukan bahwa semua Gram negatif, dan diklasifikasikan bahwa ia masuk sebagai bakteri Escherichia Coli.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

أولا: في الفئة العمرية حتى 30 يوم كانت نسبة تواجد البكتريا في بول الرضع الإناث 95.44% أكثر من الرضع الذكور حيث بلغ عدد البكتريا في الحقل المجهري لبول الرضع الإناث 41.9 بينما بلغ العدد 2 في نفس الحقل للرضع الذكور.

ثانيا: في الفئة العمرية 1 – 2 شهر كانت نسبـة تواجد البكتريا في بول الرضع الإناث 91.48% أكثر من الرضع الذكور حيث بلغ عدد البكتريا في الحقل المجهري لبول الرضع الإناث 24.1 بينما بلغ العدد 2.25 في حالة الرضع الذكور.

ثالثا: في الفئة العمرية 2 – 3 شهر كانت نسبـة تواجد البكتريا في بول الرضع الإناث 93.69% أكثر من الرضع الذكور حيث بلغ عدد البكتريا في الحقل المجهري لبول الرضع الإناث 24.1 بينما بلغ العدد 1.6 في حالة الرضع الذكور.
رابعا: في الفئة العمرية أكثر من 3 شهور كانت نسبة البكتريا في بول الرضع الإناث 69% أكثر من الرضع الذكور
حيث بلغ عدد البكتريا في الحقل المجهري لبول الرضع الإناث 13.9 بينما بلغ العدد 6.8 في حالة الرضع الذكور.

• Pertama: Pada kelompok usia nol sampai 30 hari, prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 95,44% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 41,9 sedangkan pada bidang yang sama untuk bayi laki-laki hanya berjumlah 2 saja.

• Kedua: Pada kelompok umur (dari satu bulan sampai dua bulan) prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 91,48% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 24,1 sementara jumlah dalam bayi laki-laki hanya 2,25.

• Ketiga: Pada kelompok usia 2-3 bulan, prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 93,69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 24,1 sementara jumlah pada kasus bayi laki-laki hanya 1,6.

• Keempat: Pada kelompok usia lebih dari 3 bulan, prosentase bakteri dalam urin bayi perempuan 69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan 13,9 sementara dalam kasus urin bayi laki-laki jumlahnya 6,8.

Dan di antara perbandingan di antara jenis yang sama kita cermati bahwa prosentase jumlah bakteri pada perempuan (urin bayi perempuan) terus menurun dengan bertambahnya usia, di mana prosentase tersebut pada kelompok usia kurang dari satu bulan adalah 41,9.

Tiga bulan kita cermati bahwa prosentasenya turun menjadi 13,9 bertolak belakang dengan apa yang diamati pada laki-laki. Di mana prosentase bakteri dalam kelompok usia kurang dari dua bulan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang ada pada kelompok usia di atas tiga bulan (yaitu 6,8).

في حالة الرضيعة الأنثى يتناقص عدد البكتريا مع التقدم في العمر. في حالة الرضيع الذكر يتزايد عدد البكتريا مع التقدم في العمر، ويلاحظ في حالة الرضع الإناث تناقص عدد البكتريا مع التقدم في العمر, وفي حالة الرضع الذكور عقب انخفاض أولي تزايد عدد البكتريا مع تناول الطعام والتقدم في العمر تماما كما أفاد الحديث النبوي.

Disimpulkan dari hal ini bahwa prosentase bakteri pada perempuan adalah tinggi sejak hari-hari awal usianya, tanpa melihat perkembangan usia dan terlepas dari apakah ia sudah mulai mengonsumsi makanan atau tidak. Adapun laki-laki maka keberadaan bakteri jauh lebih rendah pada hari-hari pertama usianya dan prosentase ini mulai meningkat secara bertahap dengan berlalunya waktu, terutama ketika melewati bulan ketiga dari usianya, yang mana meningkatnya kemungkinan mulai peningkatan prosentase tersebut dengan mengonsumsi makanan.

Ini adalah penemuan pertama disertasi riset mereka berdua di sebuah jurnal resmi, secara data bisa dipastikan sebelum penemuan ini tidak seorang pun sejak zaman turunnya wahyu yang mampu mengungkap rahasia perbedaan urin bayi perempuan dan urin bayi laki-laki yang belum mengkomsumsi makanan selain air susu ibu hingga wajar kalau para pakar fikih berbeda pendapat saat memberi analisis dan argumentasi tentang hal tersebut tetapi hari ini argumen-argumen wahyu telah terkuak nyata dengan cahaya Ilahi dan agama tentu dalam menerapkan syariatnya butuh bukti konkrit yang bisa di pertanggung jawabkan sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal kebenaran agama. Waallahu A’lamu

Referensi:

📒Muhammad Shadiq Muhammad al-Karabsiy| Al-Husainu wa at-Tasyrik al-Islami| Al-Markaz al-Husainiy li ad-Dirasat jus 4 hal 256-257

📒Syahatah Shaqr| Al-Mausu’ah al-Muyassarah fi al-I’jazi al-Ilmiyah fi al-Qur’an al-Karim wa as-Sunnati ash-Shahihati al-Muthahirati| Daru al-Khalafa ar-Rasyidin-Daru al-Fattahi al-Islamiy hal 469-471

banner 700x350