Dibalik Kesuksesan KH. D. Zawawi Imron Menjadi Budayawan Internasional

oleh
NARA SUMBER: KH. D Zawawi Imron (baju putih) didampingi KH. Nasih Aschal Saat Menjadi Narasumber Dalam Seminar Menggali Inspirasi Bersam KH. D. Zawawi Imron

Syaichona.net-Pecatur sastra Indonesia asal pulau kerapan sapi, Sumenep, Madura, KH. D. Zawawi Imron mengemukakan terkait dengan kesuksesan dan keberhasilannya menjadi seorang penyair dan budayawan dikanca nasional bahkan internasional.

KH. D. Zawawi Imron menyampaikan perihal keberhasilannya sebagai seorang budayawan Asean Tenggara kepada puluhan santri dan mahasiswa yang ikut dalam forum seminar nasional.

Penghargaan terbaik KH. D. Zawawi Imron diraih pada tahun 2012 sebagai “The S.E.A Write Award” di Bangkok Thailand, The S.E.A. Write Award adalah penghargaan yang diberikan keluarga kerajaan Thailand untuk para penulis di kawasan ASEAN.

Baca juga : KH. D. Zawawi Imron : Devinisi Santri Menurut Perspektif Kebudayaan

karangan puisi beliau yang mendapat penghargaan The S.E.A Write Award  bertemakan seorang “Ibu”.

Penyair kondang asal madura tersebut menceritan pada seluruh audien seminar. setelah mendapatkan penghargaan tersebut  beliau ditanya oleh wartawan di Thailand tentang rahasia Zawawi Imron bisa menulis puisi hingga meraih penghargaan tingkat Asean Tenggara.

“ketika saya menulis puisi yang nulis puisi bukan zawawi imron tapi anaknya ibu saya. Kalo zawawi imron boleh menulis puisi jelek tapi anaknya ibu saya, tidak boleh. karena ibu saya mengandung saya selama sembilan bulan dan Memberi makan sampai dua puluh tahun .”lanjutnya

” Kalo saya menulis puisi jelek maka saya kasian pada ibu dan bapak. oleh karena itu saya selalu menulis puisi yang terbaik”. Kata KH. D. Zawawi Imron dalam seminar di Bangakalan.

Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2018 dengan tema “Menggapai Inspirasi bersama KH. D. Zawawi Imron” yang diselenggarakan oleh penerbitan Pondok Pesanten Syaichona Moh. Cholil Bangakalan (LP3S) bekerja sama dengan Demangan News, di Aula Pesantren. Rabu (23/10) malam.

Seminar ini tidak hanya diikuti santri putra dan putri Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil namun juga diikuti puluhan mahasiswa dan mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh. Cholil Bangkalan (STAIS) yang dari luar pesantren.

……………………………………………….

Reporter: Harun Al Rasyid