Amalan Spesial Pulangan Haji

oleh
TIBA: Para Jamaah Haji Mulai Berdatanagn Dari Tanah Suci Mekka Madinah.

Syaichona-Setelah beberapa hari  menjalani ibadah haji di tanah suci demi menggugurkan kewajiban dan menjalankan kesunnahan.

Para Jamaah Haji Indonesia diwaktu yang sangat dekat ini harus meninggalkan tanah suci demi menapakkan kaki ditah kelahirannya dan menjumpai keluarga tercintanya.

Namun supaya haji yang dilakukan menjadi Haji Mabrur (diterima) para jemaah haji diharuskan menjalankan ibadah haji sesuai dengan aturannya dan mewujudkan subtansinya dalam laku keseharian.

Karena tidak ada balasan bagi Haji Mabrur kecuali surga. Sebagai mana yang telah disampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam ahmad , “tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga”.

Dan sebagi tambahan, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang pernah mendengar Nabi bersabda, “orang yang beribadah haji dan tidak melakukan perbuatan keji dan fasik, maka ia seperti seorang bayi yang baru lahir.”

Itulah keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada orang yang beribadah haji dengan baik dan sempurna.

Namun sharusnya bagi para jemaah haji ketika sampai di tanah air, agar tidak berhenti beramal saleh dan meneruskan amalan yang dilakukan ditanah suci. Demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada  Allah SWT. Agar hidup bertambah berarti.

Amalan yang dianjurkan saat pulang haji

Ada beberapa amalan yang dianjurkan bagi Jamaah Haji ketika sampai di kampung halamannya.

Pertanama, Jemaah Haji dianjurkan untuk membawa oleh-oleh buat keluarga yang ditinggalkan. Anjuran ini tidak hanya berlaku bagi jemah haji, tapi siapapun yang usai melakukan perjalanan disunnahkan membawa oleh-oleh sebagai buah tangan untuk anak, istri,dan saudaranya.

Kedua, pada saat sampai di kampung halaman, Jemaah haji disunnahkan sholat dua rakaat di musholla atau masjid terdekat.

Kemudian yang terakhir, keluarga atau masyarakat di lingkungan dianjurkan untuk mengadakan penyambutan terhadap jamaah haji yang baru datang. Seperti penyambutan yang dilakukan oleh para sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulallah SAW dari safar atau ketika masuk kesebuah kota.

Sebagaimana hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau menceritakan,

لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَكَّةَ اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَحَمَلَ وَاحِداً بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di Mekah, anak-anak kecil bani Abdul Muthalib menyambut kedatangan beliau. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong salah satu dari mereka dan yang lain mengikuti dari belakang. (HR. Bukhari 1798).

Kemudian dianjurkan mengadakan Naqi’ah, yaitu perhelatan yang ditujukan untuk menyambut kedatangan orang yang baru tiba dari perjalanan jauh. Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ .

“Bahwasanya Rasululloh Shalallohu alaihi wa Sallam tatkala beliau tiba di Madinah dari Safar beliau menyembelih onta atau sapi.” (HR Bukhari)

Terkait dengan pengadaan selamatan ini bisa saja dari pihak keluarga, masyarakat, atau orang yang baru pulang dari haji.

Setelah selamatan, orang yang menyambut kedatangan jamaah haji dianjurkan menjabat tangan dan mendoakan Jemaah haji agar  haji dan umrah mereka diterima oleh Allah SWT, dosanya diapuni oleh Allah SWT, dan biaya perjalanan yang dikeluarkannya diganti oleh Allah SWT.

Seperti yang disampaikan oleh para ulama yang bermazhab Syafi’i, yang disebut dalam Al Mausu’ah Al Fiqiah,

وذهب الشافعية إلى أنه يندب أن يقال للحاج أو المعتمر تقبل الله حجك أو عمرتك وغفر ذنبك وأخلف عليك نفقتك. اهـ

“Syafi’iyah berpendapat bahwa dianjurkan (bagi kita) untuk mendoakan orang yang menunaikan haji atau umroh (Semoga Allah menerima ibadahmu, memberikan ganjaran yang besar kepadamu, dan mengganti biaya yang telah engkau keluarkan untuk ibadahmu. Wallahu a’lam(Harun Al Rasyid)