Kisah Tangis Haru Santri Baru Ponpes Syaichona Cholil Di Malam Takbiran Idul Adha

oleh -580 views

SYAICHONA.NET – Suara gema takbir dan sholawat mulai bergema di area pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan yang menandai datangnya lebaran Idul Adha pada esok harinya.  Berdasarkan pantauan penulis tidak banyak para santri merasakan bahagia dikala mendengar gema takbir berkumandang.

Kali ini penulis berkesempatan mewawancarai santri baru mengenai perasaan saat malam takbir di pesantren yang tentunya bagi santri baru adalah hal baru dalam menjalani kegiatan malam takbiran di pesantren. Sebut saja namyaya Mohammad Riyandi salah satu santri baru asal Bangka Belitung, yang malam ini terlihat sedang menangis di Musholla.

“Riyan sedih karena malam ini belum Riyan rasakan seperti malam takbiran sebelumnya, saya jauh dari keluarga, orang tua Riyan berada di luar pulau. Riyan sedih besok lebaran tidak bisa berkumpul sama mama dan papa. Lebaran ini Riyan jauh dari keluarga” tangisnya pecah saat diwawancarai.

Jadi pilhan menjadi santri tidak sekadar belajar intensif untuk mendalami ilmu agama di pondok pesantren, namun juga belajar tentang ilmu kehidupan, yakni hidup mandiri dan tidak cengeng.

ketika saat anak-anak lain menikmati malam takbiran Idul Adha bersama orang tua, para santri justru berada di tempat jauh dari rumah dan keluarga karena hampir semua pondok pesantren tidak memberlakukan libur saat Idul Adha.

Seperti apa yang saat ini dirasakan oleh santri baru kelahiran Bangka Belitung 04 Nopember 2006 tersebut. Ia memilih meluapkan kesedihannya dan tangisnya dibarisan shof pertama musholla.

“Riyan berharap mama dan papa bisa jenguk dan ngirim Riyan di pondok, tapi mama dan papa jauh. Mungkin Nenek Riyan yang di Madura yang ngirim, semoga mama dan papa selalu ingat sama Riyan dan mama dan papa berharap Riyan mondok di pesantren Syaichona Cholil bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat” ungkap riyan sambil menangis

Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil merupakan pesantren tertua di Indonesia yang didirikan oleh KH. Moh. Cholil bin KH. Abdul Latif pada tahun 1861.Selama diasuh oleh Mbah Kholil (Sebutan lain dar Syaichona Moh. Cholil) Pondok Pesantren ini mengalami masa keemasan yang luar biasa dikarenakan pondok pesantren ini bisa dikatakan menjadi rujukan dari seluruh kiai yang berada di Jawa.

Selain mencetak ulama dan bahkan tidak sedikit yang alumninya menjadi pemimpin bangsa, pondok pesantren juga telah mencetak insan-insan berilmu yang memiliki karakter kuat hingga dibawa saat santri kembali ke tengah-tengah masyarakat.

Semoga tangisan dari Mohammad Riyandi pada malam ini menjadi saksi kelak atas kerinduannya kepada kedua orang tuanya, selamat bejuang Riyan..

REPORTER : ACH. SHOIM KARIM