Drama ‘ Kembalinya Indonesia ke Pangkuan Ibu Pertiwi’

oleh -225 views
SALING MENYERANG: Tentara Penjajah Menyerang Mayarakat Pribumi Dengan Senjata Perang, Sedangkan Masyarakat Pribumi Memegang Bambu Runcing.

Syaichona.net-Di Penghujung bulan kemerdekaan ini Drama kemerdekaan diperagakan santri Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan dalam  rangka Resepsi Hari Ulang Tahun ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di kabupaten Bangkalan 2018, dengan tema Dzikir Dan Sholawat Kemerdekaan.

Pergelaran acara ini dilaksanakan di halaman stadion gelora Bangkalan, Kamis (30/08) malam. Yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah kabupatan Bangakalan yang bekerja sama dengan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Drama yang di sutradarai langsung oleh RKH. Fakhrillah Aschal bertajuk “Kembalinya Indonesia Kepangkuan Ibu Pertiwi” drama ini menceritakan tentang perlawan masyarakat Jawa dan Madura kepada para penjajah yang ingin merebut kembali Indonesia ke pangkuan mereka.

Namun dengan tekat dan semangat yang sangat kuat untuk mempertahankan Indonesia, Masyarakat Indonesia mencari cara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah di raih dengan susah payah puluhan tahun lamanya.

Sehingga masyarakat sangat genting dengan datangnya kembali para penjajah untuk merebut Indonesia, diwaktu yang sangat genting-gentingnya, para ulama Jawa dan Madura mengadakan musyawaroh tentang perlawanan terhadap para sekutu, dan pada akhirnya para ulama sepakat untuk memberi fatwa bahwa berperang melawan sekutu hukumnya fardu ain bagi kaum adam.

Dengan senjata seadanya mereka melawan penjajah yang menggunakan alat perang yang sangat lengkap, sedangkan masyarakat Indonesia hanya mengandalkan bambu runcing.

Berkat doa para ulama dan ilmu kanuragan yang diberikan kepada penduduk pribumi, mereka mampu mengalakan para penjajah. Itulah sekelumit jalannya cerita yang diperagakan oleh para santri untuk mengenang para pahlawan yang sudah berjuang demi kita semua.

Pertunjukkan semakin dramatis dengan suara tembakan dan letusam bom sebagai pengisi suara sehingga penonton dan hadirin dibawa ke suasana pertempuran pada waktu itu.

Bupati Bangkalan, R. Abdul Latif berharap Acara dzikir dan sholawat dilaksanakan dipenjuru kabupeten Bangkalan sebagai wahana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan wadah kebersatuan mempertegas masyarakat kabupaten Bangkalan yang dikenal sebagai pusat Nahdiyyin dan beridentitas kota dzikir dan sholawat”.(har/har)