Kajian Ilmiah Memberantas Aliran Sesat Di Era Milenial

oleh -121 views
Lora Mohammad Mahrus Ali kanan, bersama ust. Mufti Shohib

Syaichona.net – Pada era ini berbagai paham dan pemikiran, mulai dari yang paling radikal sampai yang paling liberal, dengan mudah sekali sampai kepada para pemuda. Oleh karena itu, pemuda mesti terdidik secara baik supaya mereka tidak gampang terpengaruh dengan paham dan pemikiran tersebut. Pemuda harus paham ajaran agamanya secara benar dan dari sumber yang benar. Kesalahan didalam mempelajari agama dari sumber yang salah terbukti melahirkan pemikiran radikal yang abai terhadap kemanusian sebagaiman ia juga terbukti telah melahirkan pemikiran liberal yang justru menimbulkan problem terhadap agama itu sendiri.

Demi memberi pemahaman kepada para santri, pengurus perpustakaan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan menggelar kajian ilmiah bertajuk “Urgensi Menelisik Aliran Di Era Milenial” yang bertempat di Aula lantai dasar, Jumat (02/08/2019) malam.

Kajiah ilmiah ini diikuti seluruh santri kelas 3 tsanawiyah dan juga para anggota M3 (majelis muhadhoroh wal maktabah) Pondok Pesantren Syiachona Moh. Cholil Bangkalan dengan mendatangkan pemateri lulusan Tarim Hadramaut Yaman, Lora Mohammad Mahrus Ali, beliau juga pernah mengikuti Studi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Fakultas Syariah.

Dalam materi yang beliau sampaikan, ada empat aliran yang menyimpang dari ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah, namun sebenarnya masih banyak aliran yang menyimpang selain yang empat tersebut, sebagaimana yang beliau sampaikan kepada para peserta kajian dibawah ini;

Pemahaman agama yang benar dapat diperoleh dengan merujuk kepada ulama’ yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dari teks-teks agama serta ijtihad-ijtihad para ulama’ terhadap teks-teks tersebut, bisa disimpulkan bahwa ajaran agama Islam yang benar mesti memiliki tiga prinsip berikut:

  1. Prinsip moderat (mabda’ al-tawassuth aw al-wasayhiyah). Artinya ajaran Islam yang murni adalah ajaran yang moderat, tidak ekstrim kiri dan tidak ektrim kanan; tidak berlebihan dan tidak ceroboh; tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek.
  2. Prinsip seimbang (mabda’ al-tawazun). Artinya dalam ajaran Islam yang murni segala sesuatu harus diposisikan secara seimbang. Termasuk di dalamnya dalam mengunakan dalil naqli dan dalil aqli atau didalam menggunakan dilalah al-nushush dan dilalah al-maqashid.
  3. Prinsip i’tidal (mabda’ al-i’tidal). Artinya ajaran Islam yang murni adalah ajaran yang lurus, konsisten dan selalu menjunjung tinggi keadilan, termasuk kepada kelompok yang tidak sepaham dan seagama.

Berdasarkan tiga prinsip tersebut, kita dapat mencatat beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni, antara lain:

  1. Aliran Khowarij

Khowarij adalah kelompok yang menyatakan keluar dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib pasca pristiwa tahkim (arbitrase). Kelompok ini berkeyakinan bahwa orang yang berbuat dosa adalah kafir. Karena itulah mereka mengafirkan Ali, bahkan menghalalkan darahnya. Menurut mereka, dengan menerima arbitrase berarti Ali telah berhukum dengan selain hukum Allah, sedangkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah adalah kafir. Dalam hal ini, selain salah dalam menilai Ali telah berhukum dengan selain hukum Allah, mereka juga salah tatkala mengatakan bahwa orang yang berhukum dengan selain hukum Allah adalah kafir secara mutlak.

  1. Aliran Syi’ah

Syiah adalah kelompok yang mempunyai keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya sahabat yang paling berhak menjadi khalifah karena Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat bahwa pengganti beliau setelah wafat adalah Ali bin Abi Thalib. Setidaknya ada lima penyimpangan dari sebagian besar kelompok ini, yaitu: 1) keyakinan terjadi perubahan dalam al-Qur’an; 2) caci maki terhadap shahabat; 3) taqiyah; 4) bada’ ; dan 5) kemaksuman para imam Syi’ah  dari kesalahan.

  1. Aliran Wahhabiyah

Pada era ini, berkembang satu kelompok yang mirip dengan aliran khowarij, yaitu kelompok wahhabiyah. Kelompok ini dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab(1115-1206 H/ 1703-1792 M) pada abad ke 12 H atau ke 18 M. Hampir sama dengan kelompok Khowarij, dari sebagian tokoh dan pengikut kelompok ini seringkali meluncur tuduhan-tuduhan bid’ah dan kafir kepada kelompok-kelompok lain. Mereka membedakan antara Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Uluhiyah. Tauhid Rububiyah adalah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki, dan semacamnya. Sementara Tauhid Uluhiyah adalah memurnikan seluruh macam ibadah hanyalah untuk Allah semata.  Menurut mereka, Tauhid Uluhiah inilah yang menjadi pertempuran antara para nabi dan kaumnya. Dan Tauhid inilah hakikat Tauhid yang sesungguhnya. Tauhid ini yang menjadi pembeda antara orang Muslim dan orang kafir. Karena itu, meski orang musyrik dulu meyakini Allah sebagai pencipta sebagaimana tertera dalam Surat Luqman ayat 25 dan Surat al-Mu’minun ayat 86-87. Namun itu tidak mengangkat mereka menjadi muslim karena mereka masih menyembah selain Allah.

  1. Aliran Islam Liberal

Di Indonesia, aliran ini dipelopori oleh Nurcholis Madjid (w. 2007). Misi yang menjadi semangat perjuangan aliran ini antara lain: a) membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam; b) mengutamakan semangat religio-etik; c) mempercayai kebenaran yang relative; d) meyakini kebebasan beragama, bahkan menyatakan semua agama sama ; dan e) memisahkan otoritas duniawi dan ukhrowi.

Dan terakhir yang disampaikan pemateri bahwa aliran yang sering menyerukan kalimat ijtihad ialah aliran yang tidak sesuai dengan ajaran ahlusunnah wal jamaah.

***

Publisher: Harun Al Rasyid

Editor: Shoim Karim