Hidup Tenang Tanpa Suudzon

oleh -487 views
Hidup Tenang Tanpa Suudzon

Syaichona.net – Dibalik sikap dan akhlak mulia yang menjadi tolak ukur kemuliaan seseorang di dunia maupun di akhirat. Juga terdapat banyak akhlak tercela yang bersarang dalam hati seseorang.

Dalam kitab Dururur rasail  kitab yang diangkit oleh Syekh Sa’duddin Muhammad Salim al-Murod, menjelaskan ada sekitar seratus satu akhlak tercela yang dimiliki manusia. Salah satu diantara sekian banyak akhlak tercela tersebut berupa Suudzon atau berburuk sangka.

Suudzon merupakan satu sifat buruk dengan mencari-cari kesalahan orang lain, secara garis besar Suudzon sama dengan Buruk Sangka.

Ketika seorang muslim hatinya sudah dilema Suudzon, maka akan berdampak buruk dan berdampak negatif terhadap dirinya sendiri. Terlebih bila berperasangka buruk itu dialamatkan pada sesama Muslim.

Dalam redaksi lain perasangka buruk adalah bagian dari akhlak orang munafik. Orang munafik selalu menilai baik dirinya sendiri, meski mereka jauh dari kebaikan. Sebaliknya, mereka selalu menilai buruk orang lain, meski jelas orang itu melakukan kebaikan.

Tampa disadari, sebenarnya perasangka buruk tidak akan menghasilkan apa pun kecuali keburukan pada pelakunya. Perasangka seperti ini tidak bisa dibenarkan karena perasangka saja tampa disertai bukti apa pun tidak bisa mewakili kebenaran. “Sesungguhnya perasangka  itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS Yunus : 36).

Suudzon seringkali muncul dari orang yang akhlaknya kurang baik. Hal itu menyebabkan dirinya menilai orang lain dari sudut pandangnya yang keliru.

Sebagai mana realita berkata : اذا ساء فعل المرء ساءت ظنونه  

“Bila perbuatan seseorang sudah keliru, dia akan memandang keliru dengan prasangkanya.”

Seyognyanya seorang muslim merasa senang bila saudaranya melakukan kebaikan. Dengan begitu dirinya akan termotivasi oleh kebaiakan muslim yang lain. Dengan artian kita harus bisa menanam rasa iri yang positif agar bisa meniru kebaikan orang lain.

Dampak Buruk

Imam Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata: “Pernah aku terhalang dari qiyamullail selama lima bulan gara-gara satu dosa yang kuperbuat.” Beliau ditanya, “Dosa apa itu?” Sufyan menjawab, “pernah aku jumpai seseorang sedang menagis (karena takut pada Allah). Aku pun berkata dalam hati, Ah, orang ini hanya berpura-pura saja.

Dari kejadian di atas ini kita dapat menjadikan pelajaran berharga bagi kita. Beliau orang sholeh yang kesholehannya tidak diragukan lagi. Hanya dengan satu kali Suudzon telah membuat mereka terhalangi dari kebaikan hingga waktu yang lama. Bagaimana dengan kita yang sama sekali belum bisa dikatakan sholeh, sementara Suudzon selalu menghiasi hidup kita..?

Sebagai penutup, renungkanlah sabda rasulullahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:

 إِيَّاكُمْ وَالظَّنِّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ. “Awas, berhati-hatilah terhadap perasangka! Sesungguhnya perasangka itu pembicaraan yang paling dusta.”

Dari hadist ini kita dapat menarik kesimpulan agar kita tidak mudah percaya terhadap perasangka buruk yang timbul dalam hati.

Berusahalah mengendalikan hati agar selalu berperasangka baik. Segera hilangkan perasangka buruk dan gantikan dengan perasangka baik. Perasangka buruk hanya akan membuat keadaan kita memburuk. Perasangka baik akan mendorong kita menjadi lebih baik. Berperasangka buruk tak akan mendatangkan keuntungan apa pun, karena justru kita sendiri yang akan rugi.

Bila ada orang berperasangka buruk pada kita, jadikan itu sebagai motivasi. Jangan hiraukan penilaian orang karena sesungguhnya yang mendatangkan pahala hanya Allah, bukan yang lain.

Anda takkan merugi sedikit pun dengan perasangka orang. Jadikan pribadi kita tetap istiqamah di jalan Allah dan Rasul-nya. Wallahu alam.

=====================

Penulis : Harun Al Rasyid

Editor : Shoim Karim