,

RASULULLAH ﷺ HADIR SAAT PEMBACAAN MAULID NABI (2)

oleh -2.041 views

Ada catatan yang menarik dari Sayyid Ahmad al-Barzanjiy (w. 1337 H) seorang mufti madzhab asy-Syafi’i di Madinah al-Munawwarah, nama lengkapnya Ahmad bin Ismail bin Zain al-‘Abidin al-Madani al-Barzanjiy dalam risalahnya yang bernama Ikmalu at-Tatsqif wa at-Taqwim Li’auji al-Ifham ‘Amma Yajibu li Kalamillahi al-Qadim mengatakan:

“Meyakini kehadiran Rasulullah ﷺ dari alam ruh ke alam nyata dan hadir di majlis-majlis yang disebut nama beliau disana, bukanlah hal yang salah dalam keyakinan agama dan tidak mustahil terjadi, karena Nabi ﷺ walaupun raga sucinya berada di Madinah tetapi ruhnya hidup di kuburnya. Ruhnya yang bersih nan suci seperti matahari menyinari seluruh penjuru alam, timur dan barat sebagaimana telah disampaikan oleh banyak ulama Ahli Kasyaf, bahwa mereka berkumpul dengan Nabi ﷺ dalam keadaan terjaga dan mereka mengambil ilmu dan hikmah dari beliau tanpa perantara.

Bukanlah sesuatu yang mustahil, Ruh Nabi ﷺ yang suci hadir di setiap majlis yang disebut namanya walaupun ditempat yang jauh dan berbeda-beda. Ini adalah sesuatu yang diterima oleh pemilik adz-Dzauq ash-Shahih (akal sehat) dan yang mulia. Dalil yang membenarkan hal ini adalah kisah Mi’rajnya Nabi ﷺ yang bertemu dengan arwah para Nabi di Baitul Muqaddas. Ketika Nabi ﷺ naik kelangit beliau berkumpul dengan Nabi Adam as, Yahya as, Isa as, Musa as, Ibrahim as dan yang lain. Termasuk dalil yang mendekati akan pendapat tersebut, bahwa malaikat maut yang hanya seorang bisa mencabut arwah orang yang mati dalam satu waktu di penjuru barat, timur, selatan dan utara berdasarkan firman Allah ﷻ:

قُلْ يَتَوَفّٰاكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ﴿السجدة : ۱۱﴾

Katakanlah, “(Satu) Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)kalian akan mematikan kalian, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan.” (QS. As-Sajdah: 11)

Munurut Sayyid Mahmud al-Luusiy al-Bagdadiy Mufti Bagdad (w. 1270 H) dalam kitabnya Ruhu al-Ma’aniy fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim wa Sab’i al-Matsaniy menjelaskan:

“Seseorang bisa melihat Nabi ﷺ setelah wafat beliau, adakalanya melihat ruh Nabi ﷺ dengan bentuk menyerupai orang lain sedangkan raga beliau masih tetap berada di pusaranya yang mulia. Hal ini berpedoman dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa malaikat Jibril as datang menemui Nabi ﷺ secara nyata kadang dengan bentuk raga seorang sahabat yang bernama Dahiyatu al-Kilabiy atau kadang datang dengan bentuk yang lain seperti ketika malaikat Jibril as menemani Nabi saat perjalan Isro’ dan Mi’raj. Juga adakalanya orang yang melihat Nabi ﷺ tersebut, melihat raga beliau dengan bentuk aslinya.

Maka dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa tidaklah heran terjadi bila ada seseorang bisa lihat raga Nabi ﷺ di beberapa tempat berbeda dengan jumlah tertentu bahkan tidak terhitung. Kejadian ini mungkin saja terjadi tidak ubahnya hubungan satu ruh dengan semua anggota badan dalam satu raga yang tidak mampu dicerna oleh akal manusia biasa dan tidak bisa dideteksi oleh alat tercanggih sekali pun.

Ada sebuah kisah yang membuktikah hal tersebut, dikutip dari Syaikh Shafiyuddin bin Abi Manshur dan Abdul Ghaffar dari Syaikh Abi al-‘Abbas ath-Thanjiy, bahwa beliau pernah melihat Langit, Bumi, ‘Arsy dan Kursi dipenuhi Rusulullah ﷺ. Dari kisah ini, muncul sebuah pertanyaan: “Bagaimana mungkin Rasululluh ﷺ terlihat dalam satu waktu dengan jumlah yang banyak di tempat yang berbeda dan berjauhan?” Sebagian ulama pernah disodori pertanyaan yang sama dan ia menjawabnya dengan tembang syair berikut:

كالشمس في كبد السماء وضوءها # يغشي البلاد مشارقا ومغاربا

Seperti matahari di tengah langit sedangkan cahayanya // Menerangi negeri-negeri di timur dan barat

Keistimewaan bisa melihat seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang khusus dan sempurna dalam mengikuti ajaran Syari’ah dengan kadar ritual yang melelahkan. Semakian kuat jalin cinta dan debur rindu seseorang pada Baginda Nabi ﷺ, maka akan semakin besar kesempatnya untuk bisa melihat Nabi ﷺ secara langsung dalam keadaan terjaga. Bersambung…

Oleh: Abdul Adzim

Waallahu A’lamu

📑 Sayyid Ahmad bin Ismail bin Zain al-‘Abidin al-Madani al-Barzanjiy| Ikmalu at-Tatsqif wa at-Taqwim Li’auji al-Ifham ‘Amma Yajibu li Kalamillahi al-Qadim| Hakikat Kitabevi Fatih Istanbul 64-65.

📑 Sayyid Mahmud al-Luusiy al-Bagdadiy| Ruhu al-Ma’aniy fi Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim wa Sab’i al-Matsaniy| Ihya’u at-Turats al’Arabiy juz 22 hal 37.

banner 700x350