Selama Datang Pak Nico

oleh -295 views

Oleh: Ahrori Dlofir*

Posisi Kapolda Jawa Timur kembali melakukan pergantian. Irjen Pol Mohamad Fadel Imran diganti oleh Irjen Pol Nico Alifinta. Berdasarkan surat Telegram Kapolri, Irjen Nico resmi menjadi Kapolda Jatim sejak 16 November lalu. Artinya sudah setengah bulan menjadi orang nomor satu di jajaran kepolisian Jawa Timur.

Namun, rupanya segelintir orang tidak terima Irjen Pol Nico Alfinta menggantikan Irjen Mohammad Fadil. Sekelompok yang mengatasnamakan Aliansi Kiai Muda Madura, secara terang-terangan menolak  Pak Nico menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur. Walaupun alasannya tidak logis dan tidak bisa diterima dengan akal sehat, mereka terus berkoar akan penolakannya.

Dengan alasan yang tidak tegas, segelintir orang yang mengaku Aliansi Kiai Muda Madura tersebut tetap ngotot bahkan akan melakukan aksi dengan massa besar jika Polri tidak mneganulir keputusannya. Alasan sensivitas hingga ada semacam pesanan terus dihembuskan oleh mereka. Walau semua itu tidak cukup dengan bukti konkrit.

Lalu bagaimana sebenarnya kita merespon pro kontra ini? Hemat saya sederhana; jika merujuk terhadap konsep agama Islam, maka kepemimpinan Irjen Nico Alfinta masih ada ruang untuk dipersilahkan. Perspektif agama Islam tidak melarang terhadap kelompok Non Muslim untuk duduk dijabatan pemerintah dengan catatan dapat mengembangkan amanah sesuai dengan aturan syariat. Tentu ini menjadi hal yang tidak perlu diperdebatkan. Sebab jika kita fokus dan spesifik dalam menata republik ini hanya dengan memandang ajaran Islam tanpa mengajak umat lain, maka akan ada kerunyaman yang dapat menimbulkan gesekan antar umat beragama.

Selama ini Jawa Timur masih kondusif; antar umat beragama dapat berdamping serta dialogis. Pemerintah dan Ulama terus menjalin komunikasi, guna terciptanya Jawa Timur yang aman dan damai. Kita tidak mempermasalahkan dari mana dan siapa yang duduk di sistem pemerintahan Jawa Timur, tentu dengan pashword: tidak berkhianat kepada rakyat. Dalam konteks ini semua agama pasti sepakat, bahwa pemimpin yang pro rakyat adalah titah agama masing-masing. Mulai dari jajaran eksekutif, legeslatif, Yudikatif sampai kepada institusi kepolisian semuanya diaharapkan pro rakyat. Ini adalah harga yang tidak ditawar lagi.

Ada yang aneh dari penolakan Aliansi Kiai Muda Madura dengan cara frontal akan mengerahkan massa agar Irjen Pol Alfinta batal jadi Kapolda Jatim. Secara kelembagaan, sejatinya mereka tidak mewakili para Kiai muda di Madura apalagi para ulama Khosnya. Tidak sama sekali. Kalau kita hitung dan kita persen, mungkin tidak sampai 10 persennya yang tergabung dalam aliansi tersebut. Saya hanya curiga mereka tersebut ada ‘kemauan’ terselubung dari deklarasi penolakan itu. Toh, alasan yang disampaikan tidak objektif. Seakan mereka mau menyatakan begini: “Inilah kami, Kiai Muda Madura punya massa”. Jika itu yang dimaksud oleh mereka sungguh naif gerakan ini.

Pada prinsipnya, jika mereka memang tidak menginginkan Pak Nico menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur, sebaiknya melakukan gerakan dan lobi-lobi politik dengan cerdas. Tidak lalu menggunakan gerakan massa yang sampai saat ini massanya masih dipertanyakan. Apalagi sampai ada somasi dengan gerakan massa, seakan pemerintah kita hanya takut dengan ancaman tersebut. Jika SK sudah terbit, dan pemerintah menganulir hanya gara-gara gerakan kecil maka akan ada indikasi bahwa pemerintah tidak punya komitmen dan otoritas penuh dalam mengambil keputusan.

Dari sinilah perlu kiranya, antara Kiai Muda Madura dan pihak kepolisian, dalam hal ini Kapolda Jawa Timur yang baru sebaiknya duduk bareng. Sampaikan aspirasi perjuangannya serta ajak Pak Nico bekerja sama. Sebab yang saya tahu dari beberapa informasi media online maupun cetak, Pak Nico adalah seorang polisi yang pada saat bertugas di Kalimantan Selatan dikenal merangkul para Ulama dan tokoh agama. Pak Nico sering mengajak para tokoh agama untuk bersama-sama dalam menjalankan kegiatan sosial dan agama didaerah tersebut. Bahkan waktu pak Nico pamitan kepada salah seorang Kiai di Martapura yaitu KH. Sa’dudin Salman, Imam Musholla Ar-Rauloh Sekumpul Martapura sangat terharu. Bahkan kiai Sa’dudin memberi testimoni: “Alhamdulillah Pak Nico sangat bersahaja dan merangkul Ulama dalam menjalankan tugasnya. Kami doakan beliau senantiasa sukses dimanapun bertugas” (news. Detik.com 18/11/2020)

Dari itulah, sudah saatnya bagi kita untuk tidak selalu berpolemik dengan urusan-urusan yang kurang urgen. Disaat Pandemi seperti sekarang ini, persatuan dan kesatuan harus lebih ditingkatkan. Semua pihak, bukan hanya pemerintahan ansich, harus terus berjuang agar covid -19 cepat berakhir dari bumi indonesia secara khusus, dan dunia secara umum. Ini adalah tugas kita semua, bukan tugas Satgas, bukan pula para Dokter semata, tetapi masyarakat Indonesia harus ikut berjuang dengan cara mematuhi aturan pemerintah.

Walhasil, Aliansi Kiai Muda Madura sebaiknya lebih mngedepankan langkah pendekatan untuk bisa berjalan searah agar tugas dakwah ini bisa dengan nyaman terlaksana. Dan sejatinya sudah tidak ada lagi saling lempar tuduhan diantara kita semua. Sehingga antara institusi kepolisian dan para Kiai kiai di Jawa Timur bisa bekerja sama dengan baik. Lebih lebih perhatian keamanan terus ditingkatkan, agar masyarakat tidak lagi alergi dengan sumpah para polisi dalam menjalankan tugasnya.

Akhirnya walau agak terlambat,  sebagai Santri Muda Madura dan warga NU, saya Ucapkan: Selamat Datang Irjen Pol Nico Alfinta sebagai Kapolda Jawa Timur yang baru,  semoga bisa bersinergi dengan Baik. Juga kami ucapkan selamat bertugas kepada Irjen Pol Muhammad Fadel Imran sebagai Kapolda Metro Jaya, semoga bisa menjalankan tugas dengan baik ditempat yang baru.

*Adalah Wakil Sekretaris PCNU Bangkalan dan Anggota FKUB Kab. Bangkalan

 

banner 700x350