Sejarah Tradisi Maulid Nabi

oleh -435 views

SYAICHONA.NET- Syekh Hasan As-Sandubi menyebutkan dalam kitabnya تارخ الافتحال  tentang perayaan Maulid Nabi, Pada masanya dinasti Fathimiyah menjadi awal mula adanya penyebutan perayaan Maulid Nabi dengan sebutan المولد النبوي الشريف.

Pertama kali perayaan Maulid Nabi dengan acara yang tersusun rapi terjadi pada zamannya Sultan Sholehuddin Al-Ayyubi dari Daulah Ayyubiyah. Perayaan ini menjadi acara besar disetiap tahunnya, untuk terealisasinya acara ini Sultan Sholehhudin menyumbangkan investasi yang banyak sehingga mencapai tiga ratus ribu dinar dan itu terjadi disetiap tahun.

Kabar ini terliput kenegara-negara tetangga seperti Bahgdad dan terliput kepada pembesar-pembesar diantaranya ahli fikih, ahli sufi, pendakwah, ahli syair dan selainnya.

Perayaan ini dirayakan pada tanggal delapan Rabiul Awal ditahun ini lalu tanggal dua belas Rabiul Awal pada tahun berikutnya, sebab adanya perkhilafan ulama tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dua hari sebelum perayaan Sultan Sholehuddin mengeluarkan unta, sapi dan kambing dalam jumlah yang banyak dihiasi tabuhan gendang dan tembang-tembang hingga beliau datang kealun-alun kota kemudian memberikan perintah untuk menyembelih hewan-hewan tadi dan memasaknya.

Ketika sampai dipagi hari yaumul maulid nabi maka manusia-manusia, orang-orang terkemuka, dan para penguasa berkumpul lalu menyiapkan kursi untuk berpidato dan mengumpulkan tentara-tentara.

Begitu juga pada masanya Khilafah Ustmaniyah terdapat perayaan maulid nabi. Pada malam dua belas Rabiul Awal Sultan Abdul Hamid Ats-Shani hadir keperayaan maulid nabi dimasjid jami’ Humaidi. Sebelum beliau datang sudah ada pembesar-pembesar Daulah yang berkumpul didepan gerbang masjid untuk menyambut kedatangannya. Mereka mengenakan pakaian kemulyaan yang bergambar dan memiliki tanda.

Ketika Sultan Abdul Hamid sampai maka orang-orang keluar dengan mengendarai kuda yang melaju cepat dari pilihan kuda terbaik yang menggunakan pelana terbuat dari emas murni dan ada arak-arakan yang besar sembari membawa informasi perayaan.

Arak-arakan ini berjalan ditengah diantara dua barisan tentara Ustmani, dibelakang mereka diiringi banyak manusia untuk bersama-sama masuk kedalam masjid jami’. disana acara perayaan dimulai dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an, pembacaan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW pembacaan kitab  دلائل الخيرات فى الصلاة على النبي lalu sebagian Masyaikh bergiliran mengisi dzikiran, membaca pujian-pujian dan mengeraskan suara untuk bersholawat pada Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan tradisi berdiri di waktu pembacaan maulid nabi ditemukan pada kebiasaan orang alim, jejaknya para imam agama dan orang wara’ Imam Taqiyuddin As-Subki dizamannya mengumpulkan banyak ulama kemudian membaca pujiannya imam Busyiri kepada Nabi Muhammad SAW yaitu ‘’sedikitnya pujian pada المصطفى ialah menulis diatas secarik kertas yang terbaik dengan tinta emas.

Imam al-Assubki memerintahkan berdiri ketika mendengarkannya, berdiri dengan kondisi berbaris atau berlutut diatas tunggangan kemudian ketika itu dibacakan Imam As-Subki berdiri diiringi oleh orang-orang yang duduk begitu dalam pembacaan sirah-sirah nabi mereka pada berdiri.

Referensi: al-Fikroh al-Annahdiyah fii Ushul wa Furu’ Ahli al-Assunah wa al-Jamaah

Penulis: Rosul

banner 700x350