Jumadil Awwal | Saksi Bisu Keteguhan Abdullah Bin Zubair Sebagai Pejuang Islam Sejati

oleh -1.141 views
Jumadil Awwal Sebagai Saksi Bisu Keteguhan Abdullah bin Zubair Sebagai Pejuang Islam Sejati

Syaichona.net – Secara geografis Jumadil Awwal merupakan bulan pertama dari musim sejuk yang menjadi tanda dari datangnya musim dingin dan akan berakhir pada jumadil akhir.

Bulan ke-5 dalam kalender dan juga takwil Hijrah, Jumadil awwal secara etimologi, Jumad berarti kering atau beku, sedangkan Awwal berarti pertama atau permulaan.

Sebenarnya tidak ada keistimewaan  khusus dalam bulan Jumadil Awal ini, Namun banyak peristiwa yang terjadi  di bulan Jumadil Awal.

Salah satunya, bulan kelima dalam kalender Hijriyah ini menjadi saksi keteguhan seorang pejuang  islam sejati , Abdulla bin Zubair al-Awwam, dan ibunya, Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq.Dan menjadi saksi bisu kezhaliman Hajjaj bin Yusuf. Terhadap Abdullah bin Zubair dan ibunya.

Tanggal 17 Jumadil Awwal  adalah hari ketika Abdullah dieksekusi hukum mati oleh Hajjaj bin Yusuf, salah seorang punggawa yang sangat terkenal kezhalimannya.

Kronologi Pembunuhan Abdulla bin Zubair

diceritakan, beberapa tahun setelah Tragedi Karbala, pemerintah Bani Umayyah kembali membidik tokoh-tokoh muslim yang dianggap musuhnya.

Sebelum wafatnya, Mu’awiyyah telah memberikan wejangan khusus tentang tiga tokoh yang dianggap potensial akan merongrong kewibawaan pemerintahannya. “Ada tiga orang yang bisa menjadi pesaingmu,” kata Mu’awiyyah sebelum ajal menjemput nyawanya. “Husain bin Ali, Abdullah bin Zubair, dan Muhammad bin Abdurrahman. Mereka adalah orang-orang yang ucapannya akan didengar oleh kaum muslimin. Muhammad bisa diabaikan, karena ia terlalu sibuk memikirkan akhiratnya. Sedangkan Husain adalah seorang yang berhati teguh dan ikhlas. Jika ia memberontak dan kau berhasil mengalahkannya, ampunilah dia. Betapapun ia masih keluarga kita. Tapi berhati-hatilah terhadap Abdullah bin Zubair. Ia orang yang tak mengenal kompromi. Jika kau berhasil mengalahkannya, bunuhlah dia,” kata Mu’awiyyah kepada Yazid, penerus pemerintahannya.

Namun, Yazid tetaplah Yazid. Setelah pasukannya berhasil mengalahkan pengikut Sayyidina Husain, cucu sang Nabi itu pun tetap dibantai habis. Tak lama kemudian, Abdullah bin Zubair mulai dibidik melalui begundalnya yang bengis, Hajjaj bin Yusuf. Berbagai teror dilancarkan kepada cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq itu, hingga Abdullah tak bisa menahan diri dan mengangkat senjata.

Kesempatan itu digunakan Hajjaj untuk mengerahkan pasukan dan menyerang Abdullah beserta pengikutnya yang tinggal di Kota Suci Makkah. Setelah pengepungan selama berhari-hari, pertempuran meletus di sekitar Masjidil Haram, yang dijadikan basis perlindungan terakhir oleh pengikut Abdullah bin Zubair. Tanpa memandang kesuciannya, pasukan Hajjaj melontarkan manjanik-manjanik (batu lontar) ke jantung masjid paling mulia itu, hingga sebagian dinding Ka’bah berlubang.

Setelah sebagian pengikutnya gugur, pengepungan yang ketat membuat beberapa pengikutnya yang lain mulai menyerah. Dengan gundah, Abdullah bin Zubair menghadap sang bunda, yang saat itu usianya sudah mendekati 100 tahun, sakit-sakitan dan hampir buta, untuk berkeluh kesah.

Abdullah berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, orang-orang telah mengkhianatiku, bahkan juga istri dan anakku. Tidak ada yang tersisa, kecuali sedikit orang yang agaknya sudah tidak tahan untuk bisa bersabar lebih lama lagi. Sementara Hajjaj dan pasukannya menawarkan kesenangan apa saja, asal aku mau tunduk kepada mereka.”